Jakarta, LiputanIslam.com –Kontestasi  pilpres Indonesia 2019 dipastikan akan diikuti oleh dua pasangan calon. Jokowi dan Prabowo yang pada pilpres 2014 lalu bersaing, akan kembali bertarung memperebutkan kursi presiden periode 2019 – 2024. Akan tetapi, kali ini, keduanya akan didampingi oleh pasangan cawapres yang berbeda. Jika pada 2014 Jokowi  didampingi oleh Jususf Kalla dan Prabowo didampingi Hatta Radjasa, untuk kontestasi tahun depan, Jokowi didampingi oleh Ma’ruf Amin sedangkan Prabowo didampingi Sandiaga Uno. Ma’ruf Amin adalah Ketua MUI dan Rais Aam PBNU. Sedangkan Sandiaga Uno adalah Wakil Gubernur Jakarta dan Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.

Kedua pasangan akan mendaftar ke KPU hari ini. Pasangan Jokowi-Ma’ruf akan mendaftar Jumat (10/8/2018) pagi hari, sedangkan pasangan Prabowo-Sandi dijadwalkan mendaftar siang selepas Shalat Jumat. Deklarasi kedua pasangan calon ini disampaikan Kamis sore dan malam (9/8/2018).

Para pengamat menyebut bahwa deklarasi tersebut berlangsung lewat drama yang cukup ketat, terutama yang terjadi di kubu Prabowo.  Untuk kubu Jokowi, deklarasi disampaikan sekitar jam 18.00 WIB, selepas Maghrib. Meskipun tidak terlalu ketat, akan tetapi tetap saja ada cukup banyak pihak yang menyebut penetapan cawapres ini mengandung unsur kejutan. Tadinya, banyak yang meyakini bahwa pendamping Jokowi adalah Mahfud MD, mantan Ketua MK. Ternyata, yang dipilih oleh Jokowi adalah Ma’ruf Amin. Para pengamat menyatakan bahwa Ma’ruf Amin akhirnya dipilih oleh Jokowi karena posisinya sebagai ketua MUI. Dengan demikian, Jokowi bisa dengan mudah meng-counter isu-isu anti Islam dan anti ulama yang selama ini dialamatkan ke kubu Jokowi. Selain itu, penunjukkan Ma’ruf Amin juga dilatarbelakangi oleh alasan bahwa Ma’ruf Amin sudah sepuh, sehingga tidak dimungkinkan untuk menjadi kandidat capres 2024 mendatang.

Pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin didukung oleh koalisi sembilan partai, yaitu PDIP, Golkar,PKB, Nasdem, Hanura, PPP, Perindo, PSI, dan PKPI.

Drama yang lebih menegangkan terjadi di kubu Prabowo. Deklarasi pasangan Prabowo-Sandiaga dilakukan hampir tengah malam. Nama Sandiaga Uno yang sebelumnya tak pernah disebut-sebut sebagai cawapres, tiba-tiba saja muncul dalam dua hari terakhir. Sandiaga Uno akhirnya dipilih mengalahkan para calon yang selama ini santer disebut-sebut, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono, Salim Segaf Al-Jufri, Ustaz Abdul Shomad, Gatot Nurmantyo, dan beberapa nama lainnya.

Pasangan Prabowo-Sandiaga didukung oleh Gerindra, PKS, dan PAN. Adapun Partai Demokrat, yang tadinya sempat menyatakan berada di kubu Prabowo, tadi malam, saat deklarasi disampaikan, tidak ikut menandatangani surat deklarasi. Berita terakhir menyebutkan, bahwa Partai Demokrat akhirnya menandatangani surat dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Ada Politik Transaksional?

Beberapa waktu sebelumnya, Demokrat menyatakan akan mengusung Prabowo sebagai calon presiden. Soal cawapres pendamping Prabowo, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono saat itu menyatakan bahwa Demokrat menyerahkan sepenuhnya kepada Prabowo. Namun, menjelang penutupan pendaftaran, muncul isu bahwa ada politik transaksional yang dilakukan Prabowo dalam memilih cawapresnya. Kompas menyatakan bahwa Isu ini dihembuskan oleh Wasekjen Demokrat Andi Arief pada Rabu (8/8/2018) lewat cuitan twitternya. Andi menuding Sandiaga Uno membayar PKS dan PAN masing-masing Rp 500 Miliar untuk mendapatkan kursi cawapres Prabowo. Menurut Andi, karena hal tersebut, Demokrat kemungkinan batal mengusung Prabowo.

Baik Gerindra, PAN dan PKS telah membantah pernyataan Andi. (os)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*