Teheran, LiputanIslam.com – Iran menyatakan pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan Irak untuk perlucutan senjata dan relokasi pemberontak Kurdi di Irak utara dalam beberapa minggu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Nasser Kanani, Senin (28/8), mengatakan bahwa pemerintah pusat Irak telah berkomitmen untuk melucuti senjata “kelompok teroris dan separatis” di wilayah Kurdi di Irak utara pada tanggal 19 September.
Dia juga mengatakan bahwa Baghdad menyetujui penutupan pangkalan-pangkalan kelompok pemberontak Kurdi di wilayah semi-otonom Kurdistan, dan para anggotanya akan dipindahkan ke kamp-kamp lain, yang lokasinya tidak dia ungkapkan.
“Berdasarkan informasi yang kami miliki, pemerintah Irak telah mengkomunikasikan isi perjanjian ini kepada otoritas wilayah Kurdistan Irak. Kami menunggu implementasi penuh dari perjanjian ini,” kata Kanani seraya menambahkan bahwa tenggat waktu itu tidak akan diperpanjang.
Teheran telah lama mengeluhkan aktivitas kelompok-kelompok Kurdi, yang beberapa di antaranya menyerukan pemisahan provinsi Kurdistan di barat laut Iran, yang berbatasan dengan Irak.
Populasi Kurdi tinggal di wilayah pegunungan di Iran bagian barat, Irak bagian utara, Suriah bagian timur laut, dan Turki bagian tenggara. Beberapa pihak menyerukan pembentukan negara pan-Kurdi.
Tahun lalu, ketika protes berkobar di seluruh Iran setelah kematian Kurd Mahsa Amini, warga Iran berusia 22 tahun, dalam tahanan polisi, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) melancarkan beberapa putaran serangan udara mematikan dan serangan artileri terhadap posisi kelompok pemberontak Kurdi di Irak utara.
Kanaani mengatakan, “Berdasarkan hubungan persahabatan, persaudaraan, dan ketetanggaan yang kami miliki dengan pemerintah Irak, kami berharap noda gelap ini dapat dihilangkan dari suasana hubungan timbal balik.”
Associated Press mengutip pernyataan seorang pejabat anonim Irak yang mengkonfirmasi perjanjian tersebut.
Pejabat itu mengatakan kepada kantor berita bahwa pemberontak telah pindah ke sebuah kamp yang tidak disebutkan namanya di wilayah Kurdi Irak setelah dilucuti senjatanya.
AP juga melaporkan bahwa seorang pejabat pemerintah Irak telah mengkonfirmasi perjanjian tersebut.
Pada bulan Maret, kepala keamanan Iran saat itu, Ali Shamkhani, mengunjungi Irak untuk membahas masalah ini dan menandatangani perjanjian keamanan perbatasan yang menangani kelompok-kelompok bersenjata. (mm/ptv/aljazeera)
Baca juga: