Arab Teluk, antara Berdamai dan Menjilat Israel

0
272

LiputanIslam.com – Berbagai peristiwa langka memang sudah pasti terjadi menyusul normalisasi hubungan sejumlah negara Arab Teluk Persia dengan Rezim Zionis Israel. Namun demikian, hal yang belum terbayang sebelumnya ialah adanya kunjungan delegasi warga negara Uni Emirat Arab (UEA) ke Masjid Al-Aqsa yang diduduki Israel, dan melakukan shalat di sana di bawah perlindungan pasukan keamanan Israel yang membukakan pintu kepada mereka semata demi melincinkan kehendak Israel.

Hanya dalam hitungan hari, perjanjian damai yang menipu dan menyesatkan telah mengubah segala pertimbangan, dan mengubah Israel dari musuh menjadi sahabat dan  Palestina dari kawan menjadi musuh bagi sebagian negara Arab. UEA dan Bahrain bahkan tampak sedemikian menjilat Israel dan mencampakkan rasa persaudaraan Arab dan Islam sehingga menunjukkan betapa sikap mereka sebelumnya yang mengutuk kejahatan rezim pendudukan Israel ternyata tidaklah sepenuhnya jujur.

Rezim UEA mengklaim perjanjian damai dengan Israel berbalas penghentian proses pencaplokan bagian-bagian Tepi Barat dan Lembah Yordania. Nyatanya, Perdana Menteri Israel yang sudah menjadi sahabat UEA menepis klaim itu dan menegaskan bahwa proses itu bukan dihentikan, melainkan ditunda. Parahnya lagi, belakangan ini dia malah mengumumkan pembangunan 5000 unit permukiman Zionis tepat di saat Knesset mendiskusikan perjanjian damai Israel-UEA dan kemudian sepakat mengukuhkannya.

Israel tak segan-segan merendahkan bangsa-bangsa Arab dan Muslim, terutama para penormalisasi hubungan dengan Israel. Israel hanya siap menerima tanpa mau memberi, dan seakan mengingatkan bagaimana Bani Israil terdahulu sedemikian keras kepala sehingga bahkan bertahun-tahun menggugat Allah dan Nabi Musa as hanya soal warna seekor sapi betina.

Mesir sudah lama menjalin perjanjian damai dengan Israel, namun tak ada penduduk dan anak-anak kecilnya sampai sedemikian menjilat Israel dengan cara mengenakan kaus bergambar bendera Israel. Bahkan, jika orang Mesir segera ditangkap oleh aparat jika mendatangi Kedutaan Besar Israel untuk meminta visa. Dia akan dikenai hukuman dengan tuduhan sebagai pengkhianat. Meski sudah 30 tahun menjalin perjanjian damai dengan Israel, bangsa Mesir sampai sekarang masih menganggap Israel sebagai musuh nomor wahid.

Pemerintah Yordania juga menjalin perjanjian damai Wadi Arabi dengan Israel, sebuah perjanjian yang juga merendahkan pihak Yordania. Tapi belum pernah ada kejadian orang Israel membuka Restoran Kosher di jantung kota Amman, ibu kota Yordania, atau menjadi tuan rumah bagi para artis dan budayawan Israel. Yordania hanya pernah menjalin perjanjian impor gas, tapi kemudian terguncang karena memang dipandang tercela sehingga tak berlangsung lama.

Zona udara Bahrain, UEA, dan Arab Saudi sekarang sudah terbuka bagi pesawat sipil Israel, dan ada saatnya nanti juga akan dibuka untuk pesawat militer rezim penjajah Palestina tersebut. Di sisi lain, kapal-kapal Bahrain dan UEA sudah berdatangan dan merapat ke Pelabuhan Haifa di Israel untuk membongkar muatannya. Selanjutnya kapal-kapal Israel juga bakal merapat ke Pelabuhan Jebel Ali di UEA, Pelabuhan Fujairan di Saudi, dan Pelabuhan Manama di Bahrain, dan dari situ komoditas Israel akan membanjiri negara-negara Arab atau bahkan juga semua negara Asia timur setelah komoditas itu berganti nama negara asal, sebagai trik dukungan antusias kepada ekonomi Israel yang bermasalah.

Semakin hari negara-negara Arab pesisir Teluk Persia tampak semakin norak dalam menjilat Israel. Dalam perkembangan terbaru, para penulis dan pejabat negara-negara itu mulai pasang badan di media Israel. Mereka memojokkan bangsa Palestina, memperolok hak pulang pengungsi Palestina, dan bahkan menyebut perjanjian damai dengan Israel bertujuan memerangi apa yang mereka sebut ekstremisme dan terorisme, dua label yang mereka kaitan dengan perjuangan bangsa Palestina dan Arab melawan pendudukan Israel.

Di mata rezim-rezim Arab Teluk itu Israel seolah penguasa adil nan bijaksana di Timur Tengah, yang seolah tak pernah menebar pembantaian massal di Tepi Barat, Jalur Gaza, Libanon selatan, Bahr al-Baqar di Mesir, dan Quneitra di Suriah.

Alhasil, rezim-rezim Arab Teluk itu sudah tak lagi menyisakan kehormatannya sebagai bangsa Arab dan bagian dari umat Islam. Karena itu, cepat atau lambat mereka akan mendapat perlawanan dari rakyatnya.

Apa yang terjadi di Mauritania semestinya menjadi pelajaran bagi mereka, ketika rakyat negara itu bukan saja menutup Kedubes Israel di Nouakchott dan mengusir para diplomatnya, melainkan juga menghancurkan bangunan kantor kedubes itu dan meratakannya dengan tanah tanpa bekas.

Al-Quds (Yerussalem) dan Masjid Al-Aqsa beserta semua warisan budaya Arab, Islam dan kemanusiaannya pasti akan kembali kepada pemiliknya yang sah, meskipun rezim-rezim Arab Teluk itu memandangnya mustahil. (mm/raialyoum)

Baca juga:

Bahrain dan Israel Resmikan Hubungan Diplomatiknya dengan Israel, Penduduk Berunjuk Rasa

Israel Setujui Pembangunan Ribuan Unit Pemukiman Ilegal, Ini Respon Palestina

DISKUSI: