Khairallah_Politics_pic_1

Daoud L. Khairallah

LiputanIslam.com — Setelah melalui perjalanan yang teramat panjang, akhirnya Iran dan negara-negara P5+1 akhirnya mencapai titik kesepahaman umum yang tersendiri dan komprehensif. Memang, masih ada pejabat Barat mengatakan masih banyak hal-hal detail yang perlu diselesaikan sebelum kesepakatan final dicapai pada bulan Juni mendatang, namun secara keseluruhan, pencapaian ini adalah sebuah kemajuan yang signifikan. Bahkan, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memuji hasil perundingan tersebut. Ia menyebut hasil kesepakatan ini merupakan  ‘saling pengertian yang bersejarah yang bila diimplementasikan akan membuat dunia menjadi lebih aman’.

“Ini akan menjadi kesepakatan jangka panjang yang mencakup semua jalan yang bisa membuat Iran membuat senjata nuklir. Jika Iran berbohong, dunia akan mengetahuinya. Jika kesepakatan final ini tercapai, maka salah satu ancaman keamaman terbesar yang dihadapi AS akan dihilangkan melalui cara yang damai,” jelas Obama.

Tapi, bagaimana dengan Israel? Seperti diketahui, entitas Zionis ini merupakan pihak yang bersuara paling nyaring untuk menentang kesepakatan nuklir Iran. Bahkan, pada bulan Maret lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diundang Kongres, untuk menyampaikan penentangannya.

Dan hari ini, Netanyahu menggelar rapat kabinet untuk menanggapi kesepakatan nuklir Iran. Ia sebelumnya mengingatkan, bahwa pencapaian ini akan mengancam keberadaan Israel, karena memberikan legitimasi bagi program nuklir (termasuk pengayaan uranium), dan pemulihan ekonomi Iran jika berbagai sanksi atasnya dicabut.

Netanyahu JelekJuru bicara pemerintah Israel, Mark Regev, menyatakan bahwa ‘gol tunggal’ Iran dalam perundingan tersebut adalah untuk menciptakan senjata nuklir. Para pajabat Israel menyatakan bahwa kesepakatan ini adalah ‘kesalahan bersejarah’ dan memperingatkan bahwa semua opsi ada di atas meja. Arutz Sheva, salah satu media Israel telah merilis berbagai artikel yang mengecam Iran terkait kesepakatan ini.

Hal ini tak luput dari pengamatan Daoud Khairallah, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Georgetown. Dalam wawancaranya bersama Russia Today, 3 April 2015, Khairallah menyatakan bahwa Israel akan menggunakan segala upaya untuk mengagalkan kesepakatan ini. Apakah langkah yang akan ditempuh Israel, dan bagaimana prospek masa depan atas kesepakatan yang berhasil dicapai saat ini? Berikut ini kutipan selengkapnya:

Russia Today (RT): Kesepahaman ini adalah langkah positif, tetapi AS dan Perancis, mereka menekankan bahwa sanksi akan kembali diberlakukan jika Iran tidak patuh pada kesepakatan. Apakah hal ini menunjukkan bahwa masih ada ketidakpercayaan di sini?

Daoud Khairallah (DK): Saya percaya Iran akan patuh, dan tak ada alasan untuk meragukan hal ini. Presiden Obama mengatakan, bahwa kesepakatan ini merupakan kepentingan keamanan AS, juga kepentingan dunia. Saya percaya, bahwa hasil kesepakatan ini, jika mencapai kesimpulan yang logis, hal ini akan akan menyebabkan terjadinya perubahan besar, yaitu perubahan perspektif dan hubungan antara Iran dan negara-negara lainnya di dunia. Tentunya, hal ini akan membawa dampak yang sangat positif, terutama dalam memerangi terorisme, seperti Al-Qaeda dan turunannya, ISIS, dsb.

Saya percaya bahwa kondisi ini akan menciptakan lingkungan yang rasional, yang berorientasi pada solusi damai dalam menghadapi masalah di kawasan, meskipun ada pemimpin negara yang sembrono dan pemarah, seperti Benjamin Netanyahu, yang akan menentang kesepakatan ini dengan segala cara yang bisa mereka lakukan.

RT: 30 Juni adalah batas waktu bagi P5+1 dan Iran untuk menandatangani kesepakatan final. Apakah Anda yakin bahwa target ini akan terpenuhi?

DK: Tentu. Alasannya adalah, bahwa selain AS, ada lima negara anggota lainnya, yaitu Uni Eropa, Rusia, China, yang mendukung kesepakatan ini.

Saya ragu apakah AS berani sendirian menentang suatu kesepakatan yang diinginkan oleh seluruh dunia.

RT: Dan bagaimana dengan kemungkinan adanya Israel yang turut ‘bermain’ di sini?

DK: Saya pikir Israel, terutama dengan Netanyahu, akan mencoba segala cara (untuk menggagalkan kesepakatan nuklir-red). Di AS, ada Kongres, dan mereka akan memobilisasi segala sesuatu yang mereka bisa karena mereka bertaruh banyak di sisi ini. Mereka telah membuat ketegangan di Timur Tengah dengan menjelekkan Iran, dan menyebut keberadaaan nuklir Iran akan mengancam seluruh dunia. Sementara di sisi lain, Israel sendiri memiliki senjata nuklir. Keanehan dari posisi Israel ini (menerapkan standar ganda-red), tidak akan bertahan. Saya rasa, mereka tidak akan berhasil.

Dan sekutu AS lainnya, dan pihak-pihak yang takut pada Iran, misalnya dari negara-negara Arab, menurut saya, akan menyesuaikan diri dengan kesepakatan ini dan akan menemukan cara untuk mengatasi masalah mereka sendiri.

RT: Ada prospek dengan dicabutnya sanksi atas nuklir Iran saat ini, yang memungkinkan Iran akan memasuki pasar global bahan bakar nuklir. Bukankah hal ini merupakan sebuah kemenangan bagi Iran, dan merupakan bagian yang sangat penting dalam kesepakatan tersebut?

DK: Saya tidak menganggap hal itu adalah sebuah kemenangan besar. Iran, ingin mempertahankan haknya sebagai bangsa yang merdeka. Saya tidak berpikir bahwa Iran akan membangun sebuah gudang untuk senjata nuklir. Iran hanya ingin menggunakan dan mengembangkan nuklirnya untuk tujuan damai. Saya pikir, Iran telah mampu meraih yang dicita-citakannya, dalam tingkat tertentu, berhak menentukan masa depannya sendiri tanpa melanggar hukum internasional, ataupun menyinggung kode etik bangsa-bangsa.

RT: Hanya sanski terkait nuklir Iran yang dicabut pada saat ini. Kira-kira, berapa lama sanksi-sanksi lainnya tetap diberlakukan?

DK: Bila Anda menciptakan lingkungan yang damai dan rasional saat bernegosiasi, mencoba memecahkan masalah dengan cara damai, maka hal ini akan membuka jalan baru. Perusahaan di AS akan melihat niat/ upaya yang dilakukan Iran untuk menjaga kestabilan wilayah.

Tanpa mengabaikan fakta bahwa Israel dan kroni-kroninya, juga dengan segala asetnya, yang akan berusaha untuk memobilisasi (untuk menghalangi kestabilan wilayah). Namun sejalan dengan waktu, akan disadari bahwa mereka berada di jalan yang salah.

RT: Jadi menurut Anda, perkembangan saat ini merupakan langkah positif untuk menuju normalisasi hubungan? Atau karena kebutuhan?

DK: Pasti. Kesepakatan ini tercapai berdasarkan kebutuhan, dan di saat yang sama akan mampu menormalkan hubungan. Hal ini akan menciptakan lingkungan yang berbeda. Sebuah lingkungan antar-negara yang sehat dan normal, sebagaimana mestinya, dan bukan saling mengancam dengan menggunakan kekuatan. Dan kita akan mengetahui hasil dari ‘petualangan’ ini di masa depan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL