Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Notification Show More
Font ResizerAa

Liputan Islam

Tajam, Berimbang, Terpercaya

Font ResizerAa
  • Fokus
  • Internasional
  • Nasional
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
  • Fokus
  • Internasional
    • Amerika – Eropa
    • Asia – Afrika
    • Timur Tengah
  • Nasional
    • Indonesiana
  • Berita Video
  • Liputan
  • Wawancara
  • Opini
    • Analisis
    • Tabayun
    • Pemikiran
  • Budaya
  • Keluarga
  • Kajian
Follow US
Indonesiana

84% Anak Indonesia Alami Kekerasan di Sekolah?

Published 13/06/2016 5 Min Read
Share
5 Min Read
SHARE

bullying-anak-sd-di-bukit-tinggiJakarta, LiputanIslam.com– Kekerasan anak di sekolah di berbagai daerah di Indonesia sudah memasuki tahap memprihatinkan. Cukup banyak siswa yang menganggap bahwa kekerasan yang dialami atau yang dilakukan sebagai tindakan wajar. Banyak guru dan orangtua siswa yang cenderung tidak mengadukan kekerasan di sekolah karena khawatir akan menjadi pihak yang disalahkan.

Dewan Pertimbangan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Doni Koesema mengatakan, guru harus punya peran penting dalam menangani kasus kekerasan anak di sekolah. Mereka juga harus berani memberi sanksi tegas pada siswa yang melanggar atau melakukan tindak kekerasan maupun bullying.

“Guru tidak boleh takut memberi sanksi pada siswanya jika berbuat salah. Kalau ada 1 anak melakukan kekerasan atau bullying tidak diberi sanksi, maka besok akan ditiru banyak temannya,” ujar Doni dalam diskusi bertema ‘Stop Kekerasan dan Ciptakan Sekolah Ramah Anak’ yang diselenggarakan Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) di Jakarta, Sabtu (14/3/2015).

Di samping itu, guru juga harus mendapat edukasi tentang kekerasan anak. Guru harus tahu bentuk-bentuk kekerasan anak, ciri-ciri, dan bagaimana menindak.

Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Sejiwa Diena Haryana. Ia mengatakan, salah satu penyebab kekerasan anak marak terjadi di lembaga pendidikan adalah lantaran pihak terkait membiarkan kekerasan sebagai proses kewajaran. Selain itu kurangnya rasa memiliki pada masalah di antara pemangku negeri juga menjadi problem utama.

“Salah satunya pendidik membiarkan dan menganggap kekerasan sebagai proses yang wajar dan biasa. Pemerintah juga tidak bekerja sama dan cenderung bekerja sendiri-sendiri,” terang Diena.

Bermula dari Bullying

Diena mengatakan, permasalahan kekerasan berakar dari tindakan bullying. Bullying sendiri hanya bisa dilihat dalam perspektif korban. Karena tidak semua anak ketika diejek akan berdampak serius pada psikologisnya. Namun demikian, bullying tidak bisa dianggap enteng karena bisa berdampak pada tumbuh kembang anak. Bahkan bisa memicu tindak kekerasan, pengeroyokan, hingga pembunuhan.

Sementara aktivis Gerakan Nasional Anti-Bullying (Genab) Mardianto Janna mengatakan, bullying terjadi karena rasa saling menghormati antar-teman, orangtua, guru mulai hilang. Ia mengajak kepada semua pihak baik guru, orangtua, pemerintah maupun masyarakat umum lebih sadar terhadap permasalahan kekerasan anak di sekolah ini.

“Harus dibangun awareness bahwa kekerasan di sekolah sudah menjadi gawat darurat di negara ini. Kita harus mendorong partisipasi aktif terutama sluruh ekosistem pendidikan untuk memutus mata rantai kekerasan di sekolah,” ucap Mardianto.

Riset di 5 Negara

Dalam sebuah riset yang dilakukan LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) yang dirilis awal Maret 2015 ini menunjukkan fakta mencengangkan terkait kekerasan anak di sekolah. Terdapat 84% anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka tersebut lebih tinggi dari tren di kawasan Asia yakni 70%.

Riset ini dilakukan di 5 negara Asia, yakni Vietnam, Kamboja, Nepal, Pakistan, dan Indonesia yang diambil dari Jakarta dan Serang, Banten. Survei diambil pada Oktober 2013 hingga Maret 2014 dengan melibatkan 9 ribu siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orangtua, dan perwakilan LSM.

Selain itu, data dari Badan PBB untuk Anak (Unicef) menyebutkan, 1 dari 3 anak perempuan dan 1 dari 4 anak laki-laki di Indonesia mengalami kekerasan. Data ini menunjukkan kekerasan di Indonesia lebih sering dialami anak perempuan.

Padahal Indonesia memiliki sejumlah peraturan perundang-undangan yang melindungi anak dari tindak kekerasan. Seperti UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Anti-kejahatan Seksual terhadap anak, dan UU Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Namun penerapan perangkat hukum ini masih terbentur beragam kendala seperti ketidaktahuan masyarakat dan kurangnya komitmen pemerintah daerah. Penerapan yang belum optimal ini membuat anak-anak di Indonesia belum sepenuhnya terlindungi.

Bahkan menurut Ketua FMGJ Heru Purnomo, tindak kekerasan yang dialami anak di Indonesia tidak menurun, namun justru semakin mengerikan.

“Contohnya pengeroyokan terhadap siswi SD di Padang yang terjadi di jam belajar. Penyekapan dan penganiayaan terhadap siswi SMA di Yogyakarta hanya karena tato Hello Kitty. Siswa di Surabaya menebas lengan temannya karena cemburu. Atau tawuran siswa SMA di Jakarta yang merenggut nyawa, dan masih banyak lagi. Artinya, ini menunjukkan banyak masalah dengan pendidikan di negeri ini. Harus ada revolusi mental di dunia pendidikan,” papar Heru Purnomo. (ra/liputan6.cpm)

 

Share This Article
Facebook Twitter Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram
What do you think?
Love1
Cry0
Sad0
Happy0
Angry0
Dead0
Wink0

Latest News

Get Started
Intelijen AS Bantah Klaim Trump tentang Iran Garap ICBM

London, LiputanIslam.com –     Intelijen AS tidak mendukung klaim Presiden AS Donald Trump…

Menlu Iran Nyatakan Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS

Teheran, LiputanIslam.com –     Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa…

Pemimpin Yaman: Normalisasi Meningkatkan Biaya Pengalahan Israel

Teheran, LiputanIslam.com –     Pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan…

Iran Sampaikan Usulan kepada AS, Ujian bagi Kesungguhan AS

Jenewa, LiputanIslam.com –   Sumber media di Jenewa, Swiss, mengkonfirmasi bahwa beberapa laporan…

Tentara Iran Tegaskan akan Terus Bertahan di Medan Laga Hingga Titik Darah Penghabisan

Teheran, LiputanIslam.com –   Komandan Angkatan Darat Iran, Brigjen Ali Jahanshahi, menegaskan bahwa…

Jihad Islam Palestina Sebut BoP Panggung Sandiwara di Gaza

Gaza, LiputanIslam.com –   Wakil Sekjen Gerakan Jihad Islam Palestina (PIJ), Muhammad al-Hindi,…

The Financial Times: Pengerahan Pasukan ke Timteng Blunder bagi Trump

London, LiputanIslam.com –   Surat kabar Inggris TheFinancial Times menganalisis detail dan penilaian…

Ketua Parlemen Iran: AS akan Merasakan Balasan Telak Jika Nekat Menyerang Iran

Teheran, LiputanIslam.com –   Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa semua…

Israel Kuatir Dikhianati AS terkait Konflik dengan Iran

AlQuds, LiputanIslam.com –   Surat kabar Israel Maariv mengungkapkan bahwa ada kekhawatiran di…

Your one-stop resource for medical news and education.

Your one-stop resource for medical news and education.
Sign Up for Free

You Might Also Like

Indonesiana

Dari Tehran, Indonesia Tegaskan Dukungan untuk Palestina

By Farid
Indonesiana

[Video:] Terjemahan Pidato Lengkap Presiden Iran di Masjid Istiqlal

By Muhammad
Berita Video

[Video:] Terjemahan Lengkap Pidato Presiden Iran di Indonesia di ICC, Jakarta

By Muhammad
Indonesiana

Raisi: Biarkan Musuh Mati dalam Keadaan Marah Lihat Keakraban Umat Muslim

By Hadi
Copyright © 2014 - 2024 — Liputan Islam. Situs Berita Dunia Islam. All Rights Reserved.
  • Home
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Contact Us
Welcome Back!

Sign in to your account