Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Wawancara

Wawancara Dengan Relawan MER-C: Tidak Ada Jaminan Kehidupan di Gaza

Published 15/04/2014 9 Min Read
Share
9 Min Read
SHARE
Bapak Karidi
Bapak Karidi (Didi)

Jakarta, LiputanIslam.com — Pada tanggal 27 Februari 2014, media nasional mengabarkan bahwa 29 orang relawan MER-C kembali ke tanah air. Mereka membawa misi kemanusiaan di Gaza dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) sebagai wujud empati masyarakat Indonesia kepada rakyat Palestina. Banyak kalangan bertanya-tanya tentang kondisi relawan MER-C di Gaza yang notabene wilayah konflik.

Salah satu reporter liputanislam.com berkesempatan mewawancarai salah satu relawan MER-C (Medical Emergency Resque Committee), yaitu Bapak Karidi (atau yang akrab disapa Didi) di kantor pusat MER-C bilangan Jakarta Pusat. Beliau adalah putra daerah Wonogiri yang lahir pada 14 Januari 1982. Berikut ini hasil petikan wawancara kami bagian pertama.


Liputan Islam (LI)
: Kami ingin mewawancarai relawan MER-C yang baru saja pulang dari Gaza. Tepatnya pada tanggal 27 Februari 2014, terdapat 19 orang yang tiba di Indonesia. Apakah masih ada relawan MER-C yang berada di sana? Mereka bertugas pada divisi apa saja?

RS Indonesia di Gaza
RS Indonesia di Gaza

Karidi (DD): Pada tanggal tersebut merupakan kepulangan tim MER-C yang pertama, yaitu tim. Kemudian disusul tim kedua, yakni tim 10 pada waktu yang berbeda. Sekarang, masih ada 4 ikhwan di sana; yang 3 kuliah di Universitas Gaza, sekaligus menjadi relawan untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia. Selain itu, ada kawan yang tidak asing lagi bagi kita, yaitu Nur Ikhwan Abadi sebagai relawan insinyur (Koordinator Teknis Pembangunan RSI). Saya pulang pada kloter kedua, setelah 2 minggu kepulangan tim 10.

LI: Sejak kapan Bapak aktif terlibat dalam aktivitas kemanusiaan yang dilakukan MER-C?

DD: Saya bergabung sejak gempa yang terjadi di Padang sekitar tahun 2009. Pada awalnya, saya menjadi relawan dari Pesantren Al-Falah yang bekerja sama dengan MER-C dalam membantu gempa di Padang. Saya di sana selama 2 bulan sebagai tim pembantu medis, meskipun background saya bukan kesehatan.

LI: Berapa lama Bapak berada di Gaza? Apa motivasi Bapak menjadi relawan MER-C?

DD: Alhamdulillah saya bisa bertahan di tengah kondisi sulit untuk bertugas menjadi relawan selama 17 bulan di Gaza. Saya sadar sebagai manusia lemah (dha’if) yang bergelimangan dosa. Saya berkeyakinan menjadi relawan kemanusian di Gaza bisa menghapus dosa selama ini. Motivasi juga didapatkan dari istri dan orang tua yang mengizinkan saya berangkat ke sana. Dukungan mereka memberi kekuatan bagi saya.

donasi
Info donasi, sumber foto: MERC

LI: Bagaimana pengalaman Bapak selama berada di Gaza, baik suka maupun duka? Bagaimana dengan kultur dan makanan? Kemudian, apakah Bapak dan kawan-kawan pernah mengalami masa-masa kelaparan karena kekurangan pasokan makanan? Tolong Bapak deskripsikan.

DD: Ya memang ada suka dan dukanya di Gaza. Alhamdulillah kami bisa menyesuaikan diri  dengan kultur di sana yang bernuansa Islam, jadi tidak ada kendala berarti. Begitu juga dengan makanan di sana, walaupun tidak seperti di Indonesia, tapi kami tak berkebaratan. Bahkan, lidah kami akhirnya sudah terbiasa. Kami belum mengalami masa-masa dimana tidak ada makanan sama sekali. Tapi, masa-masa stok makanan sudah menipis itu pernah terjadi saat perang hari kelima. Kita tidak boleh keluar RSI karena dalam kondisi perang. Jumlah relawansekitar 30 orang, sementara persediaan makanan tidak mencukupi bagi kami semua. Tapi itulah fakta yang terjadi, maka kita terus berpikir bagaimana menemukan jalan keluar untuk mengatasi persoalan ini. Alhamdulillah, pada akhirnya kami bisa belanja ke pasar dengan berjalan kaki. Kami menggunakan rompi kuning untuk melindungi diri karena kondisi saat itu tidak aman. Rompi tersebut di sana merupakan seragam untuk bagian kebersihan umum yang bisa memancarkan sinar. Alhamdulillah, setelah kami bisa belanja di pasar, pasokan makanan terpenuhi.

LI: Dimana para relawan tinggal? Terlebih Gaza merupakan wilayah konflik. Apakah ada tempat khusus yang aman? Apa pemerintah Palestina memberikan perlindungan kepada para relawan dari Indonesia; dalam artian memberikan jaminan?

DD: Di Gaza, tidak ada yang bisa menjamin kehidupan seseorang, terlebih lagi rakyat Indonesia.  Jadi, keamanan wilayah kon

Palestina-sukrelawan-indonesia-bertahan-di-gaza-unikindo-jpeg.image_
Relawan bertahan di Palestina ditengah gempuran Israel. Sumber foto: Salam Online

flik tidak bisa dijamin oleh siapa pun, termasuk pemerintah Palestina sendiri. Kami tinggal di basement RSI karena tempat tersebut paling aman menurut pihak MER-C. Walaupun tidak ada yang bisa menjamin apakah RSI  benar-benar aman atau tidak.

LI: Saya pernah mend

engar berita bahwa ada bom yang meledak tidak jauh dari RSI yang berdampak pada rusaknya konstruksi bangunan. Antisipasi ddari pihak MER-C bagaimana?

DD: Bom meledak pada jarak 12 meter dari RSI. Alhamdulillah dengan pertolongan Allah, tidak ada satu pun relawan yang menangis ketakutan, apalagi keinginan untuk pulang. Walaupun kami pernah dihubungi pemerintah Indonesia; kami ditelfon langsung oleh Ust. Abdurrahman yang menawarkan kepada relawan MER-C untuk dievakuasi. Para relawan menjawab serentak bahwa kami akan tetap di sini (baca: Gaza). Insya Allah kami berniat baik di sana, semoga bisa menjadi amal shaleh bagi semua relawan.

LI: Bagaimana perasaan Bapak menjadi relawan di wilayah konflik? Apakah Bapak pernah memiliki background menjadi relawan di wilayah konflik sebelumnya? Pasti berbeda menjadi relawan pada saat gempa Padang dan di Gaza karena taruhannya adalah nyawa.

DD: Walaupun saya dan kawan-kawan tidak memiliki pengalaman di wilayah konflik, tapi  kami  memang berniat untuk mencapai ridha Allah SWT; hal itu menjadi kekuatan bagi kami untuk siap menghadapi kondisi apa pun. Terlebih lagi, sejak di Indonesia kami sudah diberikan pembekalan oleh pihak MER-C. Meskipun setelah sampai RSI, tidak ada satu pun relawan yang menandatangani atau memiliki asuransi yang bisa menjamin diri kami. Kami semakin bertekad kuat mendirikan RSI di Gaza karena melihat secara langsung bagaimana korban yang jatuh pada peperangan kala itu ditampung pada sebuah Rumah Sakit kecil, yaitu As-Syifa. Tentunya RS tersebut tidak bisa memfasilitasi seluruh korban. Kami sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Semoga dengan adanya RSI, yang alhamdulillah sudah hampir rampung penyelesaiannya, bisa membantu warga Gaza di sana.

Para pekerja di RSI
Para relawan MER-C, sumber foto: www.kaskus.co.id

LI: Bagaimana perasaan Bapak menyaksikan secara langsung penderitaan rakyat Gaza? Tolong  deskripsikan kepada kami karena mayoritas rakyat Indonesia hanya mengetahui dari media yang acap kali memberitakan kondisi di Gaza tidak sesuai dengan realitas. Bagaimana hubungan Muslim dengan penganut agama lainnya?

DD: Kondisi masyarakat di sana yang paling memprihatinkan, kini menjadi perhatian pemerintah, adalah tingkat pengangguran yang tinggi. Bila berbicara tentang penderitaan, memang kondisi terparah yang dialami rakyat Palestina adalah pada saat perang berlangsung di mana mayat-mayat bergelimpangan di jalan merupakan pemandangan yang tak asing lagi. Terkait dengan hubungan antar agama, jujur saya tidak melihat aktivitas agama lain di sana selain Islam, misalnya saya belum pernah melihat aktivitas umat Nasrani di gereja. Memang mayoritas rakyat memeluk agama Islam di sana. Ada hal yang begitu saya kagumi dari masyarakat Palestina, yaitu kekuatan hijab. Saya melihat bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya sejak kecil. Salah satu contohnya, pada saat usia 5 tahun, laki-laki dan perempuan tidak boleh bermain bareng. Hijab benar-benar terjaga sejak dini, hingga dewasa. Hal itu tercermin pada saat laki-laki dan perempuan bertemu tidak bertatap-muka langsung; mereka saling menundukkan pandangan. Saya tidak pernah menjumpai laki-laki sedang berduaan dengan perempuan yang bukan muhrim-nya.

(bersambung ke bagian kedua)

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love0
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Berita Video

Wawancara dengan Media Iran, Jubir Taliban: Takfiri Bahaya Besar bagi Dunia Islam

By Muhammad
Timur Tengah

Pemimpin Hamas: Jasa Jenderal Soleimani Terlihat dalam Kemenangan Palestina

By Muhammad
Analisis

Pembubaran Paksa dan Pelarangan Peringatan Asyura adalah Pelanggaran Hukum dan HAM

By Farid
Analisis

Orang Syiah Sering Dipersekusi Saat Memperingati Asyura, Begini Tanggapan Habib Husein Alkaf

By Farid
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account