Kyai Alawi 1

Kyai Alawi di Iran

Jakarta, LiputanIslam.com — Kyai Alawi Nurul Alam al-Bantani, ulama muda Nahdlatul Ulama menyatakan bahwa isu ikhtilaf Sunni-Syiah yang saat ini kencang dihembuskan oleh kelompok takfiri, merupakan upaya untuk memecah belah persatuan Islam.  Hal itu ia sampaikan saat menghadiri Konferensi Internasional Gerakan Ekstimisme dan Takfiri dalam Pandangan Ulama Islam, di kota Qom, Republik Islam Iran, pada 23-24 November 2014. Konferensi ini, dihadiri oleh 350 ulama dari 80 negara. (Baca juga: Khamenei Pastikan Iran Akan Persenjatai Pejuang Palestina di Tepi Barat)

Selaku Ketua Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU, ia aktif terlibat dalam mensosialisasikan bahaya gerakan takfiri, baik di mimbar ataupun seminar, ataupun melalui buku. Hingga saat ini, tidak kurang dari 40 judul buku karyanya telah diterbitkan, salah satunya; Kyai NU Meluruskan Fatwa Merah MUI dan LDII.

Berikut ini adalah wawancara dengan Kyai al-Bantani, seperti yang dikutip dari Kantor Berita Abna;

Bagaimana pendapat Bapak Kyai tentang Republik Islam Iran, yang mayoritas penduduknya bermazhab Syiah?

Iran adalah sebuah negara yang didirikan oleh pendirinya untuk membangkitkan citra Islam. Terlepas bahwa penduduk mayoritas Iran adalah bermazhab Syiah, tapi yang diperjuangkan oleh Iran adalah bukan untuk mengembangkan mazhab Syiah, tapi untuk membangkitkan semangat perjuangan kaum muslimin.

Bahwa sesungguhnya musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti untuk menghancurkan dan melemahkan kaum muslimin dan kejayaan Islam. Dan ini yang tidak dimengerti oleh banyak orang. Itu disebabkan sibghah [celupan] Allah itu sudah hilang, sehingga ghirah atau semangat keislaman itu tidak ada. Dan jika ghirah sudah tidak ada jadi untuk berpikir Islamiah itu sudah tidak ada. Sehingga orang-orang kemudian sekedar disibukkan untuk menghidupi keluarga, yang dipikirkan hanya untuk kepentingan perut. Padahal sesungguhnya jika kita bertanya, apa yang telah dipersembahkan untuk Islam, maka jawabannya ada di Iran, sejak tahun 1979 sampai sekarang. Itu jawaban untuk pertanyaan yang pertama.

Yang kedua, tidak ada masalah terhadap mazhab Syiah sebetulnya. Selama kita bisa memahami kurikulum Syiah dari orang-orang yang memang terbaik dari kalangan Syiah. Sebab di Syiah sendiri ada takfirinya, sebagaimana di Sunni juga ada takfirinya. Perlakukan beberapa gelintir orang tidak bisa mewakili semuanya, bahkan pendapat ulama itu sendiri tidak serta mewakili semuanya. Bedanya di Iran atau di mazhab Syiah itu lembaga ulama lebih terstruktur sehingga dikenal ada istilah ulama marja dan sebagainya, beda dengan di Sunni yang lebih banyak corak pada pola berpikirnya.

Banyaknya kaum muslimin yang belum mengenal dan mengerti mazhab Syiah, terutama tentang pemikiran ulama-ulamanya itu disebabkan karena kurangnya interaksi mereka dengan buku-buku dan pemikiran-pemikiran Syiah. Karenanya alangkah baiknya, saran saya, lembaga-lembaga keagamaan Syiah mengirimkan buku-buku mereka ke organisasi-organisasi Sunni dan menyatakan, ini lho karya-karya kami, bahkan kalau perlu membuat perpustakaan-perpustakaan yang berisi kitab-kitab Syiah yang mudah diakses masyarakat Sunni. Sehingga antara kedua mazhab ini bisa saling berinteraksi, tukar wawasan dan saling bersinergi, sehingga kemungkinan bersitegang itu bisa diminimalisir.

albantani

Salah satu buku Kyai Alawi

Pandangan Pak Kyai terhadap pihak yang berbeda perspektif dalam memandang Iran dan Syiah? Misalnya pandangan yang menyebut Iran itu hanya hendak menghancurkan Islam dan Syiah itu bukan bagian dari barisan kaum muslimin.

Itu hanyalah omongan-omongan orang yang tidak mengerti. Jika kita dihadapkan dengan suatu masalah, harusnya yang bicara hanyalah para ahlinya. Lha ini, yang banyak bicara justru orang yang tidak mengerti sama sekali, mereka bukanlah peneliti, bukan pula ulama. Dan ini kita harus pahami, bahwa gerakan seperti ini sudah ada sejak dulu. Mereka justru menjadi benalu dalam Islam.

Tujuan dari pihak yang sering mengadu domba dan menghembuskan fitnah Sunni-Syiah itu berbeda dan satu sama lain harus saling bermusuhan, itu sebenarnya apa Pak Kyai?

Sumber daya alam. Tidak ada lagi. Sewaktu guru ngaji saya menjelaskan makna surah al Israa ayat 1, yang berbunyi, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya,” ayat ini digali oleh AS dan Yahudi. “Kami berkahi sekelilingnya” itu, maksudnya apa? Dan dengan kemampuan teknologi mereka yang canggih dan penelitian yang serius, akhirnya mereka temukan, bahwa keberkahan yang dimaksud adalah kekayaan alam. Yang kemudian itu membuat mereka berambisi untuk menguasainya.

Untuk mengambil SDA itu, maka cara yang paling mudah dan klasik adalah dengan mengadu domba negara-negara tersebut. Menurut penelitian, 50 tahun lagi minyak di Arab Saudi itu habis. Tahun 1954 Arab Saudi pernah dibantu Inggris untuk menginvasi Suriah. Namun tidak berhasil. Sekarang mereka mencoba lagi, dengan menggunakan boneka-bonekanya. Yang mendanai persenjataan oposisi di Suriah kan Arab Saudi? Dan Negara-negara Barat berada dibalik itu. Sebab kita tahu, AS dan negara-negara Barat tidak memiliki kekayaan bumi yang memadai. Krisis minyak di Arab Saudi yang diperkirakan 50 tahun lagi, jelas sangat mengkhawatirkan mereka. Makanya mereka mencari lahan baru lagi. Nah, inilah salah satu tujuan dibentuknya ISIS itu. Tapi banyak yang tidak sadar.

Kesalahan kaum muslimin lainnya, adalah menyerahkan pemimpin umat pada orang-orang yang zalim yang hanya menjadi boneka musuh-musuh Islam. Umat dicecoki dengan hadits-hadits yang menyebutkan meskipun pemimpin itu zalim, buruk akhlaknya, selama masih shalat, maka kita tidak boleh menentangnya dan sebagainya.

Konferensi di Qom

Konferensi di Qom

Tapi bukannya mereka yang melakukan itu, menganggap dirinya adalah pejuang-pejuang Islam. Bahwa apa yang mereka sampaikan itu dalam rangka menjaga kemurnian aqidah umat?

Mereka harus tahu sejarah. Kalau memang mereka mengaku-ngaku pengikut salaf dan generasi awal. Mereka harus tahu apa yang terjadi pada generasi awal ummat ini. Konflik antar sahabat pernah terjadi, sampai saling bunuh-bunuhan dan yang memicu itu adalah kaum Khawarij. Dan perlu mereka tahu, orang-orang Khawarij juga mengklaim diri mereka sebagai pejuang Islam, membunuh orang-orang Islam itu disebutnya jihad. Tapi Rasulullah lewat hadits-haditsnya menyebut mereka sebagai anjing-anjing neraka, mereka adalah penjelmaan Dajjal, seburuk-buruknya makhluk dan sebagainya. Padahal mereka itu adalah penghafal Qur’an, menghafal ribuan hadits, shalat malamnya Masya Allah, siangnya mereka puasa, tapi justru malah memusuhi umat Islam sendiri.

Solusinya?

Solusinya selain mengerahkan serdadu untuk menghentikan mereka, kita juga harus bertempur dalam dunia pemikiran, dengan menghadang syubhat-syubhat mereka. Yang bisa menulis, menulislah. Untuk memberikan penyadaran dan pencerahan pada masyarakat luas akan kondisi yang sebenarnya. Dan ulama-ulama harus menyadari tanggungjawabnya dalam menyadarkan ummat.

Tapi bukannya MUI [Majelis Ulama Indonesia] Pusat telah mencetak dan menyebarkan buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah?

Itu oknum MUI. Malah bahkan buku itu sudah saya bantah. Kalau buku saya salah, saya pasti sudah dipanggil MUI. MUI itu -kalau mau jujur- dibentuk oleh Soeharto justru untuk memecah belah ulama, khususnya para Kyai NU. Ayo kita hitung-hitungan, ada tidak jama’ah MUI? Kalau NU jamaahnya hampir 100 juta, bukan hanya terbanyak di Indonesia tapi juga ormas Islam terbesar di dunia. Intinya, betapa pentingnya menyadari, siapa yang jadi tuan rumah, siapa yang jadi tamu.

kh-alawi2Bagaimana tanggapan Kyai mengenai oknum yang mengatasnamakan NU kemudian hadir pada pertemuan-pertemuan yang menyerukan permusuhan kepada sesama muslim bahkan sampai mendeklarasikan gerakan anti-Syiah?

Kalaupun ada, itu hanya Kyai yang secara amaliah NU, tapi bukan orang struktur dalam organisasi NU. Kalau mewakili NU harus punya surat tugas. Itu sudah menjadi ketentuan organisasi. Misalnya, saya. Saya ini memiliki mandat dan bahkan surat tugas dari PB NU untuk mendata dan melindungi dan memberikan pencerahan kepada warga Ahlus Sunnah wal Jamaah dan masyarakat Nahdiyin dari pemahaman-pemahaman yang menyimpang. Menyebut Syiah kafir, itu menyimpang. Mereka muslim juga. Ilmu Allah itu sangat luas, bahkan tidak terbatas. Sehingga tidak mungkin hanya dikuasai oleh satu dua kiyai saja. Para kyai harus membuka mata. Orang lain juga punya ilmu. Kalau itu berbeda bukan berarti itu salah. (Baca juga: Ada Ulama NU yang Mengajak Perangi Syiah)

Harapan Pak Kyai sendiri untuk masyarakat Indonesia?

Harapan saya, dimulai dari ulama dulu. Jika ulamanya lurus, insya Allah masyarakatnya juga. Sekali lagi saya ulang, ilmu Allah itu sangat luas, ilmu yang sedikit tentu tidak bisa menggapainya. Kepada Nabi Saw sendiri dikatakan, tidak mengetahui, kecuali sedikit. Karenanya, orang lain juga punya ilmu, yang kalau berbeda tidak apa-apa. Minimal telusuri dulu sebelum memvonis itu salah. Kalau tidak mengetahui apa yang diketahui orang lain, bilang saja, tidak punya cukup uang untuk beli buku. Kan mudah? He..he.. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL