Sanaa, LiputanIslam.com –   Kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) di Yaman menyatakan kesiapannya menghentikan serangan ke Arab Saudi dengan syarat bahwa pihak musuhnya itu juga melakukan hal yang sama.

Hal itu dikatakan oleh Ketua Dewan Tinggi Politik, otoritas politik kubu Ansarullah dan sekutunya, Mahdi al-Mashat, dengan ketua International Crisis Group (ICG) Robert Malley yang juga mantan penasehat presiden AS di era Barack Obama, Selasa (23/7/2019).

Kedatangan Malley sendiri ke Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai Ansarullah, merupakan satu peristiwa langka, karena Malley adalah warga negara AS yang pemerintahnya menyokong dan membantu invasi militer Saudi dan sekutunya terhadap Yaman.

Seperti dilansir kantor berita Yaman, Saba, dalam pertemuan ini al-Mashat menegaskan pihaknya “siap sepenuhnya menghentikan serangan rudal dan udara dengan imbalan langkah yang sama oleh pihak lawan, serta difasilitasinya penyaluran bantuan pokok melalui pelabuhan-pelabuhan laut, dan kemudian dilaksanakannya proses politik dalam suasana tenang.”

Baca: Houthi Ancam Tak akan Hentikan Serangan Jika Saudi Masih Gempur Yaman

Dia menambahkan, “Tak ada kendala bagi kami mengenai kemungkinan dimulainya dialog Yaman-Saudi demi terwujudnya perdamaian yang adil bagi semua.”

Al-Mashat memastikan Ansarullah tidak mengekor pada Iran sebagaimana diklaim oleh Saudi, AS, dan Uni Emirat Arab (UEA).

“Tak ada pengikutan Iran,  kami adalah bangsa dengan sejarah dan kebesarannya sendiri yang tidak memungkinkan kami menjadi pengikut siapapun,” tegasnya.

Baca: Saudi Setuju Jadi Tuan Rumah Pasukan AS di Teluk Persia

Sejak tahun 2014 Yaman dilanda konflik antara Ansarullah dan pasukan loyalis presiden pelarian Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi. Konflik ini membesar setelah pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer membela Mansour Hadi sejak Maret 2015.

Sejak intervensi itulah korban dalam jumlah besar berjatuhan. Jumlah jorban tewas tercatat resmi sekira 10,000 orang, sementara korban luka mencapai lebih dari 56,000 orang, namun pihak lembaga-lembaga kemanusiaan menyatakan jumlah korban jauh lebih besar dari itu.

Selain itu, sebanyak 3,3 juta orang mengungsi, 24,1 orang atau lebih dari sepertiga populasi negara ini membutuhkan bantuan, menurut catatan PBB yang bahkan menyebut krisis Yaman sebagai yang terburuk di dunia sekarang. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*