Sumber: Mongabay

Malang, LiputanIslam.com — Café Sawah terletak di Desa Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Ada yang unik dari tempat wisata sekaligus kuliner ini. Selain sajian kuliner, juga tersedia paket edukasi budidaya tanaman. Wisatawan, bisa bersama petani mulai menyemai bibit hingga panen. Tak ketinggalan juga tersedia paket wisata sapi perah, wisatawan bisa memerah susu sapi dan langsung meminum. Juga pengolahan jadi kerupuk dan susu pasteurisasi.

Ada juga kampung budaya yang menarik wisatawan. Ia menyajikan permainan tradisional, dan menonjolkan sanggar seni di desa. Wisatawan bisa berinteraksi bersama-sama warga. Mengikuti kegiatan berkesenian.

Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai pelaku wisata, pemilik sekaligus pengelola.

Omzet café sepanjang 2018 mencapai Rp14 miliar. Café Sawah mempekerjakan putra daerah, sebagian besar anak putus sekolah dan dari keluarga miskin. Café yang dikelola BUMDes ini mempekerjakan 167 orang.

Café dibangun pada 2016. Pemerintahan desa memberi modal awal Rp60 juta. Pada 2017, kembali disuntik modal Rp150 juta. Pemerintah Desa Pujon Kidul, mengeluarkan peraturan desa tentang pengembangan dan pembangunan desa wisata 2016. Perdes mengatur, agar mempekerjakan rumah tangga miskin dan anak putus sekolah di Café Sawah.

Baca juga: Al-Furqon, Ponpes Anti Sampah Plastik di Sumenep Madura

Taman seluas tiga hektar ini tampak tertata rapi, berhias bunga dan tanaman. Aneka sayuran terhampar. Ada selada, tomat, wortel, bawang, cabai sampai kubis. Ada beberapa kolam ikan berisi ikan koi. Uniknya adalah penggunaan air limbah dan sampah yang diolah.

Air di kolam-kolam cafe tersebut ternyata berasal dari limbah dapur dan toilet yang ada di café sawah. Air limbah domestik itu diolah dalam reaktor instalasi pengolahan air limbah (IPAL) terpadu. Air disaring beberapa tahap, ampas kotoran jadi pupuk. Air limbah setelah melalui proses penyaringan mengalir jernih. Selain itu, sisa makanan pengunjung juga jadi pakan bagi unggas dan ikan. Jadi, semua limbah terdaur lagi, tak tersisa dan tak terbuang.

Sumber: Mongabay

Sampah pengunjung pun dikumpulkan dan diolah di tempat pengolahan sampah terpadu (TPS) Pujon Kidul. Setiap dua pekan, dua truk sampah diolah di TPST. Sampah anorganik terdiri dari plastik, kertas, dan karton dijual ke bank sampah. Sedangkan sampah organik jadi kompos.

Kompos telah diujicoba untuk bawang dan selada di TPST. Puluhan pot ditanami sayuran tertata di depan TPST Pujon Kidul. Jadi, dipastikan kompos bisa membuat tanah makin subur.

Melihat keberhasilan Desa Pujon Kidul yang memadukan wisata dengan sanitasi, menarik perhatian 492 pemerintah kota dan kabupaten. Pemerintahan daerah tergabung dalam Aliansi Kota dan Kabupaten Peduli Sanitasi (Akkopsi) ini mengikuti advocacy horizontal learning (AHL) di Café Sawah. (Ay/
Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*