Bocoran Dokumen Rahasia Strategi Saudi untuk Hancurkan Yaman

0
286

LiputanIslam.com – Situs berita saluran Al-Jazeera yang berbasis di Qatar, Ahad 2 Agustus 2020, mengungkap dokumen rahasia Arab Saudi setebal 162 halaman yang didapatnya. Dokumen itu mengandung berbagai informasi penting mengenai kebijakan rezim Saudi dalam memperlakukan krisis dan isu Yaman sejak dimulainya revolusi pemuda pada tahun 2011.

Dokumen itu terkait dengan berbagai periode penting dan sensitif di Yaman yang memicu pecahnya perang pada tahun 2015, berkaitan pula dengan berbagai isu yang masih aktual sampai sekarang, dan memperlihatkan sikap Riyadh terhadap berbagai elemen kekuatan serta tokoh separatis Yaman selatan.

Bocoran itu menguak agenda Arab Saudi, terutama setelah pekan lalu menyajikan versi terbaru perjanjian Riyadh antara pemerintah presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi dan Dewan Transisi Selatan (STC) yang didukung Uni Emirat Arab (UEA).

Dokumen itu mencakup beberapa isu krusial  antara lain sebagai berikut;

Separatisme Selatan

Dokumen itu mengungkapkan bahwa Riyadh memandang separatisme Yaman selatan sebagai salah satu opsi utama penyelesaian “masalah selatan”, selain menawarkan opsi federal, dan berusaha mengeksploitasi situasi dan protes di selatan semata demi melayani kepentingan Saudi.

Saudi berusaha mendukung dan menarik beberapa entitas selatan tanpa sepengetahuan pemerintahan Hadi, merekrut beberapa pemimpin selatan untuk memantau pergerakan dan posisi masing-masing pihak di selatan dengan imbalan materi, sebagaimana terlihat dalam dokumen Kantor Menteri Dalam Negeri untuk otoritas imigrasi No. (17146) tanggal 2/15/1433 H (1/1/2012 M).

Dukungan kepada Entitas-entitas Adat

Dokumen itu mengungkap secara jelas strategi Arab Saudi, yang menjurus pada disintegrasi Yaman dengan mendukung berbagai entitas, bukan pemerintahnya, untuk memastikan bahwa entitas suku dan politik dapat senantiasa berperan sebagai alat penekan dan pengaruh yang paralel dengan kekuatan dan pengaruh pemerintah. Di saat yang sama, Saudi juga menghasut sebagian suku agar berkonflik dengan sebagian yang lain, demi memuluskan kepentingan Saudi di Yaman.

Sebuah dokumen berjudul “Sangat rahasia, Risalah Rapat Komisi Penaksiran Alokasi Para Sesepuh Suku  Yaman” dari  Kantor Asisten Menteri Dalam Negeri untuk Urusan Keamanan Saudi menyingkap upaya intensifnya untuk memperkuat otoritas kesukuan dengan memberikan dukungan materi kepada beberapa sesepuh suku sebagai imbalan atas kesiapan mereka menerapkan agenda dan kebijakan Riyadh.

Menurut dokumen itu, Saudi mempersenjatai sejumlah suku untuk melawan berbagai suku dan entitas lain yang dinilai anti-Saudi. Saudi juga berusaha memastikan suku-suku yang didukungnya melaksanakan agenda Saudi  di luar kedaulatan dan otoritas negara Yaman.

Dalam dokumen rahasia itu Riyadh tampak berkomunikasi langsung dengan para tetua suku untuk mengelola dan melaksanakan operasi personal di luar wewenang pemerintah. Meski dapat berkoordinasi dengan mereka melalui pemerintah Yaman, tapi rezim Saudi sengaja tidak melakukannya dengan cara demikian karena memang bermaksud melemahkan otoritas negara dengan memberikan dukungan dana dan senjata kepada kelompok-kelompok adat demi memperkuat  taring mereka.

Peninjauan Ulang Aliansi

Dalam telegram menteri luar negeri Saudi saat itu, Saud Al-Faisal, yang ditujukan kepada Raja Saudi pada 25 Jumadil  Awwal 1433 H (2012 M), Al-Faisal menyatakan bahwa hubungan Kerajaan dengan Yaman didasarkan pada tetua suku namun tanpa “penilaian realistis atas kedudukan dan kemampuan mereka.”

Dia menambahkan bahwa perang di Saada melawan Houthi membuktikan bahwa “pengaruh para sesepuh itu kecil, dan tak dapat melindungi keamanan dan keselamatan Kerajaan (Saudi). Sebaliknya, mereka menggunakan masalah ini dalam koordinasinya dengan rezim sebelumnya sebagai alat untuk memeras dan mendapatkan dana.”

Dalam telegramnya itu , Al-Faisal menyerukan pengubahan basis aliansi Saudi di Yaman, dan membuka diri di depan masyarakat sipil dan partai-partai sesuai perubahan yang dipicu oleh revolusi Yaman.

Pembiaran Kelompok Houthi

Dokumen tersebut menunjukkan bahwa Saudi mengetahui semua gerakan Houthi (Ansarullah) lebih dari dua tahun sebelum mereka menguasai Sanaa, ibu kota Yaman, dan intelijennya memantau niat dan rencana Houthi mengendalikan Sanaa dengan dukungan mendiang mantan presiden Ali Abdullah Saleh, tapi Saudi membiarkan milisi Houthi dan Saleh bergerak maju dan menjatuhkan pemerintahan.

Sebuah laporan yang diajukan oleh kepala intelijen Saudi pada bulan Maret 2012 membeberkan semua gerakan, bidang kendali,  situs-situs penyimpanan senjata, dan rute penyelundupan senjata Houthi, peran Saleh dalam mendukung Houthi untuk merebut kendali Sanaa, dan jumlah dana yang dihabiskan para pemimpin Houthi untuk membiayai gerakan itu.

Dokumen itu menunjukkan bahwa pemerintah Saudi mengabaikan rekomendasi kepala intelijennya mengenai perlunya bertindak untuk mencegah gerak maju Houthi. Rezim Riyadh sengaja membiarkan Houthi masuk ke Sanaa supaya kemudian menjadi alasan bagi Saudi untuk mengobarkan perang, menghancurkan Yaman, dan memaksakan intervensi militer secara langsung di Yaman. (mm/aljazeera)

Baca juga:

[Video]: Pasukan Yaman Tembak Jatuh Drone Buatan AS di Dekat Perbatasan Saudi

Pasukan Hadi Bertempur Sengit dengan STC di Yaman

DISKUSI: