Tradisi Tolak Bala untuk Tangkal Marabahaya

0
115

Sumber: 1001indonesia

LiputanIslam.com — Tradisi tolak bala merupakan tradisi masyarakat Nusantara di berbagai daerah untuk menangkal marabahaya. Bentuk tradisi ini bermacam-macam, bahkan ada yang unik. Misalnya, di Desa Pelemsari, Kecamatan Sumber, Rembang, tradisi tolak bala dilaksanakan dengan upacara tawur nasi. Dalam upacara tersebut, para pemuda saling melempar nasi satu sama lain.

Di Banyuwangi, upacara tolak bala dilakukan dengan arak-arakan barong dan upacara kebo-beboan. Di Lombok, upacara memohon keselamatan dilakukan dengan perang api. Di Riau, Suku Petalangan mengadakan upacara belian untuk menolak wabah penyakit dan mengobati orang sakit. Di Jawa, orang-orang memohon keselamatan dengan upacara ruwatan.

Tradisi ini sangat dekat dengan alam. Tradisi ini berangkat dari pemahaman bahwa jika ingin hidup selamat, manusia harus menjaga keselarasan dengan alam.

Menjaga dan selaras dengan alam ini bisa dilakukan dengan cara menggunakan alam seperlunya dan tidak berlebihan. Sehingga sebagai timbal balik, alam pun akan memberikan banyak hal yang berguna untuk manusia.

Hidup selaras dengan alam dapat memberikan dampak kebaikan pada manusia. Dan sebaliknya, hidup tidak selaras dengan alam akan merusak alam dan memberikan keburukan pada kehidupan manusia.

Kesadaran pada hidup selaras dengan alam lah yang menginspirasi masyarakat jaman dulu untuk melahirkan tradisi tolak bala. Namun bagi sebagian masyarakat modern, tradisi ini sudah jarang diikuti karena dianggap tidak rasional. Bagi mereka, tidak ada jaminan bahwa dengan menggelar upacara tolak bala, wabah penyakit akan hilang, bencana alam akan tidak terjadi lagi, musim kemarau yang berkepanjangan akan segera berakhir.

Baca juga: Masjid Menara Kudus, Simbol Harmoni Budaya Islam-Hindu

Bagi masyarakat jaman dulu dan masyarakat yang masih meyakini tradisi tolak bala, tradisi tersebut dapat menjadi sarana komunikasi manusia dengan alam. Karena alam pun memiliki jiwa dan hidup sebagaimana manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat melihat tanda yang ditunjukkan oleh alam, sehingga manusia lebih bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi.

Ritual tolak bala merupakan upaya manusia untuk menjaga keselarasan dengan alam. Sebagai upaya minta maaf jika mereka sudah melakukan sesuatu yang tidak selaras dengan alam, baik yang disengaja ataupun tidak. Sebagai ungkapan terima kasih atas berkah alam pada kehidupan mereka. Dan, sebagai harapan agar mereka terus diberi berkah yang sama di kemudian hari. (Ay/1001indonesia)

DISKUSI: