Teheran, LiputanIslam.com – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanaani mengecam keras pembukaan kedutaan besar (Kedubes) Israel di Bahrain, dan memperingatkan bahwa normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab tidak akan menyelamatkan rezim Zionis itu dari kehancuran.
Kanaani menyatakan demikian pada Selasa (5/9), sehari setelah Israel secara resmi membuka kedutaan besarnya di Manama di tengah protes dan amarah masyarakat Bahrain terhadap langkah tersebut.
Mengutuk normalisasi hubungan negara-negara Muslim tertentu dengan Tel Aviv, Kanaani memastikan tindakan detente demikian tidak dapat menyelamatkan rezim Zionis dari nasib buruk yang dapat diperkirakan.
“Tindakan kompromi yang dilakukan segelintir negara Muslim dalam menangkap tangan kriminal Zionis tidak melemahkan tekad kuat bangsa Palestina untuk mewujudkan pembebasan tanah merek,” tandas Kanaani.
Dia menambahkan bahwa tindakan itu tak berguna dalam upaya untuk “menyelamatkan rezim Zionis yang sudah goyah dari ancaman disintegrasi”.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran juga menyebut normalisasi itu tidak ada hubungannya dengan aspirasi rakyat di negara-negara Muslim tersebut.
Dia mengutip protes yang penuh kemarahan di seluruh Libya menyusul publikasi berita mengenai terjadinya pertemuan rahasia baru-baru ini antara mantan Menteri Luar Negeri Libya Najla El Mangoush dan sejawatnya dari Israel Eli Cohen.
Demonstrasi tersebut, tegas Kana’ani, mencerminkan “dalamnya kebencian masyarakat regional terhadap rezim Zionis yang sedang merebut kekuasaan”.
Kanaani mengakhiri pernyataannya dengan mengingatkan bahwa normalisasi dengan Israel bertentangan dengan tanggung jawab kemanusiaan, moral, dan internasional negara-negara Muslim untuk mendukung hak-hak bangsa Palestina.
Pada tahun 2020, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain menandatangani perjanjian yang ditengahi Amerika Serikat dengan Israel untuk menormalisasi hubungan mereka dengan rezim Tel Aviv. Beberapa negara regional lainnya, seperti Sudan dan Maroko, segera mengikuti langkah yang sama.
Para pejabat Palestina mengecam kesepakatan antara negara-negara Arab dan Israel untuk membangun hubungan diplomatik yang normal, dan menyebut perjanjian itu sebagai pengkhianatan. (mm/presstv)
Baca juga: