Masjid Menara Kudus, Simbol Harmoni Budaya Islam-Hindu

0
79

Sumber: Holamigo

LiputanIslam.com — Masjid Menara Kudus memiliki nama resmi Masjid Al Aqsa Manarat Qudus. Nama Al Aqsa diambil dari salah satu nama masjid di Yerusalem. Ia dibangun pada masa kerajaan Demak, tepatnya sekitar 19 Rajab 956 Hijriyah atau sekitar tahun 1549.

Tempat bersejarah tersebut terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Ia menjadi pusat Dakwah Sunan Kudus (salah satu Wali Sanga bernama Ja’far Shodiq) untuk memperkenalkan, mengajarkan, serta memperluas keislaman di Pulau Jawa, khususnya kabupaten Kudus.

Masjid bersejarah tersebut melambangkan hubungan yang harmonis antara budaya Islam dan budaya Hindu-Jawa yang pada saat itu dipegang erat oleh masyarakat sekitar. Sunan Kudus mendekati sekaligus menghormati masyarakat Hindu di Kudus dengan cara hidup harmonis dengan mereka. Dengan penuh rasa hormat, ia mendakwahkan ajaran Islam di sana. Sehingga dengan mudah diterima oleh masyarakat luas. Dengan cara dakwah seperti ini, ajaran Islam berkembang pesat di tanah Jawa.

Harmonisasi budaya Islam-Hindu tampak dalam struktur bangunan menara tersebut. Menara tersebut terbuat dari batu bata bersusun serupa candi bercorak Hindu-Jawa. Tingginya sekitar 18 meter dengan luas 100 meter persegi di bagian dasar. Kaki menaranya menyerupai Candi Jago di Malang, Jawa Timur. Candi itu dibuat pada masa kerajaan Singasari.

Di dalam menara, terdapat tangga dari kayu jati untuk naik ke puncak menara. Dulu saat teknologi pengeras suara belum dikenal, seruan azan dikumandangkan dari atas menara tersebut. Pada bagian puncak atap tajuk terdapat mustaka seperti yang banyak dijumpai di masjid-masjid kuno di Jawa.

Di bagian atas masjid yang dibangun belakangan, terdapat kubah yang dibangun untuk melengkapi menara Masjid Kudus. Menurut pengurus masjid, bangunan masjid baru itu dibangun untuk membuktikan bahwa Masjid Menara Kudus terbuka bagi semua kelompok.

Kemudian di bagian belakang kompleks Masjid Menara Kudus, terdapat makam Sunan Kudus dan makan-makan kuno sekitar abad ke-15. Makam Sunan Kudus berada di dalam cungkup tersendiri dengan kelambu putih yang menyelubungi, dengan atap kayu dan dinding kayu penuh ukiran. Bangunan itu dilengkapi sebuah pintu yang selalu ditutup. Makam tersebut banyak dikunjungi oleh para peziarah dari masyarakat Kudus lokal maupun masyarakat peziarah Wali Sanga di Nusantara. Para peziarah duduk mengelilingi bangunan berkelambu putih tersebut.

Pada setiap tanggal 10 Muharam (10 Asyuro atau Suro) kelambu putih yang menyelubungi makam Sunan Kudus diganti dalam suatu upacara yang dinamakan buka luwur. Dalam upacara tersebut, warga mengantre berkat, yakni bungkusan nasi dan lauk-pauk sebagai bagian dari upacara. Berkat itu dibagikan setelah luwur diganti. Siapa saja bisa mengantre berkat.

Dalam upacara tersebut, kain sepanjang 34,8 pis atau jika diukur dalam meter mempunyai panjang 34,29 meter per pisnya dilepas dan dikeluarkan dari areal makam menuju bangunan tajug satu per satu. Enam tim dengan total 33 orang dan para relawan pun dipersiapkan untuk melakukan prosesi pelepasan luwur.

Lima tim disiapkan untuk proses pembuatan motif pada kain baru yang akan dipasang di makan. Sedang satu tim lagi bertugas untuk melakukan pelepasan dan pemasangan kain pada Makam Sunan Kudus.

Sedang luwur lama yang dipasang tahun lalu, akan dibagikan ke warga sekitar kompleks masjid. Kain dari makam Sunan Kudus ini banyak yang mempercayai mempunyai berkah tersendiri. (Ay/1001indonesia/Muria News/Detik)

DISKUSI: