ISIS, Islamophobia, dan Kerusuhan di India

0
240

LiputanIslam.com –Kerusuhan sektarian yang melanda India pastilah terkait dengan konteks global, khususnya kemunculan kelompok teroris semisal ISIS. Sebagaimana yang diberitakan sebelumnya, kerusuhan melanda ibu kota New Delhi India sejak pekan lalu. Kerusuhan dikabarkan telah menewaskan lebih dari 42 warga Muslim. Kerusuhan ini dipicu oleh UU Kewarganegaraan kontroversial, Citizenship Amendment Act (CAA) yang disahkan oleh Perdana Menteri Narendra Modi pada 2019. Menariknya, bentrokan semakin memburuk seiring dengan lawatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump selama dua hari ke India.

Secara politis, kerusuhan yang terjadi di India itu sangat terhubung erat dengan pandangan politik Perdana Menteri Modi yang tak pernah menutup-nutupi dirinya sebagai seorang nasionalis Hindu. Sejak terpilih memimpin India 2014 lalu, Modi menyusun ulang wajah India, dari demokrasi sekuler menjadi bangsa Hindu yang mendominasi minoritas. Akibatnya, terjadilah diskriminasi terhadap warga Muslim yang berjumlah sekitar 200 juta di negara itu.

Cara pandang Modi ini memang kontroversial. Akan tetapi, Modi sebenarnya tidak sendirian. Di banyak negara lainnya di dunia, para pemimpin mereka akhir-akhir ini memang cenderung memandang negatif dan mencurigai ummat Islam. Hal ini tentulah tak bisa lepas dari trend Islamophobia atau ketakutan terhadap apa saja yang berbau Islam. Maka, kelompok-kelompok teroris semacam ISIS jelas punya andil di dalamnya.

Salah satu akibat sangat buruk dari kemunculan ISIS adalah munculnya kesan kuat bahwa ummat Islam itu cenderung jahat dan kejam. Kata “Islam” mendapatkan framing sebagai agama yang akrab dengan terorisme. Khusus bagi India, mereka memang punya memori tentang aksi-aksi teror menggemparkan yang dilakukan kelompok Lashkar-e-Taiba. Misalnya, pada tanggal 29 Oktober 2005, kelompok yang berafiliasi dengan Al-Qaeda ini meledakkan tiga buah bom di New Delhi. Akibatnya, 62 orang tewas dan 210 orang lainnya luka-luka. Bom-bom itu meledak hanya dua hari sebelum digelarnya festival keagamaan Hindu Diwali.

Setahun berikutnya, tepatnya pada tanggal 11 Juli 2006, tujuh serangan bom terjadi di kereta api Mumbai, India. Sebanyak 209 orang dilaporkan tewas dan 700 lainnya luka-luka. Dan dua tahun berikutnya, yaitu pada tanggal 26-29 November 2008, Lashkar-e-Taiba kembali melakukan 12 serangan terkordinasi selama empat hari di kota yang sama. Serangan itu menewaskan 164 orang dan melukai 308 orang lainnya.

Adanya fakta-fakta kekerasan yang dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai orang Islan itu tidak berarti bahwa apa yang dilakukan Modi adalah sebuah kebenaran. Pertama, kekerasan tersebut hanya dilakukan oleh sekelompok kecil ummat Islam. Sebagian besar ummat Islam menyatakan penolakan bahkan mengutuk perilaku keji tersebut. Tentu adalah sebuah kesalahan besar jika gara-gara ulah segelintir orang itu, seluruh ummat Islam harus menanggung akibatnya.

Lebih jauh lagi, jika kita telaah dengan seksama, kemunculan kelompok-kelompok itu tak bisa dilepaskan dari peran AS dan sekutu-sekutunya. Merakalah yang menginisiasi dan mendanai kelompok-kelompok teroris tersebut. Kemunculan kelompok semacam ISIS memang secara sengaja didesain oleh AS dalam rangka menciptakan wajah dan citra Islam yang buruk. Dan sayangnya, selalu ada saja orang Islam yang masuk ke dalam perangkap AS itu.

Kita tentu mengutuk kerusuhan di India seraya menuntut pemerintah India bertanggung jawab. Akan tetapi, sebagai ummat Islam, kita juga wajib melakukan introspeksi, supaya jangan dengan mudahnya terprovokasi oleh pihak-pihak yang justru punya kepentingan untuk menghancurkan agama Islam. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: