Para pendukung pemberontak Suriah di Indonesia sering mengatakan begini kepada orang-orang yang berusaha meluruskan informasi tentang konflik  Suriah:

“Memangnya kamu sekarang sedang berada di Suriah, koq sok tahu kondisi di sana seperti apa?”

Alhamdulillah, tim Liputan Islam berhasil tersambung dengan seorang warga NU yang kini tengah menuntut ilmu di Suriah. Beliau bersedia diwawancarai, namun dengan ditutupi identitasnya, sehingga kami akan menyebutnya Ustadz MM.

Berikut ini wawancara bagian kedua. (Bagian pertama bisa diklik di sini)

pengungsi kamp Yarmouk dihalangi keluar oleh milisi pemberontak (foto:Ayham Soussef)

pengungsi kamp Yarmouk dihalangi keluar oleh milisi pemberontak (foto:Ayham Soussef)

Liputan Islam: Mengenai Palestina  ustadz, bagaimana kabarnya mereka yang kini di Kamp Yarmouk?

Ustadz MM: Saat ini mereka memang terkepung di dalam Kamp. Sebenarnya banyak dari mereka yang mencoba keluar dari pengepungan tetapi tewas diterjang sniper. Mereka memang sengaja ditahan di dalam Kamp sebagai tameng hidup.

Tentara Suriah memang mengepung Kamp Yarmouk karena kalau tidak demikian, maka milisi bersenjata tersebut akan masuk ke dalam ibukota Damaskus

Saya heran melihat para militan yang upload video tentang situasi terkini di Yarmouk. Mereka bilang rakyat Palestina sampai kurus kering kelaparan tetapi mengapa kondisi para militan sehat dan segar bugar? Apakah hanya rakyat sipil saja yang perlu makanan?

Kelaparan yang panjang membuahkan  fatwa tentang halalnya daging kucing dan anjing dari Syeikh Sholeh al Khatib, seorang khatib di daerah Yelda (pinggiran Damaskus sebelah selatan) yang kebetulan sedang bergolak. Kami di Damaskus tidak pernah mendengar nama itu karena memang bukan seseorang yang terkenal. Dia sepertinya ustadz muda dan dari rekam jejaknya, dia adalah seorang Wahabi. Perlu dicatat bahwa tidak ada ulama besar Damaskus yang berfatwa seperti itu. Dan fatwa serupa juga datang dari sebuah masjid di Mukhoyam Yarmouk

Saat ini, pemerintah dengan milisi bersenjata di Yarmouk telah membuat sebuah kesepakatan perdamaian. Salah satunya isi kesepakatan adalah, mereka  harus berhasil mengusir para militan asing yang ada di kamp dan harus menyerahkan senjata berat kepada pemerintah Suriah

LI: maksudnya di dalam Kamp Yarmouk ada milisi asli Suriah dan milisi asing ustadz?

UMM: Milisi bersenjata lokal ya sebagian mereka yang dari kelompok HAMAS.

HAMAS boleh dibilang sangat dimanja di Suriah, dan mereka dipersenjatai oleh Pemerintah Suriah dengan senjata buatan Russia, persis yang dimiliki Tentara Suriah. Pemerintah tidak memandang Palestina karena Ikhwan-nya, melainkan murni karena perjuangannya dalam membela  Palestina. Problema Palestina dijadikan agenda nasional Suriah. Dan kali ini di Suriah, HAMAS ikut terbawa arus politik.

LI: Apakah ada agenda demi Palestina, Suriah akan menyerang Israel kembali seperti Perang Yom Kippur?

UMM: Menyerang Israel? Untuk saat ini sepertinya sangat sulit karena sama halnya dengan bunuh diri. Dan jika Suriah menyerang Israel, saya memprediksi efeknya akan sangat memilukan; negara negara Arab lainnya pasti akan menjadi pihak yang pertama kali menyerukan agresi balik ke Suriah.

Sejak awal konflik sudah lebih dari 50 orang militan asing  yang diobati di RS Israel. Pernahkah ada media tanah air yang memberitakan hal tersebut?

LI: Beritanya ada dari para aktivis independent yang pro pemerintah Suriah. Tapi saya belum pernah menemukan diberitakan oleh media besar tanah air. Kami dari Liputan Islam pernah mengabarkannya beberapa waktu yang lalu.

UMM: Bagaimana mau memberitakan  kalau sumber berita dari media kita adalah BBC, CNN, REUTERS, ABC, FRANCE 24, ALJAZEERA, AL ARABIYA dan media  pro Barat. Akhirnya bukan memberitakan apa yang terjadi melainkan memberitakan hal yang mereka inginkan harus terjadi. Meskipun demikian, Suriah tetap menerima kehadiran wartawan BBC dan mereka berstatus resmi. Saya heran mengapa tidak ada media tanah air yang datang ke Suriah untuk meliput, bukan hanya sekedar kutip mengutip dan copy paste?

Aljazeera misalnya, kami sudah  kenyang dibohongi. Waktu awal  konflik tahun 2011 diberitakan oleh Aljazeera bahwa tank pemberontak sudah masuk ke daerah kami. Lantas, salah seorang mahasiswa  mengontak saya menanyakan kebenaran informasi itu. Kebetulan saya baru saja sampai di rumah dan tidak ada apa apa  di jalan. Semuanya normal .

salah satu sudut kota Damaskus (dekat Masjid Umayyah)

salah satu sudut kota Damaskus (dekat Masjid Umayyah),Feb 2014

LI: Dari pidato Mr Moallem, pemimpin delegasi Suriah di Jenewa, dikabarkan kalau saat ini Suriah sedang di embargo, dampak embargo saat ini apa ustadz?

UMM: Sebenarnya Suriah sudah diembargo sejak dulu karena tidak mau berdamai dengan Israel. Tetapi, semua bisa diatasi karena Suriah adalah negara yang mandiri. Hampir semua kebutuhan pokok dapat dipenuhi sendiri mulai dari gandum, sayur sayuran, buah buahan, daging, semua produk susu, minyak zaitun dll. Bahkan dieskpor ke negara negara tetangga seperti Yordania, Lebanon, dan negara negara Teluk. Dan untuk persenjataan, Suriah bekerja sama dengan Rusia.

Yang sangat mengherankan, di tengah embargo seperti itu, hutang Suriah adalah nol.Itulah sebabnya Suriah tidak bisa ditekan oleh siapapun. Suriah juga melarang adanya import barang-barang yang bisa diproduksi di dalam negeri.

Kemudian Suriah dilanda perang. Harga kebutuhan pokok merangkak naik hingga 2 sampai 4 kali lipat. Mata uang anjlok sampai 3 kali lipat.

LI: Kalau Suriah sudah mandiri, hutangnya nol, artinya rakyatnya makmur ya Ustadz? Kenapa mereka masih berdemo?

UMM: Kalau dikatakan rakyat Suriah hidup makmur, itu terlalu berlebihan. Tapi kalau dipakai ukuran  ‘layak’ maka mereka telah sampai di taraf hidup seperti itu karena biaya hidup sangat murah dibandingkan negara Arab lainnya. Biaya kesehatan dan pendidikan gratis. Roti, air, listrik dan BBM disubsidi oleh pemerintah.  Masalah yang paling mendasar di sini adalah perumahan. Pertumbuhan penduduk tidak sebanding dengan pembangunan.

Tiada gading yang tak retak. Mungki pepatah itu tepat untuk melukiskan tentang Suriah. Pihak keamanan di Suriah sangat posessif, semua hal harus dengan izin pihak keamanan. Kebebasan bersuara dan berpolitik kurang. Tapi kalau itu dijadikan satu-satunya alasan untuk melakukan demonstrasi, sepertinya adalah kesimpulan yang dangkal. Suriah jauh lebih baik dari negara Arab lainnya dalam hal kebebasan bersuara. Apalagi dibandingkan negara Teluk.

Negara Arab mana yang  rakyatnya bebas bersuara? Jadi kalau negara-negara pendukung pemberontak berteriak demokrasi kepada Suriah, itu sama halnya dengan maling teriak maling. Harusnya kita bertanya, mengapa harus Suriah yang dituntut menegakkan demokrasi sementara negara penyeru demokrasi tersebut adalah negara monarki?

Terkait tuntutan demokrasi, pemerintah menantang pihak oposisi untuk bertarung di dalam pemilu. Tetapi mereka tidak berani karena mereka tahu, mereka akan kalah dalam hitungan matematis politik.

Demo dukung Assad di Jableh (Feb 2014)

Demo dukung Assad di Jableh (Feb 2014)

LI: Jadi penyebab awalnya demonstrasi yang akhirnya berujung perang berkepanjangan seperti sekarang apa ustadz?

UMM: Penyebab awal kurang lebih mereka menuntut diberikan kebebasan lebih  dalam bersuara, berpolitik dan berekspresi. Pemerintah pun sudah memenuhi tuntutan mereka dengan dikeluarkannya Kepres tentang kebabasan bersuara termasuk demonstrasi, kebebasan berpartai hingga UU tentang Pers. Namun saya melihat, bahwa ada pihak-pihak yang memang merancang agar demosntrasi tersebut tidak selesai.

LI: Lalu masuknya puluhan ribu  militan asing dari puluhan negara yang akhirnya bertempur di Suriah, apakah tidak disadari pemerintah sejak dini?  Apakah pertahanan Suriah tidak mampu mendeteksi adanya gelombang terorist yang dipersiapkan untuk mengacaukan Suriah?

UMM: ada banyak faktor terkait hal itu. Coba lihat wilayah Suriah kembali. Semua perbatasan dengan negara tetangga adalah jalur darat. Tidak ada satu  negara pun yang sanggup mencegah penyelundupan warga negara asing, apalagi yang perbatasannya berupa daratan. Bahkan negara sekelas Amerika Serikat saja tidak bisa mencegah penyelundup dari Meksiko.

Suriah berbatasan dengan Irak, Turki, Yordania dan Lebanon yang panjangnya berkilo-kilo meter. Ditambah negara tersebut turut membiarkan milisi asing masuk ke Suriah melalui negaranya. Mereka tidak mau berkoordinasi, jadi bagaimana mungkin Suriah bisa mencegah militan asing tersebut masuk?

LI: Bagaimana profil Tentara Suriah Ust? Kalau berita di tanah air, katanya Tentara Suriah itu adalah Syiah Nushairiyah yang membunuhi Sunni. Benar demikian?

UMM: Ngawur itu. Mayoritas Tentara Suriah itu Sunni. Sebagian kecil Kristen dan Druze.

LI: Lalu Syiah Nushairiyah itu apakah memang ada ustadz?  Saya merujuk pada Risalah Amman  yang diakui sebagai mazhab sah dalam Islam itu hanya Syiah Ja’fari dan Syiah Zaidiyah. Nushariyah itu yang bagaimana? Lalu Alawite itu yang bagaimana?

UMM: Memang ada Syiah Nushairiyah atau kadang disebut Alawite dan mereka adalah golongan minoritas di daerah Lattakia. Mereka itu orang-orang kampung yang tinggalnya juga di daerah pinggiran. Pekerjaan mereka rata rata petani. Saya melihat mereka itu tidak mengerti apa apa dan mungkin hanya faktor keturunan saja disebut demikian. Faktanya di lapangan saya lihat persis seperti Sunni. Masjidnya sama dengan Sunni. Kalau mau lihat contohnya ya perhatikan saja Presiden Assad. Praktek shalatnya tidak ada bedanya dengan Sunni. Cuma biasanya mereka tidak memakai kerudung bagi yang perempuan.

Nah, kalau Hauzah Zaenab yang ada di pinggiran Damaskus, itu dibiayai pemerintah Iran karena memang beraliran Imamiyah.

LI: Sungguh berbeda dari informasi yang biasanya saya dapat. Di Indonesia, Syiah Nushairiyah itu digambarkan sebagai sosok kejam dan bengis.

UMM: Sekali lagi saya bilang, berita itu ngawur !

Pemerintah di sini tidak memperingati tragedi Karbala seperti umumnya mazhab Syiah. Juga tidak ada Hussainiyah. Bahkan kalau mendengar  pidato mendiang Hafez saat memperingati perang enam hari atau sewaktu merebut kembali provinsi Kneitra dari tangan Israel (saya kurang jelas diantara kedua peristiwa tersebut) maka akan terlihat jelas (bahwa Hafez bukan Syiah)

(Catatan redaktur: video pidato tersebut pernah tersebar di jejaring sosial, isinya adalah Hafez memanggil rakyatnya untuk membela negara meneladani para sahabat Nabi Saw: “Wahai Putra Abu Bakar ra, Wahai Putra Khalid bin Walid ra, Wahai Putra Salahudin al Ayubi ra…” demikian Hafez menyeru rakyatnya)

LI: Saat ini bagaimana kondisi pemberontak Ust? Masih kuat atau mulai melemah?

UMM: kondisi mereka tergantung pendukungnya. Kalau aliran dananya di hentikan dan impor militan juga distop, maka mereka akan melemah dengan sendirinya. Jika negara tetangga kooperatif untuk menjaga perbatasan, maka mereka akan kehabisan nafas.  Namun sampai hari ini dari Turki maupun Yordania, masih membuka perbatasannya lebar- lebar untuk siapa saja yang pergi berperang ke Suriah. Kedua negara itu hanya melarang mereka kembali melalui negaranya. Itulah penyebab para milisi berebut ingin menguasai derah perbatasan.

LI: Lho, bukannya Turki telah menandatangani kesepakatan dengan Iran untuk memberantas terorisme?

UMM: Iya, awalnya kami senang sekali mendengarnya. Namun ternyata mereka hanya merubah skenario saja, menjadi lebih rapih.

LI: Ustadz punya pesan untuk rakyat Indonsia terkait konflik Suriah?

UMM: Pesan saya, hati-hatilah mnerima berita darimanapun datangnya. Peganglah prasangka baik terhadap sesama muslim jangan mau di adu domba. (LiputanIslam.com/AF)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL