Lontong dan opor ayam penawar rindu kampung halaman, foto: Ahmad

Lontong dan opor ayam penawar rindu kampung halaman, foto: Ahmad

Oleh: Ahmad Muhakam Zein*

Berbeda dengan perayaan datangnya bulan Ramadhan yang disambut meriah,  perayaan Idul Fitri di Mesir justru terasa begitu sepi dan syahdu. Tidak sedikitpun ada semarak tradisi perayaan Lebaran. Tak ayal, suasana itu lantas dengan sendirinya membawa ingatan saya kepada kenangan akan kemeriahan perayaan Idul Fitri di Indonesia. Termasuk, kenangan segala kebersamaan, keharuan, dan kebahagiaan yang memancar dari setiap wajah-wajah fitrah orang terkasih.

Petang itu, di hari puasa ke-29 Ramadhan 1435 H, saya dan kawan-kawan serumah berbuka puasa sebagaimana biasanya. Tidak ada yang terasa istimewa selain hidangan es tamr hindi (ekstrak kurma) dan es sobiya (ekstrak gandum, roti, kayu manis, gula, dan kapulaga) sebagai menu wajib saat buka puasa.

Namun, rindu berlebaran di kampung halaman, menjadikan menu makanan yang istimewa seketika terasa  hambar. Padahal, karena malam itu diprediksi akan menjadi buka puasa terakhir, menu menarik khas Nusantara seperti tempe goreng, sup haikal (tulangan dan kulit), serta sambal terasi pun sudah tersaji di meja makan.

Penjaja makanan di pinggir jalan, foto: Ahmad

Penjual es tamr hindi dan sobiya, foto: Ahmad

Usai berbuka, kami menantikan pengumuman dari Lembaga Darul Ifta Mesir (Lembaga Fatwa Negara) sebagai lembaga resmi yang berhak menentukan awal Lebaran berdasar hisab dan rukyah hilal. Jika tidak memantau, bisa-bisa kami tidak tahu dan ketinggalan momen shalat Idul Fitri.

Sembari menanti dan bercerita banyak hal seputar keunikan perayaan malam Lebaran di daerah asal masing-masing, sebagian dari kami memasukkan beras yang sudah direndam ke dalam plastik untuk membuat lontong. Sebagian yang lain menyiapkan bumbu-bumbu dan aneka bahan untuk membuat opor ayam kampung. Ah, saya semakin rindu kampung halaman. Tapi apa boleh buat. Biarlah lontong, opor ayam dan tempe mendoan ini yang menjadi penawarnya.

Shalat Id di Masjid Al-Azhar

Shalat Id di Masjid Al-Azhar

Malam Lebaran kami lewati tanpa adanya riuh suara takbir atau suara petasan. Kami bersama-sama membersihkan rumah, sambil  mempersiapkan menu hidangan khusus hari Raya. Sebagian lainnya ada yang lantas asyik masyuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.

Salah satu kawan kami terlihat khusyuk mengisi malam Lebarannya dengan shalat malam, bermunajat dan bertakbir pelan. Suara tangis lirih dan sesenggukan sesekali terdengar hingga luar kamar. Mungkin dia sedang bercengkrama – dalam doanya— dengan mendiang orang tuanya. Pilu memang, ia ditinggalkan kedua orang tuanya semasa berada di Mesir tanpa sempat menghantarnya ke peristirahatan terakhir. Apalagi, berdasarkan keterangan dari Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, bahwasannya malam Lebaran adalah termasuk dari lima malam yang utama — apabila berdoa di malam tersebut akan dikabulkan Allah. Dalam beberapa hadits pun disebutkan anjuran dan keutamaan mengisi malam hari raya dengan amal-amal ibadah.

Lebaran Syahdu

Suasana shalat Ied, foto: Ahmad

Suasana keramaian hadiqah/taman saat hari raya Idul Fitri, foto: Ahmad

Karena tidak adanya program KBRI untuk mengadakan shalat Id buat masyarakat Indonesia di Mesir (Masisir), saya dan teman serumah memilih shalat Id di Masjid al-Azhar yang jaraknya dekat dari flat kami. Suasana di luar rumah tampak lengang ketika kami menyusuri jalanan gang rumah hingga Masjid al-Azhar. Waktu yang masih menunjukan pukul 05.15 CLT memang masih tergolong pagi bagi warga Mesir. Dari rumah hingga sampai Masjid al-Azhar, kami melewati beberapa masjid yang sudah lumayan ramai dan sedang mengumandangkan takbir berjamaah secara pelan dan datar. Di negeri ini, jumlah masjid yang tergolong banyak dengan jaraknya yang berdekatan tidak menjadi masalah. Masyarakat bebas memilih hendak shalat berjamaah di masjid yang dihekendaki tanpa ada intimidasi.

Suasana shalat Id, foto: Ahmad

Suasana keramaian hadiqah/taman saat hari raya Idul Fitri, foto: Ahmad

Usai shalat Id dan khutbah, kami berbaur dengan sebagian masyarakat Mesir untuk bersalaman maupun saling melontar tahniah dan doa hari Raya. Beberapa pemuda terlihat berjalan dari depan ke samping dan belakang shaf sambil membawa tas plastik yang di dalamnya berisi halawah (permen/manisan) khas Mesir. Beberapa anak kecil saling menyebarkan segenggam permen ke arah yang ia kehendaki.

Sementara di serambi masjid, ratusan orang terlihat berbaur dalam keceriaan dan berfoto bersama kelompoknya. Kami pun lantas ikut mencari sudut yang bagus untuk berfoto bersama teman serumah, maupun berfoto dengan beberapa kawan yang kebetulan kenal dan berjumpa di masjid. “Selamat Idul Fitri kawan, kullu sanah wa antum bikhair,” begitulah sapaan orang-orang Mesir yang kami jumpai di serambi masjid, maupun di jalan-jalan menuju rumah. Beberapa anak kecil bahkan iseng melempari kami petasan kecil atau mencipratkan air putih sebagai “sapaan” keakraban ala orang Mesir.

Bersilahturahiim bersama teman-teman, foto: Ahmad

Bersilahturahiim bersama teman-teman, foto: Ahmad

Di tempat berbeda, tepatnya di daerah Nasr City, kawasan sentra Masisir berada, sebagian besar dari mereka melaksanakan shalat Id di Suq Sayarat (pasar mobil) Nasr City bersama pribumi setempat. Usai melaksanakan shalat Id, mereka bersalam-salaman dan foto bersama dengan orang-orang yang dikenalnya. Sorenya, baru ada beberapa perkumpulan organisasi mahasiswa atau kedaerahan yang menggelar open house atau halal bihalal. Saya juga mendapatkan beberapa undangan menghadiri halal bihalal dari lembaga afiliatif dan perkumpulan daerah.

Sementara bagi pribumi Mesir, perayaan Lebaran identik dengan mengunjungi tempat wisata. Masyarakat Mesir memang tidak mengenal tradisi sungkeman dan saling bermaaf-maafan antar tetangga. Kalau pun ada saling berkunjung, itu hanya untuk keluarga dekat saja dan tidak lazim dilakukan. Mayoritas masyarakat Mesir justru lebih suka mengisi Lebaran Idul Fitri dengan berpesiar ke hadiqah (taman) atau ke tempat wisata lainnya. Bisa dipastikan, hampir semua tempat-tempat wisata di Mesir selalu penuh dengan pengunjung sejak hari pertama Lebaran. (LiputanIslam.com)

*Penulis adalah Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar, koordinator LBMNU div. Aktual Metodologis PCINU Mesir.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL