Mapalus, Budaya Gotong-royong Suku Minahasa

0
196

Sumber: Sulut Times

LiputanIslam.com — Ketika sikap individualis semakin meluas di kalangan masyarakat, apalagi khususnya masyarakat perkotaan, masih ada sekelompok masyarakat di Sulawesi Utara (suku Minahasa) yang masih memegang teguh prinsip gotong-royong dalam berbudaya. Budaya dengan prinsip utama gotong-royong tersebut bernama Mapalus.

Mapalus adalah suatu sistem kerja sama dalam budaya Suku Minahasa. Secara harfiah Mapalus merupakan turunan kata palus (Renwarin, 2019: 178-179). Palus bisa berarti jerat atau jaring (dalam keadaan sudah menangkap mangsanya). Palus juga berarti mencurahkan, membuang; misalnya beras terbuang (meikapalus). Yang terakhir, Palus juga berarti mengena, mendapat (Y. v. d. Wouw 1973 dan W. Lundstrom-Burghoorn 1981:164). Sehingga kata palus menunjukkan tiga hal sekaligus.

Pertama, semangat, kerja sama, gotong-royong.

Kedua, kelompok orang yang berkumpul dalam organisasi.

Ketiga, kegiatan kelompok yang terstruktur, yakni tukar-menukar prestasi kerja atau barang, seperti makanan dan uang.

Pada awalnya, kegiatan Mapalus khusus dilakukan untuk bidang pertanian, mulai dari membuka lahan sampai memetik hasil panen.

Seiring perkembangan waktu, tradisi gotong royong ini tidak hanya terbatas di bidang pertanian, melainkan juga diterapkan dalam setiap kegiatan yang bersifat sosial kemasyarakatan, seperti kegiatan-kegiatan upacara adat, mendirikan rumah, membuat perahu, perkawinan, kematian, dan sebagainya, baik kegiatan suka maupun duka.

Budaya Mapalus memiliki nilai-nilai resiprokal, partisipatif, solidaritas, responsibilitas, gotong royong, kepemimpinan, disiplin, transparansi, kesetaraan, dan rasa saling percaya.

Masyarakat melakukan budaya ini dengan penuh ketulusan, penuh kesadaran, dan tanggung jawab untuk saling menghidupkan dan menyejahterakan setiap orang dalam komunitasnya.

Dalam pelaksanaannya pun, Mapalus dilakukan secara spontan tanpa mengharap balasan atau bayaran. Contohnya ketika ada keluarga yang akan membangun rumah atau membuka lahan pertanian baru atau kegiatan-kegiatan lain yang bukan untuk kepentingan masyarakat umum, orang-orang di sekitarnya akan membantu tanpa harus diminta terlebih dahulu. Begitu terlihat banyak orang sedang bekerja, secara spontan mereka akan melibatkan diri dalam pekerjaan tersebut bersama-sama.

Baca juga: Tradisi Tolak Bala untuk Tangkal Marabahaya

Namun seiring perkembangan zaman, ada sistem upah terhadap orang yang membantu pekerjaan. Upah yang diberikan bisa berupa uang, bahan, ataupun makanan. Upah tersebut diberikan oleh pihak yang menggunakan tenaga orang lain kepada orang-orang yang telah membantunya sebagai ungkapan rasa terima kasih.

Meskipun Mapalus dengan sistem upah ini jarang dilakukan. Orang Minahasa, terutama yang bermukim di pedesaan, lebih sering terlibat dalam Mapalus yang spontan tanpa pamrih. (Ay/1001indonesia/Tribunnews)

DISKUSI: