Riyadh, LiputanIslam.com –  Pegiat media sosial Arab Saudi pengguna akun Twitter “@mujtahidd” mengabarkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed Bin Salman kecewa berat terhadap sikap Presiden AS Donald Trump terkait dengan serangan yang telah menimbulkan kebakaran hebat di dua pabrik raksasa minyak Saudi di kawasan Abqaiq (Buqaiq) dan Khuraish.

“Bin Salman kecewa berat karena AS telah memberitahukan kepadanya keinginan untuk menghukum Iran atas pemboman terhadap Abqaiq, tapi tidak menghendaki serangan ke dalam wilayah Iran karena khawatir terjadi konfrontasi total,” cuit Mujtahidd, dini hari Senin (15/9/2019).

Dia menambahkan, “Perhatian sekarang tertuju pada hukuman terhadap Iran dengan serangan terhadap al-Hashd al-Shaabi di Irak, yang dilimpahi tanggungjawab oleh AS.” Al-Hashd al-Shaabi adalah pasukan relawan Irak yang bersekutu dengan Iran.

Baca: Geram dengan Tuduhan AS, Jenderal IRGC Nyatakan Siap Berperang

Menurut Mujtahidd, Bin Salman kecewa karena dia “menghendaki serangan telak terhadap Iran sendiri, tanpa menyadari dampak-dampak konfrontasi total.”

Sehari sebelumnya, Gedung Putih menegaskan keinginan Trump mengadakan pertemuan dengan sejawatnya dari Iran, Hassan Rouhani, meskipun Washington menuding Teheran berada di balik serangan mematikan tersebut.

Sementara itu, pakar militer Kol. Abdul Ghani al-Zubaidi kepada saluran TV al-Alam milik Iran, Ahad, mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan pesan bagi Saudi dan AS.

Dia menjelaskan bahwa AS-lah yang mengatur pasukan koalisi yang dipimpin Saudi dalam agresinya terhadap Yaman, dan AS pula pihak yang paling diuntungkan oleh agresi itu. Dengan berkobarnya Perang Yaman, AS telah meraup dana miliaran Dolar dari penjualan senjatanya kepada Saudi dan sekutunya.

Namun, lanjut al-Zubaidi, meski Saudi sudah habis-habisan berbelanja senjata demi kelangsungan perang di Yaman, ujung-ujungnya berbagai pihak di Saudi kini menyoal optimalitas dukungan AS kepada agresi Saudi dan sekutunya ke Yaman karena Saudi dan sekutunya kini semakin terbukti rentan serangan dari pihak Ansarullah yang mereka gempur.

Baca: Serangan Drone Ansarullah Lumpuhkan Separuh Volume Produksi Minyak Saudi

Al-Zubaidi menyinggung kasus serangan sebelumnya yang menerjang ladang minyak al-Shaybah milik Saudi. Menurutnya, pasukan Ansarulllah bahkan sebenarnya bisa menghancurkan ladang minyak itu secara total, tapi pihak pimpinan Ansarullah enggan melakukan sejauh itu semata karena faktor perencanaan strategis serta aspek kemanusiaan dan moral.

Baca: Soal Serangan Ansarullah ke Aramco, Para Pakar Meledek Tudingan Menlu AS terhadap Iran

Mengenai sejauh mana kepedulian AS kepada Saudi, dia menyebutkan bahwa Aramco adalah “sapi perah” terbesar, bukan Saudi itu sendiri, dan karena itu jika Saudi terancam bahaya maka yang diprioritaskan oleh Washington hanyalah sektor perminyakannya saja, sementara sektor ini juga merupakan pemicu utama agresi Saudi terhadap Yaman. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*