LiputanIslam.com – Tidak hanya di lautan, sekolah-sekolah pun menjadi tempat sampah terbesar karena konsumsi anak-anak sekolah yang sering memakai kemasan plastik sekali pakai. Hasil survei pun menunjukkan bahwa kemasan plastik lah yang menjadi penyumbang terbesar sampah di setiap sekolah.

Lalu bagaimana pemerintah membuat kebijakan untuk menanggulangi hal ini? Khususnya di wilayah Bali, pemerintah sudah mengeluarkan aturan untuk meminimalisir sampah plastik dan mengolah limbah sampah bagi para perusahaan, yaitu Peraturan Gubernur No. 97/2018 dan Peraturan Walikota Denpasar No. 34/2018 tentang pengurangan timbunan sampah.

Hasil penelitian plastik sekali pakai PPLH Bali dan Sekaa Guru Peduli Lingkungan (SGPL Bali) menunjukkan bahwa sampah sekolah didominasi sampah plastik yang menjadi kemasan makanan siswa. Sampah tersebut didominasi oleh produk bermerek Garuda Food dengan jumlah sampah sekitar 29 persen. Sisanya sampah tak bermerek dan plastik bening.

Direktur PPLH Bali mengatakan bahwa hasil penelitian ini bertujuan untuk memotivasi sekolah untuk menemukan inovasi kebijakan dalam mengurangi sampah plastik.

“Hasil penelitian ini bertujuan untuk memotivasi sekolah untuk terus menemukan inovasi baru dalam pengelolaan kantin dan mengurangi pencemaran plastik di laut,” ujar Catur Yudha Hariani, Direktur PPLH Bali.

Sekolah-sekolah di Bali pun mulai ikut serta meminimalisir sampah plastik untuk merespon kebijakan pemerintah daerah tersebut. Salah satu sekolah yang menerapkan sistem nol plastik sampai taraf 90 persen adalah SMP PGRI 3 Denpasar Bali. Penerapan ini merupakan kebijakan sekolah untuk mengurangi sampah plastik mulai awal 2019. Kebijakan ini pun berdampak kepada respon para penjual makanan atau jajanan yang mulai tidak menggunakan plastik sekali pakai sebagai kemasan. Pengganti kemasan mereka seperti daun pisang atau tekor dalam bahasa Bali. Selembar daun pisang ditekuk menyerupai mangkok dengan sematan lidi. Daun pisang ini digunakan sebagai wadah berbagai jenis jajanan atau kue yang dijual di wilayah sekolah seperti kantin. Selain daun pisang, penjual pun bersiasat untuk menggunakan kertas tipis setengah transparan untuk membungkus nasi jinggo, sebagai ganti dari kertas minyak yang sebelumnya dipakai.

Kebijakan ini tentu tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan seluruh warga sekolah, karena plastik mengandung zat kimia berbahaya, sulit didaur ulang, dan biasanya makanan kemasan plastik rentan dengan zat pengawet produksi industri. Kini, seluruh warga sekolah lebih suka menikmati jajanan buatan pedagang sendiri yang dikemas dengan bahan alami. Untuk minuman pun tidak ada warga sekolah yang membeli minuman kemasan plastik. Merek lebih mengkonsumsi teh atau jus buah buatan pedagang sendiri yang diwadahi paper cup. Namun beberapa pedagang pun tetap menjual minuman kemasan pabrikan yang menggunakan wadah tetrapack.

Salah satu pedagang bernama Nyoman Parwati pun mengungkapkan bahwa awal dari kebijakan nol plastik tersebut sangat susah untuk dijalani karena kebanyakan pedagang menjual snack-snack kemasan plastik dan aneka minuman botol kemasan plastik. Namun seiring waktu mejadi hal yang biasa dan lebih sehat.

“Awalnya susah, karena terbiasa jual snack-snack. Sekarang sudah biasa, ternyata bisa lebih sehat,” ujar Nyoman.

Kebijakan nol plastik pun berlanjut lagi menjadi kebijakan pengolahan sampah organik. Semenjak kebijakan nol plastik, tong-tong sampah tidak cepat penuh dan hanya terisi sampah daun pisang dan gelas kertas. Sampah organik tersebut pun diolah menjadi kompos oleh pihak sekolah. Karena makin banyak, pihak sekolah membeli mesin pencacah sampah organik. Sedangkan untuk sampah anorganik seperti tetrapack diberikan ke pengepul langsung. Pihak sekolah sudah kerjasama dengan pengepul sampah yang mengambil langsung ke sekolah setiap Jumat.

Selain kebijakan di atas, warga sekolah baik siswa maupun guru pun tidak diperbolehkan membawa kresek, botol sekali pakai, dan styrofoam ke sekolah. Untuk minuman, pihak sekolah sudah menyediakan air isi ulang terfilter. Dan bisa diminum menggunakan gelas yang sudah disediakan.

Kebijakan tersebut dilakukan dengan penuh perhatian sejak awal. Ada sanksi yang dibuat oleh pihak sekolah jika melanggar kebijakan tersebut. Sebelum sanksi tegas, pihak yang melanggar diperingatkan dan diimbau terlebih dahulu dalam acara upacara bendera dan melalui guru wali kelas. Pelanggaran yang sering terjadi adalah pemilahan sampah yang masih sering salah antara sampah organik dan anorganik, meskipun sudah sering dilakukan sosialisasi. Akibatnya, guru pramuka dan tim kebersihan lingkungan lah yang sering memgajak siswa untuk menjadi relawan dalam memilah sampah setiap jam pulang sekolah. Setelah sampah dipilah, sampah organik akan dikompos sedangkan sampah anorganik dikumpulkan untuk diambil pengepul.

Kebijakan yang patut dicontoh bahkan oleh seluruh sekolah di Indonesia ini mendapat penghargaan dari Pemerintah Kota Denpasar. Kepala sekolahnya yang bernama I Made Suada pun mendapat apresiasi sebagai kepala sekolah pemerhati lingkungan. (Ayu/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*