Sumber: okezone.com

Bekasi, LiputanIslam.com– Tokoh Betawi dari Jawara Betawi Kampung Gabus, Babeh HK Damin Sada bersama komunitas Betawi terus mempertahankan dan melestarikan budaya Betawi, yakni tradisi Palang Pintu. Menurutnya, tradisi Palang Pintu yang biasa ditemukan pada acara pernikahan adat Betawi, diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun. Bermula dari seorang tuan tanah yang memiliki seorang anak perempuan yang ingin dilamar oleh kekasihnya.

“Nah menurut cerita, jadi di situ tuan tanah ini menerima dia tapi dengan syarat, dia harus bisa menjatuhkan centeng-centeng (pendekar) yang ada di rumah tuan tanah itu. Makanya kalau seseorang mau mengawini anaknya tuan tanah, itu harus diadu dulu sama centeng dia. Kalau kalah berarti tidak jadi, kalau menang lawan centengnya, berarti dia bisa nyunting anaknya,” ucapnya di Bekasi, Jawa Barat, seperti dilansir okezone.com, pada Sabtu (16/2).

Dari cerita itu lambat laun akhirnya menjadi sebuah tradisi atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat Betawi secara turun temurun, bilamana ingin menikahkan anak perempuannya. “Bahkan dicampur dengan pantun kan gitu, antara yang mau nyunting dan yang mau disunting. Keluarganya jadi saling balas pantun,” ujarnya.

Menurut Babeh Damin, tradisi Palang Pintu memiliki filosofi bahwa segala sesuatu butuh perjuangan yang tentunya tidak mudah untuk dilalui. “Jadi kita berjuang nggak semudah itu, pasti ada tantangannya kan. Itu kalau filosofi saya mengartikan palang pintu itu seperti itu,” terangnya.

Terakhir, ia berharap pemerintah peduli dan lebih serius melestarikan budaya bangsa, khususnya budaya Betawi. “Pemerintah harus punya peran, karena budaya itu merupakan salah satu bukti kita punya bangsa punya negara. Tanpa budaya nanti kita dianggapnya bangsa apa gitu. Budaya itulah tandanya kita punya negara atau punya bangsa Indonesia seperti ini,” tandasnya. (aw/okezone).

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*