EinElHilweh, LiputanIslam.com – Bentrokan antarfaksi Palestina yang bersaing kembali berkecamuk di kamp pengungsi Palestina terbesar di Lebanon dengan menggunakan senjata berat dan menebarkan tembakan yang melukai sedikitnya 20 orang dan memaksa penduduk kamp dan daerah sekitarnya untuk mengungsi.
Puluhan keluarga telah lolos pada Kamis malam (7/9) dari pertempuran antara anggota gerakan Fatah dan kelompok garis keras dan sekarang sedang tidur di halaman masjid.
Pertempuran terjadi di kamp dengan luas sekira satu kilometer persegi dan menampung lebih dari 63.000 pengungsi yang terdaftar. Bentrokan itu merupakan bagian dari perebutan kekuasaan dan kendali selama puluhan tahun antara Fatah pimpinan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan kelompok bersenjata, yang menyebut diri mereka sebagai kelompok Pemuda Islam Fatah.
Sebelumnya telah terjadi pertempuran jalanan selama beberapa hari di kamp Ein el-Hilweh antara faksi-faksi tersebut setelah Fatah menuduh kelompok itu menembak mati salah satu jenderal militer mereka pada tanggal 30 Juli.
Pertempuran jalanan itu menyebabkan sedikitnya 13 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka, dan memaksa ratusan orang mengungsi.
Gencatan senjata yang alot telah terjadi sejak 3 Agustus, namun bentrokan diperkirakan akan berlanjut karena kelompok tersebut belum menyerahkan tersangka pembunuh jenderal Fatah, Mohammad Abu Ashraf al-Armoushi ke pengadilan Lebanon seperti yang diminta oleh sebuah komite faksi-faksi Palestina awal bulan ini.
Sebuah komite faksi Palestina di Ein el-Hilweh mengumumkan pada hari Selasa bahwa pasukan keamanan gabungan mereka akan melancarkan serangan untuk mencari tersangka pembunuh.
Menjelang dini hari pada hari Jumat, pertempuran setidaknya telah mereda untuk sementara.
Kantor Berita Nasional Lebanon melaporkan 20 orang terluka, termasuk seorang pria lanjut usia, dan dilarikan ke rumah sakit semalaman. Belum ada laporan mengenai kematian dalam insiden kekerasan tersebut. (mm/aljazeera)
Baca juga: