Lampu hias saat Ramadhan

Lampu hias saat Ramadhan

Oleh: Ahmad Muhakam Zein*

Menjalankan ibadah puasa Ramadhan di Mesir yang kultur Islamnya kuat, ternyata berbeda dengan menjalankan puasa di Indonesia. Yang begitu kentara adalah tradisi kedua negara dalam menyambut datangnya bulan suci penuh berkah ini. Dalam tulisan ini, penulis akan memaparkan beberapa keunikan berpuasa di Mesir, yang belum tentu ada di Indonesia.

Bagi mahasiswa (strata satu) Universitas al-Azhar yang berasal dari luar negeri, bulan Ramadhan hampir selalu masuk dalam kalender musim libur kuliah. Satu atau dua bulan sebelum Ramadhan, kegiatan kuliah biasanya sudah purna dan sudah pula menjalani ujian akhir tahun. Sekolah-sekolah lain dari jenjang terbawah hingga Aliyah pun sudah memasuki masa liburan di waktu yang hampir bersamaan dengan universitas. Masa aktif belajar dan masa liburan sekolah di sini memang telah diatur secara nasional dan digelar hampir serempak. Hanya tingkat diploma, magister, atau seatasnya yang biasanya pada bulan Ramadhan masih menjalani kegiatan kuliah ataupun sedang menjalani masa-masa ujian.

Mengisi bulan Ramadhan bagi para wafidin (sebutan pribumi Mesir untuk mahasiswa asing) bisa dengan berbagai agenda. Untuk yang berkantong tebal, tidak sedikit yang memilih umroh ke tanah suci. Sebagian mahasiswa berkantong tebal lainnya, banyak yang memilih pulang ke Indonesia untuk liburan sekaligus merayakan Ramadhan dan Lebaran bersama keluarga besarnya. Sedangkan bagi mahasiswa yang berkantong tipis, menjalani puasa Ramadhan dan Lebaran di negeri Seribu Menara agaknya menjadi opsi satu-satunya. Sebab, Mesir-Indonesia yang jaraknya ribuan kilometer haruslah ditebus dengan biaya yang tidak sedikit agar bisa berkumpul bersama keluarga.

 Mesir bermandikan cahaya, foto: Ahmad

Mesir bermandikan cahaya, foto: Ahmad

Namun, pilihan berpuasa dan berlebaran di Mesir ini jika dimaksimalkan justru bisa menghasilkan keuntungan yang tak terganti materi. Sebab dibulan puasa, para dosen al-Azhar mengadakan pembacaan kitab-kitab khusus yang dikaji selama Ramadhan berikut ijazah sanadnya. Beberapa mathaf (museum) atau komunitas seni, sastra dan budaya selama Ramadhan juga menyelenggarakan beragam event khusus yang umumnya gratis atau lebih murah dari hari-hari biasa.

Ramadhan Istimewa  

Bulan Ramadhan di Mesir adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu dan istimewa. Warga Mesir menampakkan suka citanya menyambut Ramadhan. Rumah-rumah saling berlomba mempercantik diri dengan hiasan lampu-lampu hias, fanous (lampion) atau pernak-pernik penghias lainnya.

Di awal bulan puasa, mereka  pun memperhias diri dengan memakai baju baru yang sudah mereka persiapkan sebelumnya. Jadilah kemeriahan awal bulan puasa di Mesir tak ubahnya kemeriahan Idul Fitri di Indonesia. Jika di Indonesia yang dirayakan sangat meriah adalah perayaan hari Lebaran, di Mesir ini yang lebih meriah adalah perayaan penyambutan datangnya bulan puasa atau hari Idul Adha. Uniknya, di hari Lebaran tidak ada tradisi unik macam mudik, sungkeman atau tradisi perayaan masif lainnya dalam menyambuti datangnya hari raya Idul Fitri sebagaimana yang ada di Indonesia.

Bagi mahasiswa Indonesia di Mesir, kami tidak turut serta mengikuti tradisi setempat dalam hal memakai baju baru. Kami pun tidak ada persiapan khusus menyambuti datangnya Ramadhan. Praktis kami menjalani kehidupan yang normal sebagaimana biasa.

Pedagang pernak-pernik, foto: Ahmad

Pedagang pernak-pernik, foto: Ahmad

Beberapa hari sebelum Ramadhan, penulis beserta sebagian kawan mengadakan ziarah ke makam para aulia yang terdapat di sekitar tempat tinggal kami. Selain itu, sehari sebelum Ramadhan kami sempatkan sekadar jalan-jalan berbaur menikmati kemeriahan penyambutan datangnya bulan suci sambil berburu kitab-kitab yang akan kami ikuti pengajiannya selama Ramadhan.

Penentuan awal puasa Ramadhan di Mesir sendiri tidak pernah ada perbedaan, meski di Mesir terdapat berbagai aliran tarekat dan menganut empat mazhab. Kaum Muslim di Mesir sepakat bahwa yang menentukan kapan awal puasa adalah pihak berkompeten yang ada dalam lembaga Darul Ifta (Lembaga Fatwa Negara) Mesir. Oleh Darul Ifta, ditetapkan bahwa acuan masuknya bulan Ramadhan serta bulan-bulan baru lainnya dalam kalender qamariah berdasar rukyat terhadap hilal yang dilakukan setiap tanggal 29 di tiap akhir bulan qamariyah. Dan jika pada saat itu hilal tidak mampu terlihat, maka haruslah menyempurnakan bulan menjadi 30 hari. Penggunaan metode hisab tidak bisa menjadi penentu utama awal bulan dan hanya digunakan untuk menafikan rukyat tatkala rukyat hilal tidak memungkinkan menurut hisabnya.

Rumah-rumah dihias, foto: Ahmad

Rumah-rumah dihias, foto: Ahmad

Berpuasa di bumi Kinanah awalnya terasa berat,  namun ini adalah pengalaman  istimewa. Berat karena harus menjalani puasa tanpa adanya keluarga tercinta, juga karena puasa dengan durasi waktu lebih lama. Saat musim panas, suhu di Kairo bisa mencapai 40-50 derajat, malamnya cenderung lebih pendek. Waktu Imsak jatuh sekitar pukul 03.00 dan waktu Maghrib ada pada kisaran jam 19.15 CLT.

Hari paling berat tentu saja di hari-hari pertama puasa. Tahun kemarin penulis kebetulan berpuasa di Indonesia hanya 13 jam, di sini penulis harus berpuasa hingga 16 jam di tengah puncak musim panas Kairo. Karena penulis ikut mengaji di salah satu auditorium dekat kampus al-Azhar sejak hari pertama, berbuka puasanya pun sudah ditanggung oleh pihak penyelenggara. Satu nampan besar nasi Bukhari dengan lauk daging sapi dan sayuran khas Mesir menjadi menu buka puasa untuk disantap bersama tiap enam orang. Saat pulang, tak lupa penulis mampir di penjual ‘asyir tamr (sari kurma). Satu bungkus plastik besar cukup kami tebus dengan uang 3 Le (sekitar lima ribu rupiah) sebagai pelengkap pelepas dahaga.

Yang istimewa, nuansa religius Ramadhan dari lingkungan dan masyarakat Mesir begitu terasa. Di bulan suci ini, banyak dijumpai orang-orang membaca al-Quran di kereta, atau kendaraan umum. Mereka juga menjadi begitu mudah bersedekah, baik itu sedekah doa, uang, sembako atau menyediakan maidaturrahman (menu berbuka puasa) di sejumlah lokasi yang berbeda-beda. Bangunan besar semi permanen pun banyak didirikan di tepi-tepi jalan untuk menyuguhkan menu berbuka puasa secara gratis.

Kajian agama di bulan puasa

Kajian agama di bulan puasa

Masjid-masjid di Mesir pun seperti berlomba menyediakan tempat tarawih spesial dengan Imam yang fasih dan jumlah rakaat yang berbeda-beda. Ada yang hanya delapan rakaat, ada pula yang dua puluh rakaat seperti tarawih yang penulis ikuti di masjid al-Azhar.

Umumnya, shalat tarawih di Mesir tiap satu malam menghatamkan satu juz penuh. Meski lebih lama jika dibanding keumuman tarawih di Indonesia, barisan shaf di masjid-masjid tidak hanya penuh di awal puasa saja. Justru, ketika memasuki sepertiga akhir Ramadhan, masjid menjadi lebih berjubel oleh orang yang tarawih, tadarus maupun iktikaf. Dan alangkah indahnya jika sisi positif dari tradisi bulan Ramadhan di Bumi Seribu Menara ini bisa menjadi teladan bagi Indonesia tercinta. Semoga! (LiputanIslam.com)

 

 

*Penulis adalah mahasiswa Universitas al-Azhar yang bergiat di Rumah Budaya Akar Mesir.

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL