NewYork, LiputanIslam.com –  Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak Arab Saudi agar menghentikan perangnya di Yaman, menyusul insiden serangan ke Aramco yang mendorong AS menuduh Iran bertanggungjawab atasnya.

“Keamanan Saudi akan terjamin dengan diakhirnya perang di Yaman, bukan dengan mengundang pihak-pihak asing,” ujarnya dalam pidato di rapat Majelis Umum PBB, Rabu (25/9/2019).

Dia mengajak negara-negara terdampak perkembangan situasi di Timteng bergabung dengan “Aliansi Harapan” untuk kerja sama mewujudkan keamanan energi, kebebasan pelayaran, dan aliran minyak.

“Prakarsa ini mencakup berbagai bidang, seperti kerja kolektif untuk mewujudkan keamanan energi, kebebasan pelayaran, dan aliran minyak dari dan ke Selat Hormuz dan seterusnya,” lanjut Rouhani.

Baca: Trump di PBB Kecam Iran Terkait Insiden Aramco

Dia menjelaskan, “Aliansi ini bertumpu pada prinsip-prinsip penting, di mana yang terpenting di antara ialah prinsip non-agresi dan non-intervensi urusan internal satu sama lain.”

Dia juga menyebutkan keharusan adanya payung PBB untuk legalitas aliansi keamanan ini, sedangkan “pembentukan aliansi semacam itu oleh pihak asing tergolong campur tangan terhadap urusan kawasan (Teluk Persia)”.

Lebih lanjut dia mengungkapkan penolakannya terhadap perundingan Iran dengan AS selagi Washington masih menerapkan sanksi terhadap Teheran. Dia mengaku tidak mementingkan urusan mengambil “foto kenang-kenangan” dengan Presiden AS Donald Trump.

“Ingin saya umumkan bahwa respon kami terhadap perundingan di bawah sanksi ialah ‘tidak’,” tegas Rouhani.

Baca: PM Pakistan: Trump dan Bin Salman Minta Saya Tengahi Urusan dengan Iran

Mengenai upaya para pemimpin Eropa untuk mempertemukan Rouhani dengan Trump demi meredakan ketegangan antara Iran dan AS, Rouhani menolak apa yang disebutnya kesempatan untuk pengambilan gambar dirinya dengan Trump yang “haus propaganda”.

“Pengambilan gambar akan menjadi tahapan terakhir, bukan tahapan awal perundingan,” imbuhnya.

Presiden Iran meragukan kejujuran AS soal perundingan dengan Iran, mengingat bahwa, menurutnya, para pejabat AS berbangga dengan dampak sanksi mereka terhadap Iran.

“Kami tidak bisa mempercayai ajakan perundingan oleh orang-orang yang merasa telah menerapkan sanksi tersengit dalam sejarah terhadap kehormatan dan pertumbuhan bangsa kami,” tegas Rouhani.

Dia menyoal, “Bagaimana mungkin seseorang dapat percaya kepada mereka ketika para pejabat AS menyambut baik pembunuhan terhadap sebuah bangsa yang besar dengan aksi bungkam, dan menekan kehidupan 83 juta orang Iran, terutama kaum perempuan dan anak-anak kecil. Bangsa Iran selamanya tidak akan pernah melupakan dan memaafkan kejahatan ini.” (mm/ raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*