Sepakbola Piala Menpora dan Upaya Mendobrak Mitos

0
3249

LiputanIslam.com –Akhirnya, sepakbola profesional kita mulai lagi bergulir setelah vakum sekitar setahun. Ada perasaan lega dan haru  yang muncul dari wajah-wajah penyelenggara dan juga para pemain saat laga pertama Piala Menpora resmi digelar. Indonesia akhirnya cukup punya kepercayaan diri menyelenggarakan event ini; bahwa kita mampu menyelenggarakannya dengan protokol kesehatan yang ketat, sehingga pergelaran pertandingan “olahraga rakyat” ini tidak sampai menjadi cluster penyebaran Covid-19.

Sepakbola memang olahraga rakyat yang punya banyak dimensi lain di luar olahraga. Sepakbola sudah menjadi salah satu penggerak ekonomi, mobilitas sosial, dan alat pemersatu bangsa. Karena itu, ketika sepakbola nasional dihentikan karena Covid-19, banyak sektor yang ikut terpukul dan menjadi tidak bergairah.

Alasan penghentian kegiatan sepakbola nasional sebenarnya sama saja dengan alasan yang dikemukakan terkait dengan penghentian berbagai aktivitas sosial ekonomi lainnya, yaitu menghindari aktivitas apapun yang berpotensi mengundang kerumunan. Sepakbola memang menjadi magnet kerumunan. Barangkali, kerumunan yang diciptakan oleh pertandingan sepakbola di negeri kita ini hanya bisa dikalahkan oleh kerumunan dari peristiwa politik seperti kampanye atau demonstrasi.

Masalahnya, di negara-negara Eropa, di mana dampak dari pandemi Covid ini jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan Indonesia (kelihatan dari kasus infeksi dan juga angka kematian), penyelenggaraan pertandingan sepakbola profesional sudah lama diperbolehkan. Inggris, Spanyol, dan Italia yang hingga kini termasuk salah satu pusat pandemi Covid-19 dunia, adalah negara-negara yang sudah lama mengizinkan pertandingan sepakbola, tentu saja dengan syarat protokol kesehatan yang ketat: jumlah yang hadir di stadion maksimal hanya 300 orang, semua orang harus menjaga jarak, tetap menggunakan masker bagi yang tidak bermain, dan lain-lain. Faktanya, di Eropa, pertandingan sepakbola tidak pernah terdeteksi sebagai cluster penularan Covid-19.

Lalu, mengapa Indonesia baru sekarang bisa menggelar pertandingan sepakbola? Itu tentu tak lepas dari adanya kekhawatiran bahwa masyarakat Indonesia, khususnya para suporter sepakbola, tidak bisa “sedisiplin” negara-negara Eropa dalam menaati protokol kesehatan. Lalu, dikemukakanlah berbagai “insiden” kerusuhan dan ketidaktertiban yang ditunjukkan para suporter sepakbola Indonesia, seperti meneriakkan yel-yel penghinaan, menyalakan flare yang sebenarnya dilarang, membawa benda tajam ke stadion, hingga berbagai tawuran yang mengakibatkan korban jiwa. Logikanya, di saat normal saja susah diatur, apalagi kalau diharuskan untuk menaati hal-hal baru dalam situasi normal.

Sejauh ini, kekhawatiran itu tidak terbukti. Penyelenggaraan pertandingan sepakbola Piala Menpora yang sudah menggelar pertandingan di hari pertama sama sekali tidak menciptakan kerumunan. Tidak ada pergerakan massal suporter yang memaksa mendatangi stadion, atau menggelar nonton bareng. Mudah-mudahan, situasi ini bisa tetap terjaga.

Terjaganya situasi ini sangat penting untuk menjawab berbagai tantangan dan keraguan yang sangat mungkin lebih mengarah kepada mitos, alih-alih fakta. Terkadang kita memang terlalu under-estimate terhadap kemampuan bangsa kita ini, dan di sisi lain, masih sering terjebak pada mental inferior terhadap Barat. Misalnya, soal kecenderungan tawuran hingga menimbulkan korban nyawa, itu sebenarnya adalah fenomena yang lebih banyak terjadi di Barat ketimbang di Indonesia. Penggemar sepakbola pasti ingat tragedi Heysel tahun 1985. Saat itu, 37 suportes tewas, dan lebih dari 600 lainnya terluka. Hampir semua korban itu adalah suporter sepakbola Juventus, Italia. Mereka dibantai suporter Liverpool, Inggris.

Ah, Inggris lagi! Ingatan kita pasti masih dihantui oleh tragedi di mana para atlet kita diusir dari turnamen All England 2021. Para atlet pahlawan bangsa kita diperlakukan dengan cara sangat tidak adil oleh penyelenggaran turnamen. Bangsa kita yang terbukti lebih mampu mengendalikan Covid-19 (sekali lagi, lihat dan bandingkan angka-angka infeksi dan kematian akibat Covid-19), dipandang sebelah mata oleh negara yang kasus Covid-nya merajalela seperti Inggris. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: