Teheran, LiputanIslam.com –  Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayid Ali Khamenei kembali menegaskan penolakan keras negaranya terhadap perundingan dengan Amerika Serikat (AS).

“Sebagian orang mengira bahwa perundingan ini akan dapat mengatasi problematika negara. Padahal pikiran demikian salah besar, sebab pihak lawan akan menganggap Iran menyerah ketika bersedia berunding. Mereka ingin menetapkan bahwa tekanan maksimal (terhadap Iran) merupakan kebijakan yang benar, dan karena itu mereka tidak akan bersedia memberikan konsesi apapun,” ungkap Ayatullah Khamenei.

Dia menyebut penolakan terhadap perundingan itu sebagai “salah satu cara menutup jalan bagi pengaruh AS”.

“Bagi negara arogan AS yang menerapkan persyaratan untuk kesediaannya duduk berunding dengan para pemimpin negara lain tentu saja sulit bersikeras untuk berunding dengan para pemimpin Republik Islam Iran sejak beberapa tahun lalu, sementara Republik Islam Iran enggan terhadapnya. Ini menunjukkan bahwa di dunia ini ada suatu bangsa yang pantang tunduk terhadap kekuatan thaghut AS,” tegasnya.

Ayatullah Khamenei memastikan sia-sia AS berusaha meniadakan ataupun membatasi kekuatan rudal Iran.

“Berkat anugerag Allah swt dan kepedulian para pemuda negeri ini, Iran memiliki ruda-rudal berjarak jelajah 2000 kilometer dengan presisi yang memungkinkannya membidik target apapun dengan selisih hanya satu meter saja,” tuturnya.

Dia menambahkan, “Seandainya dulu kita pergi berunding niscaya AS sudah mengangkat isu rudal dengan mengatakan bahwa rudal Iran tidak boleh memiliki jarak tempuh lebih dari 150 kilometer.”

Baca: Presiden Iran Layangkan Surat ke Negara-Negara Arab Teluk Persia

AS pada tahun lalu keluar secara sepihak dari perjanjian nuklir Iran dengan enam negara besar dunia, yaitu AS, Inggris, Prancis, Rusia, Cina, dan Jerman. Perjanjian ini sedianya ditujukan untuk mencegah Iran memiliki arsenal nuklir, dan negara inipun diberi imbalan berupa keuntungan-keuntungan ekonomi.

Selanjutnya, AS melancarkan tekanan maksimal terhadap Iran untuk memaksa negeri mullah ini berunding lagi dengan AS demi mencapai kesepakatan yang melampaui isu nuklir Iran.

Baca: AS Harus Belajar Menghormati Bangsa Iran

Namun, alih-alih menyerah kepada tekanan itu, Iran justru melakukan pembekuan terhadap banyak komitmennya kepada perjanjian nuklir yang dinamai Joint Comprehensive Plan of Action/JCPOA tersebut.

Pembekuan ini dilakukan Iran demi menekan negara-negara lain yang terlibat dalam JCPOA agar melakukan tindakan kongkret untuk menjamin keuntungan ekonomi Iran yang telah dicanangkan dalam JCPOA di depan tekanan dan embargo AS. (mm/alalam/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*