Barangkali Kita Memang Belum Merdeka

0
610

LiputanIslam.com –Hari ini, 17 Agustus 2021, kita merayakan hari kemerdekaan yang ke-76. Kita layak berbahagia, karena 76 tahun sebelumnya, kita tidak punya identitas kebangsaan. Saat itu, segala macam hal yang terkait dengan nasib kita harus atas seizin mereka yang berkuasa atas bangsa kita, yaitu para penjajah. Di saat menjadi kawasan koloni dari bangsa lain, segala macam keburukan menimpa bangsa kita. Kita tidak bisa menjalankan roda ekonomi, membangun infrastruktur, menjalankan program-program pendidikan, mengembangkan budaya, dan lain sebagainya.

Jadi, kebahagiaan yang muncul, dan perayaan yang kita lakukan atas hari kemerdekaan tanggal 17 Agustus, terkait dengan satu perubahan revolusioner ke arah kebaikan, di mana, sebelumnya, kita berada pada situasi yang sangat buruk. Situasi yang buruk itu muncul dari status dependensi kita, atau kebergantungan sepenuhnya kita, kepada pihak yang menjajah kita. Sedangkan situasi baik yang kita rayakan saat ini adalah independensi kita, yaitu keberlepasan kita dari kebergantungan kepada pihak yang menjajah.

Dengan perspektif seperti ini, pertanyaan pentingnya adalah: apakah kita saat ini sudah betul-betul terlepas dari kebergantungan kepada pihak lain? Apakah dalam hal pembangunan ekonomi, pengembangan budaya, pendidikan, dan berbagai aspek penting kehidupan berbangsa dan bernegara, kita sudah betul-betul punya posisi yang independen? Jika parameternya adalah hal-hal yang bersifat legal-formal, jawaban atas pertanyaan penting ini adalah “iya”. Tapi, jika yang kita kejar adalah hal yang sifatnya substantif, jawabannya menjadi tidak sederhana.

Jika kita mengaitkan pertanyaan ini dengan teori post-kolonialisme, jawabannya bisa menjadi  sangat miris. Sebagaimana yang disampaikan oleh salah seorang penggagas teori ini, Edward Said, para penjajah sebenanya tetap ingin mempertahankan kolonialisme mereka dengan cara yang lain, tidak lagi dengan cara penjajahan fisik, melainkan dengan cara-cara non fisik. Dalam konteks post-kolonialisme, negara-negara bekas jajahan diberikan kebebasan dan kemerdekaan secara legal-formal. Akan tetapi, negara-negara tersebut tetap harus bergantung kepada pihak luar, yaitu negara-negara bekas penjajah. Negara boleh merdeka, tapi kekayaan alam di negara tersebut masih bisa dieksploitasi untuk kepentingan pihak-pihak luar. Jadi, dalam konteks post-kolonialisme, negara-negara besar –yang umumnya adalah bekas penjajah– sampai saat ini masih terus melakukan berbagai upaya penjajahan gaya baru.

Lalu, kembali kepada pertanyaan penting kita: apakah saat ini kita saat sudah betul-betul merdeka? Tampaknya hal ini harus terus kita renungkan. Kita tidak boleh lengah dengan fakta bahwa ada banyak pihak yang terus berusaha merampas kemerdekaan kita secara substantif. Kita tidak boleh lengah dan bergembira hanya dengan status legal-formal kemerdekaan bangsa kita, seandainya saja, secara substantif, kita masih serba bergantung kepada pihak luar, dan masih banyak kekayaan alam bangsa kita yang dieksploitasi, dirampok, dan dibawa keluar.

Semoga, Indonesia tetap jaya selamanya, dan bangsa ini bisa segera memperoleh apa yang menjadi cita-cita kemerdekaan sebagaimana yang dirumuskan oleh para pendiri bangsa ini. (os/editorial/liputanislam)

DISKUSI: