kyai nu

Judul Buku: Kyai NU dan Imam Marja Syiah Memutilasi Salafi Wahabi

Penulis: Kyai Alawi Nurul Al-Bantani

Penerbit: Pustaka Aura Semesta

Cetakan: I, 2014

Tebal: 132 Halaman

Harga: Rp. 35.000,-

Apa jadinya bila ulama-ulama Nahdatul Ulama (NU) dan para ulama Syiah bersatu dalam melawan pemikiran ekstrim dari Salafi Wahabi? Ya, jauh sebelum intelektual muda NU Kyai Alawi Nurul Al-Bantani mengikuti konferensi ulama sedunia untuk melawan gerakan Takfiri di Qom, Iran, ia telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul ‘Kyai NU dan Imam Marja Syiah Memutilasi Salafi Wahabi’. Buku ini, disusun dengan ringan namun padat, dengan bahasa yang mudah dipahami.

Di bab-bab awal, Kyai Alawi mengungkap berbagai fakta yang sering dikaburkan atau ditutupi, seperti adanya perawi-perawi  Syiah yang tsiqah dalam kitab yang disusun oleh Imam hadist Ahlussunah. Jika Syiah itu sesat dan kafir – sebagaimana masifnya tuduhan yang dilayangkan oleh kelompok takfiri saat ini, lalu bagaimana dengan ‘nasib’ hadist-hadist tersebut? Sedangkan periwayatan mereka ada pada hadist dari Imam Bukhari, Musnad Ahmad, dll. (3-18)

Kyai Alawi, yang begitu gencar menyerukan persatuan ummat antar mazhab,  melihat bahwa ada beberapa penyebab yang membuat ummat Islam sampai hari ini masih terkotak-kotakkan, antara lain karena;

  1. Adanya ‘desainer’ yang memang menginginkan agar ummat Islam selalu berperang antar mazhab.
  2. Egoisme dalam memandang kebenaran suatu mazhab.
  3. Selalu menonjolkan diri dalam peribadahan sunnah padahal yang wajib masih banyak yang harus diperbaiki.
  4. Tidak adanya kajian komprehensif dalam sebuah institusi Islam yang ‘berkarakter’ menjaga kemashalatan ummat.
  5. Fanatik.

Kyai Alawi menekankan pentingnya membina persatuan antara sesama ummat Islam dalam bingkai NKRI yang ber-Bhineka Tunggal Ika. Menurutnya, hal itu lebih bermanfaat daripada terus menerus saling mempertentangkan isu Sunni-Syiah. Menurutnya,  antara Sunni dan Syiah yang menghendaki hidup berdampingan dan berkasih sayang, tentu harus mampu menahan diri dari melakukan hal-hal yang melukai salah satunya. Yang lalu, biarlah menjadi masa lalu. Yang urgent hari ini adalah, membentengi diri dari ideologi radikal yang diusung oleh kelompok Salafi Wahabi, yang mudah menyesatkan, mengkafirkan, atau yang paling mengerikan, saat pemikiran radikal ini bermanifestasi sebagai kelompok-kelompok teroris transnasional yang kini tengah beroperasi di Timur Tengah. (85-92)

Ada banyak pesan-pesan ulama yang disampaikan di dalam buku ini. Mulai dari pesan Kyai Aqil Siradj (Ketua Umum PBNU), Kyai Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ayatullah Husein Fadlullah, Ayatullah Khomeini, Ayatullah Khamenei, Sayyid Hassan Nasrullah, dan mantan Presiden Iran, Ahmadinejad. Kesemuanya, menyerukan agar ummat Islam bersatu, bahu membahu, dan tidak mudah dipecah belah oleh musuh-musuh Islam.

Yang tak kalah menarik, Kyai Alawi menuturkan betapa dekatnya kultur antara NU dan Syiah. Berbagai macam amalan yang sering dilakukan oleh warga NU, ternyata juga dilakukan oleh muslim Syiah. Misalnya; tawassul, tabbaruk, tahlilan. Jika Syiah mencintai Ahlul Bait, maka begitu pula halnya dengan NU, yang termaktub dalam syair, tarian, hikayat, cerita kepahlawanan keluarga Nabi Saw, peringatan Asyura, hingga rebo wekasan.

Kyai Alawi menyelipkan sebuah ayat yang semestinya, menjadi renungan bagi kita semua, ”Dan sungguh, (agama Tauhid/Islam) inilah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing). Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai waktu yang ditentukan. (Qs. 23: 52-54). (ba/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL