Sumber: nu.or.id

Kuningan, Liputanislam.com– Tim Digital Repository of Endagered Manuscript of South East Asia (Dreamsea) berhasil melakukan digitalisasi beberapa naskah Syekh Hasan Maolani (Eyang Hasan Maolani) yang berlangsung di Al-Fattah Institute, Lengkong, Kuningan, Jawa Barat, pada Jumat (14/9). Naskah- naskah tersebut terdiri dari berbagai bidang ilmu agama, antara lain fiqih, tafsir, hizib, dan kitab Tarekat Syatariyah.

“Mayoritas Tarekat Syattariyah. Sayrussalikin karya Syekh Abdus Shomad Al-Falimbani dan Talqin Baiat Syattariyah,” ucap Faiq Ihsan selaku salah seorang keturunan Eyang Hasan.

ketua tim Dreamsea, Adib Misbahul Islam menuturkan bahwa bahasa yang digunakan dalam manuskrip tersebut terdiri dari bahasa Arab dan Jawa. Adib pun heran kenapa semua naskah Eyang Hasan Maolani tidak ada yang berbahasa Sunda. Padahal dia sendiri hidup dalam lingkungan masyarakat Lengkong, Kuningan menggunakan bahasa Sunda.

Sementara Peneliti PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta M. Nida’ Fadhlan saat diskusi di Islam Nusantara Center (INC) Tengerang Selatan, pada Sabtu (5/8/18) mengatakan bahwa Syekh Hasan Maolani merupakan tokoh penting dan hebat.

“Syekh Hasan Maolani dilihat dari terekatnya oke, fenomenologisnya oke, arkeologisnya, termasuk perspektif etnografinya,” ujarnya.

Dalam silsilah Kiai Hasan Mughni, Syekh Hasan Maolani merupakan keturunan ke-12 dari Sunan Gunung Jati yang nasabnya sampai ke Rasulullah saw. Ia menghabiskan sisa umurnya di pengasingan kampung Jawa Tondano, Manado, Sulawesi Utara. Syekh Hasan diasingkan Belanda karena mengajarkan tarekat dan berani melawan kepentingan kolonial.

Bahkan dalam surat-suratnya, menurut Nida Fadlan, beliau menganjurkan kepada keturunannya (dzurriyah) agar jangan sampai meninggalkan syariat. Meski di pengasingan, beliau tetap memberikan semangat perjuangan melawan kolonial melalui surat-surat untuk keturunannya. (ar/NU Online).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*