Teheran, LiputanIslam.com –  Badan Tenaga Atom Iran secara resmi mengumumkan dimulainya aktivitas pengayaan uranium di fasilitas nuklir Fordow sebagai kelanjutan dari pengurangan komitmennya kepada perjanjian nuklir multinasional yang diteken pada tahun 2015.

Dalam rangka ini Iran merilis gembar-gambar yang menunjukkan dimulainya pengoperasian mesin-mesin sentrifugal di Fordow.

“Pengayaan dan produksi uranium di Fordow telah dimulai lagi,” ungkap Badan Tenaga Atom Iran dalam statamennya yang dirilis pada hari Rabu (6/11/2019), sembari menyebutkan dimulainya injeksi gas uranium pada 696 unit mesin sentrifugal untuk pengayaan uranium generasi IR1.

Menurut statemen itu, pengeperasian tersebut dimulai pada hari Kamis (7/11/2019) pada pukul 00:00 waktu setempat setelah pemindahan silinder 2.800 kilogram berisi 2.000 kilogram UF6 (uranium hexafluoride) dari fasilitas nuklir Natanz ke Fordow, dekat kota Qom, tempat 1.044 sentrifugal dipasang.

Baca: Rouhani Umumkan Fase Keempat Pemangkasan Komitmen Nuklir Iran

Kesepakatan nuklir 2015, yang secara resmi dikenal sebagai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), memungkinkan sentrifugal IR-1 generasi pertama di Fordow berputar tanpa gas uranium.

Juru bicara Badan Tenaga Atom Iran Behrouz Kamalvandi sebelumnya mengatakan injeksi uranium hexafluoride sedang dipantau oleh inspektur dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Baca: Ini Reaksi Eropa Usai Iran Umumkan Pemangkasan Komitmen Nuklir

Kamalvandi mengatakan pabrik itu kemudian akan melanjutkan pengayaan uranium, dan tingkat kemurnian pengayaan akan mencapai 4,5 persen pada hari Sabtu, ketika inspektur akan kembali untuk memeriksa prosesnya lagi.

Seorang juru bicara IAEA mengonfirmasi bahwa inspektur PBB berada di Iran dan akan melaporkan kembali kegiatan yang relevan.

Langkah keempat dalam pengurangan komitmen Iran pada awalnya diumumkan oleh Presiden Hassan Rouhani Selasa lalu. Melalui halaman Twitter-nya Rabu kemarin Rouhani lantas mengkonfirmasi bahwa injeksi gas akan dimulai hari ini.

Teheran menegaskan bahwa penangguhan komitmen itu bukan merupakan pelanggaran terhadap JCPOA melainkan bersandar pada Pasal 26 dan 36 perjanjian itu sendiri.

Nasib kesepakatan Iran telah diragukan sejak Mei 2018, ketika AS tiba-tiba meninggalkan kesepakatan dan menerapkan lagi sanksi anti-Iran yang telah dicabut sebagai bagian dari JCPOA. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*