Blunder Kampanye Islamfobia Presiden Prancis

0
248

LiputanIslam.com –  Presiden Prancis Emmanuel Macron menimbulkan heboh yang berkepanjangan sejak dia melontarkan pembelaan terhadap para penista kehormatan Nabi Muhammad saw pada 2 Oktober lalu. Dia membangkitkan kemarahan bukan hanya terhadap umat Islam di dalam negeri Prancis sendiri, melainkan juga di seluruh penjuru Dunia Islam.

Macron menggalang kampanye Islamfobia di Prancis manakala dia membela aksi majalah satir Charlie Hebdo menghina Nabi Muhammad saw dengan dalih bahwa kebebasan berekspresi adalah yang tersuci dan di atas segalanya.

Tak cukup dengan itu, Macron seakan sengaja ingin memotivasi lagi gerakan penistaan terhadap Islam ketika dia mengomentari kasus pembunuhan Samuel Paty, guru sekolah Prancis yang telah memperlihatkan kepada siswanya karikatur yang menghina Nabi Muhammad saw.

“Dia dibunuh karena para Islamis ingin menguasai masa depan kami dan tahu bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka inginkan di hadapan pahlawan yang percaya diri seperti dia,” kata Macron. Dia juga tak segan-segan menyebut Islam sebagai “agama yang sekarang mengalami krisis di semua tempat di dunia.”

Bukannya mengutuk para ekstremis yang tak kenal agama apapun, Macron malah terjebak dalam pusaran Islamfobia, fenomena yang sudah tak asing lagi di dunia Barat.

Sebelum menyorot apa segenarnya tujuan di balik kampanye Islamfobia Macron, patut disebutkan bahwa pemimpin negara Barat manapun tak akan berani segegabah itu bertindak lancang terhadap Islam seandainya sebagian negara Arab tidak membebek kepada Amerika Serikat (AS) dan berkompromi dengan Rezim Zionis Israel.

Kebersamaan aksi Macron dengan gempita isu normalisasi hubungan Uni Emirat Arab, Bahrain, dan belakangan ini Sudan dengan Israel tampak bukan kebetulan belaka, apalagi negara-negara itu tidak mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam kelancangan Macron.

Berbagai lembaga dan ormas keislaman di Prancis tentu menyayangkan sikap Macron, memandangnya hanya akan memperparah maraknya ujaran kebencian terhadap Islam, semakin mengaburkan kesenjangan antara Islam dan ekstremisme sebagian kecil pemeluknya, dan pada gilirannya semakin menyuburkan kekerasan.

Sedangkan di dunia Islam, berbagai negara dan organisasi Islam juga telah menyuarakan kecaman mereka terhadap Macron, termasuk Turki, Pakistan, Iran, Suriah, Libanon, dan Universitas Al-Azhar di Mesir.

Kasus ini bahkan memperburuk hubungan Turki dengan Prancis hingga ke tahap aksi saling cibir antar pribadi presiden. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendesak Macron untuk memeriksa kesehatan mentalnya, dan mengaku heran melihat perangai Macron yang tak beradab terhadap agama yang dianut oleh miliaran umat di dunia. Prancis lantas menarik pulang duta besarnya dari Ankara menyusul kecaman Erdogan tersebut.

Di tingkat akar rumput umat Islam, media sosial diriuhkan oleh tagar seruan boikot produk Prancis sehingga menjadi topik paing trending di sebagian besar negara Arab, demikian pula tagar penghinaan Macron terhadap Nabi saw, dan kecaman warganet terhadap karikatur penistaan Nabi saw.

Kampanye boikot produk Prancis tentu akan sangat memberatkan Prancis. Memusuhi dan melukai perasaan miliaran umat Islam di dunia, jelas bukanlah tindakan yang bijak, apalagi di tengah krisis dan pandemi Covid-19, karena resikonya memang akan sangat berat. Karena itu, Kemlu Prancis lantas meminta umat dan Dunia Islam mengurungkan aksi boikot produk Prancis.

Adapun mengapa Macron sedemikian nekat mengusik perasaan umat Islam, para pemerhati menyebutnya erat kaitannya dengan upaya Macron mengalihkan perhatian publik dari maraknya aksi demo berkelanjutan terhadap kebijakan Macron dan buruknya kondisi ekonomi Prancis.

Menurut mereka, Macron sedang menerapkan kebiasaan lama para politik Barat, yaitu menjadikan Islamfobia sebagai bahan untuk mendapat dukungan ekstremis kanan demi meraih tujuan politik dan lolos dari dilema dalam negeri ketika popularitasnya menurun dan terbelit banyak masalah ekonomi. Demi semua ini, Macron rela mengorbankan kepentingan politik dan ekonominya luar negerinya sehingga tentu akan kontraproduktif bagi upaya perbaikan kondisi ekonomi Prancis. (mm)

Baca juga:

Gunakan Bahasa Arab, Presiden Prancis Bersikukuh Bela Penista Islam

.

 

DISKUSI: