Sumber: Mongabay

Madura, LiputanIslam.com — Di beberapa kepulauan Madura seperti Kangayan dan Sapeken, warga berhasil mengolah sampah plastik menjadi solar untuk keperluan bahan bakar perahu nelayan. Pengolahan tersebut menggunakan mesin khusus yang dibuat oleh seorang pemuda di Madura bernama Imam Al-Faqih.

Untuk membeli material besar perakitan mesin itu, Dondon menghabiskan uang Rp25 juta. Dia tak mau mengkomersialkan mesin itu.

Pengolahan sampah plastik jadi bahan bakar minyak ini disebut sistem firoris. Imam atau yang kerap disapa dengan Dondon mengatakan bahwa untuk sistem firoris, tabung reaktor dipanaskan, ketika sampah pada suhu 100 derajat celcius, material dalam tabung mulai menggelembung, berubah jadi gas. Kemudian tersalurkan dari tabung reaktor ke pipa, dalam pipa gas bertemu dengan pendingin, hingga dalam titik tertentu berubah jadi minyak.

Minyak atau bahan bakar dari hasil sistem pengolahan ini, kata Dondon, ada unsur air 6%, namun semua unsur didominasi solar. Satu kilogram sampah plastik kering, katanya, bisa menghasilkan satu liter solar.

Dia mengatakan, black carbon dari limbah pengolahan plastik itu ditimbun dalam tanah. Sisa pembakaran ini, bisa terurai dalam waktu satu sampai dua bulan.

Baca juga: Jaga Lingkungan dan Kurangi Tumpukan Sampah dengan Daur Ulang

Pengolahan sampah menjadi solar tersebut merupakan tindakan nyata yang dapat bermanfaat untuk bumi khususnya Indonesia. Apalagi sampah hingga saat ini masih menjadi permasalahan pelik di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada tahun 2016 timbulan sampah di Indonesia mencapai 65 juta ton/tahun dari 261 juta penduduk Indonesia. Timbulan sampah makin banyak seiring meningkatnya jumlah penduduk setiap tahunnya.

BPS memprediksi pada tahun 2025, jumlah timbulan sampah di perkotaan akan terus bertambah menjadi 1,42 kg/orang/hari atau 2,2 miliar ton sampah/tahun yang berasal dari 4,3 miliar orang penduduk Indonesia. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*