Sumber: Mongabay

Jembrana, LiputanIslam.com — Kabupaten Jembrana menyumbang sebesar 5 persen dari total 4.281 ton sampah plastik di Bali setiap hari. Dari jumlah tersebut, Jembrana berperan memproduksi 8 persen dari 89 ton sampah plastik yang mengalir sampai laut di Bali.

Berdasarkan riset yang sama, kecamatan Negara termasuk dalam 15 kecamatan di seluruh Bali yang masuk kategori kritis dalam pengelolaan sampah efektif. Kecamatan prioritas itu berdasarkan jumlah sampah plastik yang bocor ke lingkungan dan saluran air serta pendapatan rumah tangganya rendah.

Jembrana sendiri menghasilkan sampah 228 ton per hari di mana 178 ton (78%) belum ditangani dengan baik. Dari lima kecamatan di Kabupaten Jembrana, Negara paling banyak menghasilkan sampah hingga 30 persen. Negara juga membuat kebocoran sampah paling banyak, 35 persen, dibandingkan kecamatan lain.

Berdasarkan Riset kolaboratif Bali Partnership yang dipublikasikan pada Juni 2019 lalu, Jembrana menghasilkan sampah plastik sebanyak 53,9 ton per hari. Dari jumlah tersebut, 17,7 ton per hari (33%) yang ditangani dengan baik. Misalnya didaur ulang atau dibuang ke tempat sampah. Adapun 36,2 ton (67%) sampah plastik per hari belum ditangani dengan baik.

Sumber: Mongabay

Masih rendahnya upaya penanganan dan pengelolaan sampah di Jembrana membuat pemerintah setempat ingin mengadopsi program Stop Ocean Plastic (STOP) yang sudah berhasil menangani sampah di Banyuwangi Jawa Timur. Program STOP sudah berjalan sejak 2017 di Kecamatan Muncar, Banyuwangi.

Selama 1,5 tahun program, program STOP di Muncar telah berhasil mengumpulkan sekitar 1.800 ton sampah, di mana 300 ton di antaranya adalah sampah plastik. Program itu juga telah membersihkan 5 km pantai dengan mengumpulkan 76 ton sampah plastik. Hal terpenting, program STOP di Muncar berhasil menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efisien dengan biaya sekitar Rp420 ribu per ton sampah. Biaya itu antara lain untuk pengumpulan, pemilahan, pendauran ulang, dan pengolahan sehingga tidak berakhir di tempat sampah.

Baca juga: Café Sawah Malang, Perpaduan Wisata dan Sanitasi Limbah dengan Sampah

“Belajar dari keberhasilan di Muncar, Banyuwangi kami ingin melakukan hal sama di Jembrana. Kalau berhasil di Negara, kami akan melanjutkannya ke daerah lain di Bali, terutama 15 kecamatan prioritas,” kata Program Manager Bali Partnership sekaligus Ketua Pelaksana Program STOP Lincoln Rajali Sihotang.

Menurut Lincoln, program STOP di Jembrana menggunakan pendekatan komprehensif. Dari hulu hingga ke hilir dalam pengelolaan sampah. Implementasi penuh akan dimulai dari edukasi ke warga untuk penanganan sampah mulai dari skala rumah tangga. Program STOP juga akan memberikan layanan pengelolaan sampah. Program STOP juga akan melakukan pembinaan kelembagaan.

Program STOP sendiri didukung oleh Alliance to End Plastic Waste (AEPW) selama pelaksanaan tiga tahun ke depan. Selain dukungan finansial, AEPW juga akan melakukan studi kelayakan dan penilaian awal untuk memberikan nilai tambah ekonomi pada sampah plastik di Jembrana. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*