Baghdad, LiputanIslam.com –  Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi menyatakan prihatin atas maraknya unjuk rasa yang berubah menjadi kerusuhan, dan mengaku siap bertemu dengan para penggerak unjuk rasa untuk membahas tuntutan mereka.

Perdana Menteri Irak Adil Abdul-Mahdi, Kamis malam (3/20/2019), mengatakan tidak ada “solusi ajaib” untuk masalah-masalah seperti pengangguran dan korupsi, tapi dia akan memulai upayanya dengan mengeluarkan undang-undang mengenai penghasilan dasar bagi keluarga miskin.

Dalam pidato yang disiarkan televisi ketika para pemrotes di seluruh Irak menyerukan agar dia mengundurkan diri, Abdul-Mahdi meminta parlemen, di mana koalisinya mayoritas, untuk memberinya dukungan agar dapat merombak kabinetnya demi memenuhi tuntutan rakyat.

Baca: Aparat Irak Gagalkan Upaya Teror atas Ayatullah Sistani

Dia mengatakan para pemrotes “benar” ketika menyerukan pemberantasan korupsi namun itu hanya akan tercapai setelah pemerintah diperkenankan melakukan pekerjaannya.

Sebelumnya di hari yang sama, kantor Abdul-Mahdi mengeluarkan pernyataan yang menyerukan dialog dan kesiapannya bertemu dengan “perwakilan demonstran damai untuk mempertimbangkan tuntutan sah mereka.”

Beberapa warga Irak mengatakan mereka telah menerima pesan teks dari kantor Abdul-Mahdi yang mencakup hotline bagi mereka untuk menelepon dan menyuarakan keluhan mereka.

Baca: PM Irak Terapkan Jam Malam Menyusul Aksi Demo Rusuh

Laporan terbaru menyebutkan bahwa aksi unjuk rasa tetap terjadi pada hari Kamis meskipun jam malam telah diumumkan oleh Perdana Menteri Irak untuk beberapa kota setelah mengadakan pertemuan darurat dengan anggota Dewan Keamanan Nasional.

Demonstrasi meletus sejak Selasa demi memrotes tingginya tingkat pengangguran dan buruknya layanan publik.

Beberapa pengunjuk rasa mengatakan bahwa mereka seharusnya mendapatkan kehidupan yang lebih baik karena mereka hidup di negara dengan beberapa sumber energi terbesar di dunia.

Baca: AS Bermain di Balik Kerusuhan Irak

Para pengunjuk rasa berusaha untuk mencapai Tahrir Square, yang telah ditutup oleh polisi bersama dengan jembatan terdekat yang mengarah ke Zona Hijau, kawasan yang ditempati kantor-kantor pemerintah dan kedutaan asing.

Polisi hmenggunakan granat kejut, peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan para demonstran saat mereka mendorong untuk melewati penghalang. Bentrokan terjadi dan menjatuhkan sejumlah korban jiwa dan luka.

Menteri Dalam Negeri dan Kesehatan Irak dalam statemennya menyesali adanya kekerasan dan menyebutkan bahwa  “sekelompok perusuh” telah menyusup ke tengah para demonstran.

Ulama muda berpengaruh Irak Sayid Muqtada al-Sadr, Kamis, menyerukan penyelidikan atas bentrokan yang terjadi dan menuntut Adel-Mahdi mundur. (mm/presstv/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*