LiputanIslam.com-Mengolah sampah menjadi energi listrik merupakan solusi jitu dalam menangani timbunan sampah yang terus bertambah di daratan dan lautan dunia. Pemerintah Provinsi Jawa Timur berupaya untuk segera merealisasikan pengolahan tersebut mulai awal Agustus mendatang untuk mendukung target energi terbarukan di Jawa Timur, pada 2025 diprediksi mencapai 16,8 persen. Hal ini pun menjadi permintaan khusus Presiden RI Joko Widodo dalam mengurangi persoalan sampah di Indonesia.

Pada 2016, keluar Peraturan Presiden Nomor 18/2016 tentang Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik Berbasis Sampah di Provinsi Jakarta, Kota Tangerang, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Surabaya dan Makassar. Kemudian diperbarui lagi dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 35/2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

“Secara nasional, Bapak Presiden meminta kita mengolah sampah menjadi listrik. Untuk sampah basah menjadi energi listrik, sudah diinisiasi di Surabaya. Sementara sampah plastik menjadi listrik, tengah diinisiasi di Mojokerto,” kata Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, usai meninjau pabrik kertas di Kabupaten Mojokerto, Senin (15/7).

Baca juga: Butuh Kiat Khusus Tangani Sampah

Lebih lanjut menurut Khofifah, pengelolaan sampah menjadi listrik, sesuai Rencana Umum Energi Daerah [RUED] yang telah disahkan DPRD Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah membahas pengelolaan sampah dengan pabrik kertas di Mojokerto, untuk dikomunikasikan dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya terkait teknologi.

Penanganan terhadap sampah merupakan kebijakan penting dan utama yang harus segera ditindaklanjuti mengingat sampah tidak hanya merusak kelestarian lingkungan, tapi juga mengganggu kesehatan masyarakat. Pencemaran sampah bisa melalui udara, air, tanah, maupun kontak dengan organisme lain yang dapat menimbulkan penyakit.

Terdapat tiga jenis sampah, yaitu organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun [B3].

Sampah organik dapat menurunkan kualitas lingkungan dan menimbulkan efek pada biota maupun kesehatan manusia. Sehingga mengakibatkan meningkatnya penyakit yang dibawa vektor nyamuk [vektor borne disease] dan tikus [rondent borne disease].

Sedangkan sampah anorganik seperti mikroplastik, terutama diapers atau popok sekali pakai yang bahan mayoritasnya limbah impor, mengandung super adsorbent polymer [SAP]. SAP dapat masuk ke tubuh manusia serta berpotensi mempengaruhi keseimbangan hormone. Akibatnya, muncul berbagai penyakit gangguan hormon, infertility, dan sebagainya melalui rantai makanan. Dan senyawa mikroplastik mudah terlepas ke lingkungan. Selanjutnya, masuk ke tubuh makhluk hidup, ini sangat mungkin terakumulasi dalam tubuh manusia.

Kemudian limbah bahan berbahaya dan beracun [B3], sesungguhnya tidak boleh sama sekali ada di lingkungan bebas, karena sifatnya beracun.

Sebenarnya, ITS Surabaya, pada 2012, telah mengujicobakan PLTSa melalui pembakaran sampah organik. Listriknya digunakan untuk penerang jalan sekitar kampus. Kini Pembangkit Listrik Tenaga Sampah pun sudah ada dan dimanfaatkan di Kota Surabaya dengan cara mengkonversi gas metan menjadi listrik.

Dosen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Jember, Anita Dewi Moelyaningrum, mengatakan, keberadaan PLTSa khususnya plastik memberikan dampak bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat karena sebelumnya masyarakat seringkali membakar sampah untuk menguranginya. Dan ini membahayakan kesehatan.

Pembakaran sampah terutama plastik, akan menghasilkan senyawa toksik terutama dioksin dan furan. Senyawa itu dapat terakumulasi di lingkungan, organisme, dan manusia. Akibatnya, mengganggu kesehatan manusia seperti batuk dan sesak nafas. Bahkan dioksin bersifat karsinogenik tipe 1 yang dapat membentuk kanker dalam tubuh manusia.

Namun sesungguhnya amankah proses pengolahan sampah menjadi energi listrik?

Pihak Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) masih mempertanyakan kelayakan proyek PLTSa.

Hingga kini, belum ada satupun PLTSa termal berhasil didorong menandatangani perjanjian jual beli listrik (PJBL) dengan PLN. Pengolahan sampah teknologi termal seperti insinerator, gasifikasi dan pirolisis, katanya, memerlukan kajian dan pertimbangan mendalam serta menyeluruh.

Ekstraksi energi sampah, seharusnya jadi upaya terakhir dalam hierarki pengelolaan sampah sebelum pembatasan timbulan, guna ulang dan daur ulang sampah.

Dalam PLTSa wajib dibangun TPA B3, dan harus terkelola secara profesional serta berbiaya tinggi. Sehingga PLTSa cenderung tak ekonomis. B3 sangat berbahaya untuk kesehatan masyarakat sehingga harus ditangani secara profesional. Selain itu, PLTSa pun berpotensi meningkatkan emisi merkuri ke udara.

Proyek PLTSa, katanya, hanya akan memindahkan masalah sampah ke udara, abu terbang, dan abu dasar residu pembakaran. Salah satu potensi emisi dan lepasan racun dari pengolahan sampah dengan teknologi termal di PLTSa adalah dioksin dan furan (PCDD/PCDF).  (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*