LiputanIslam.com-Terdapat tiga mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, yang mampu menciptakan teknologi untuk mengubah air limbah menjadi sumber energi listrik. Namanya adalah Hendra Surawijaya sumringah, Elfahra Casanza, dan Rizhaf Setyo Hartono. Alat tersebut bernama Slaughtering House Waste Water [SHOWER].

Air limbah yang mereka sasar adalah air limbah rumah potong hewan (RPH). Air limbah RPH mengandung feses hewan, namun juga rumen, darah, maupun lemak yang dapat mencemari sungai dan mengakibatkan berbagai penyakit untuk manusia jika mengkonsumsi air sungai.

Dalam alat tersebut, mereka menerapkan sistem MFC [Microbial Fuel Cell]. Metode yang menghasilkan listrik dengan memanfaatkan bakteri di air limbah potongan kambing dan sapi.

Baca juga: Warga Ngawi Olah Limbah Koran Jadi Kerajinan Tangan

SHOWER menggunakan konsep Agar Salt Bridge. Limbah dan air garam dihubungkan sebagai elektrolit. Mekanisme kerjanya mudah. Limbah cair saringan terakhir, ditampung dan dicampur Effective Microorganism-4 [EM4]. Tujuannya, menghilangkan bau tidak sedap. Setelah itu, campuran dimasukkan wadah, ditambahkan manitol salt agar serta garam elektrolit.

Bakteri akan berinteraksi, kemudian menghasilkan elektron dan proton pada anoda. Elektron ditransfer melalui sirkuit eksternal, sedangkan proton dipindahkan ke selaput pemisah manitol salt agar menuju katoda. Beda potensial elektron dan proton ini menghasilkan arus listirik.

Hendra menuturkan, listrik dari satu sel akan terpancar 120 miliamper, tegangan 0,8 volt. Limbah RPH yang mencapai 123 m3, dapat dijadikan 55.000 sel. Sama dengan 340 mega watt.

“Atau, setara daya 103 ribu rumah.”

Ia pun mengatakan bahwa berdasarkan riset, sebagian besar RPH di Indonesia memiliki total mikrobia cukup tinggi. Kisarannya hingga 36.105. Jumlah ini lebih dari cukup untuk menghasilkan listrik.

Sebelumnya pada  2018, penelitian listrik telah dilakukan tiga mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian [FTP], Universitas Brawijaya: Elviliana, Chrisma Virginia, dan Oddy South Lolo Toding. Mereka memanfaatkan limbah bayam, kulit pisang, dan kulit jeruk dengan teknologi MFC.

Berdasarkan riset tersebut, kulit pisang paling berpotensi. Tegangan dan arusnya lebih stabil, tidak ada penurunan berarti. Proses menghasilkan listrik praktis dan efisien, karena memanfaatkan mikroba yang ada.

“Sayuran dan buahan sisa dianggap tidak berguna, padahal jika diteliti memiliki kegunaan. Sampah, jika diolah jadi barang berkelas,” jelas Elviliana. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*