Nicosia, LiputanIslam.com –   Kelompok Islamis khwanul Muslimin (IM) menuduh pemerintah Mesir melakukan “pembunuhan perlahan” terhadap mantan presiden Mohamed Morsi, yang meninggal aat menghadiri persidangan di Kairo, Senin (17/6/2019).

Dalam sebuah pernyataan berjudul “Pembunuhan Presiden Mohamed Morsi” di portal internetnya, Partai Keadilan dan Kebebasan milik IM menegaskan, “Mereka (pemerintah Mesir) menempatkannya di sel isolasi selama masa penahanan lima tahun. Mereka mencegahnya dari obat-obatan, memberinya makanan yang buruk, mencegahnya dari dokter dan pengacara, bahkan dari keluarganya, mencegahnya dari hak asasi manusia yang paling dasar, dengan tujuan membunuhnya secara perlahan. ”

Sementara itu, Abdel-Razzaq Maqri, kepala Gerakan Masyarakat untuk Perdamaian, partai Islam terbesar di Aljazair, mengomentari kematian Morsi dengan mengucapkan, ” Semoga Allah merahmati Anda, Presiden Mesir yang sah dan tertindas….  Kami memohon kepada Allah agar mewudukan kebenaran di Negeri Kananah (Mesir) dan menolong setiap orang yang tertindas.”

Baca: Mesir Bungkam Soal Iran, Akademikus Kondang Saudi Kesal

Amnesti International menyerukan kepada otoritas Mesir agar melakukan penyelidikan komprehensif, transparan dan adil terkait kematian Morsi.

“Kami menyerukan kepada pihak berwenang Mesir untuk melakukan penyelidikan yang tidak memihak, menyeluruh, dan transparan mengenai keadaan kematiannya dan keadaan penahanannya, termasuk kurungan isolasi dan pengucilan dari dunia luar,” seru organisasi itu dengan tulisan berbahasa Arab di akun Twitter-nya.

Kelompok pejuang Hamas di Palestina menyebut Morsi telah “menghabiskan usianya dalam perjuangan panjang untuk mengabdi kepada Mesir dan rakyatnya serta demi menyelesaikan persoalan umat, terutama terkait isu Palestina di semua tingkat regional dan internasional.”

Hamas menambahkan bahwa Morsi “telah memberikan banyak pembelaan untuk Quds dan al-Aqsa sejak ia menjadi anggota parlemen Mesir”.

Sebelumnya pada hari Senin, televisi pemerintah Mesir mengumumkan kematian Morsi selama persidangannya.

Baca: Ribuan Mahasiswa Al-Jazair Demo Antek-antek Bouteflika di Pemerintahan

Morsi adalah presiden pertama yang terpilih secara demokratis dalam sejarah Mesir pada tahun pada 2012, menyusul revolusi rakyat yang memaksa diktator Hosni Mubarak (1981-2011) mundur.

Pada 3 Juli 2013, militer Mesir menggulingkan Morsi yang merupakan anggota IM, setelah hanya satu tahun berkuasa. Para pendukungnya menyebut tindakan militer Mesir itu sebagai sebagai “kudeta militer”, sedangkan pihak lawannya menyebutnya sebagai “revolusi rakyat.”

Abdul Fattah al-Sisi yang saat itu menjabat menteri pertahanan dan kini menjadi presiden Mesir adalah orang yang bertanggungjawab dalam penggulingan Morsi, sebelum kemudian mengambil alih kekuasaan pada pertengahan 2014. (mm/railayoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*