Sumber: id.wikipedia.org

Jakarta, Liputanislam.com– Kepala Sekolah Pancasila Forum Nasional Bhineka Tunggal Ika, Syaiful Arif mengatakan bahwa pembacaan terhadap Pancasila harus bersifat konseptual dan tidak bebas nilai. Menurutnya, pembacaan terhadap Pancasila tidak bisa dilakukan secara terpisah. Sebab, setiap sila dalam Pancasila saling berkaitan, dan tidak berdiri sendiri-sendiri.

Hal itu disampaikan  Syaiful Arif pada acara Overview dan Outlook Penanganan Terorisme di Indonesia di Universitas Indonesia (UI) Jakarta Pusat, seperti dilansir NU Online, pada Rabu (23/1).

“Seakan-akan ketuhanan berdiri sendiri, seakan-akan kemanusian berdiri sendiri, tidak ada konsepnya, padahal kemanusiaan mengandung konsep tentang Hak Asasi Manusia. Ketuhanan mengandung konsep hubungan agama dan negara yang melampaui sekulariasi dan Islamisasi dan lain sebagainya,” ujarnya.

Menurut Arif, kesalahan masa lalu, yakni kebijakan Orde Baru menjalankan program P4 merupakan suatu warisan yang buruk karena memisahkan Pancasila dari dasar konseptualnya. Pancasila hanya dijadikan sebagai nilai-nilai normatif yang terpisah dengan nilai dasar filosofisnya.

“Jadi P4 telah meninggalkan warisan buruk karena sudah memisahkan Pancasila dari sifat dasarnya yang bersifat ilmiah, konseptual dan filosofis karena Pancasila hanya diturunkan yang menjadi nilai-nilai normatif menjadi kode etik perilaku. Ini yang membuat kita tidak memahami dari konsep-konsep dasar Pancasila itu,” katanya.

Oleh karena itu, sebagai solusinya Arif mengajak masyarakat untuk mengimani Pancasila sebagai bagian dari mengimani terhadap agama. Namun, mengimani Pancasila disini tidak bisa dipahami sebagai doktrin teologis yang bersifat formal. “Ketuhanan Yang Maha Esa memang mewakili nilai-nilai ketuhanan di dalam agama-agama, tetapi ketika dia diamalkan melalui kemanusiaan sampai keadilan sosial, seharusnya tauhid Pancasila itu lebih dekat dengan sebagaimana istilah yang disebut tauhid sosial,” terangnya.

Sebagai contoh Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 177 bahwa keimanan kepada Allah harus diamalkan dengan amal saleh kepada fakir miskin. Begitu juga tentang persatuan (ummatan wahidatan) yang tertera dalam Surat Al-Maidah ayat 48. Menurut Arif, Allah tidak mempersoalan keragaman yang ada, tetapi yang dikehendaki ialah manusia berlomba-lomba dalam kebaikan. (aw/NU Online).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*