LiputanIslam.com—Lembaga non pemerintah bernama Greeneration Foundation menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia memproduksi setidaknya 0,5 kilogram sampah setiap hari. Di Kota Bandung dengan total penduduk 2,7 juta jiwa memproduksi sampah hingga 1.500-1.800 ton per hari. Bayangkan jika jumlah ini terus naik hingga 10 tahun mendatang. Mungkin seluruh kepulauan di Indonesia akan dipenuhi sampah.

Perusahaan Daerah (PD) Kebersihan Kota Bandung pun mendata bahwa dari total 1.500-1.800 ton, hanya 300 ton yang bisa diolah di bank sampah menjadi kerajinan tangan, pupuk kompos, bahan bakar gas, dan listrik.

Oleh karena itu, pihak PD Kebersihan di Kota Bandung menganggarkan dana sebesar Rp. 170 miliar untuk mengelola sampah per tahun.

Awal tahun 2019 ini, pihak PD tersebut telah bekerja sama dengan PT. Waste For Change Alam Indonesia untuk ikut serta memaksimalkan kinerja bank sampah.

Pemerintah Indonesia pun telah mengeluarkan Pepres No. 18 Tahun 2016 tentang percepatan pembangkit listrik berbasis sampah di 7 kota di Indonesia termasuk Bandung. Peraturan ini dinamai WTE. Namun dalam pengeksekusian peraturan WTE tersebut belum maksimal. Strategi nasional yang dicanangkan pun belum selesai sehingga menghambat realisasi WTE itu sendiri.

Sayangnya lagi, Pemprov Jawa Barat berhutang kepada bank dunia sebesar Rp. 1,4 triliun untuk mengelola sampah di Sungai Citarum. Tentu jumlah ini menambah jumlah hutang luar negeri Indonesia. Padahal awal tahun 2019, Pemprov Jabar sudah mengajukan dana pembenahan Sungai Citarum sebesar Rp. 605 miliar kepada pemerintah pusat.

Menurut Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, dana hutang tersebut akan digunakan untuk edukasi, menyiapkan infrastruktur, dan menyiapkan teknologi untuk daur ulang sampah menjadi energi.

“Dana itu digunakan untuk membenahi manajemen sampah, mengatur zona-zona daur ulang sampah, dan lain-lain,” jelasnya.

Memang, persoalan sampah di Bandung belum kunjung tuntas karena realisasi yang lambat. Pemkot Bandung telah merencanakan untuk menggunakan teknologi insenerator di tempat pembuangan akhir namun tak kunjung dibangun karena dianggap mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat. Selain itu, ada pula rencana menggagas teknologi biodigester dari Jepang, namun belum juga terwujud. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*