Sumber: Mongabay

Gianyar, LiputanIslam.com — Penelitian terbaru tahun 2019 dari Bali Partnership mengungkapkan bahwa tiap hari Bali menghasilkan sampah mencapai 4.281 ton atau 1,5 juta ton tiap tahun. Dari jumlah tersebut, lebih banyak sampah yang tidak dikelola (52 persen), daripada yang dikelola (48 persen).

Sebanyak 50 persen sampah di Bali berasal dari tiga daerah di Bali yaitu Denpasar, Badung, dan Gianyar. Dari sampah yang dibuang ke tempat sampah, 70 persen di antaranya berakhir di TPA. Hal ini tentu membuat pemerintah daerah setempat dan para komunitas pecinta lingkungan berupaya untuk ikut serta menyelesaikan problem sampah tersebut atau setidaknya berkontribusi untuk mengurangi produksi sampah setiap hari.

Baru-baru ini ada sepasang kekasih di Bali yang melangsungkan pernikahan dengan cara yang unik karena sangat memperhatikan lingkungan, yaitu dengan metode pernikahan minim sampah plastik.

Pasangan tersebut adalah IB Mandhara Brasika dan Made Yaya Sawitri. Mereka melangsungkan pernikahan pada Jumat (11/10) kemarin di Kabupaten Gianyar, Bali. Pernikahan tersebut dipersiapkan dengan minim sampah anorganik terutama plastik dan menggunakan sumber energi listrik panel surya. Mulai dari kartu undangan pernikahan, suvenir, dekorasi, snack, makan, minum, sampai anjuran penggunaan material organik untuk bunga ucapan.

“Pernikahan kan menghasilkan banyak sampah, kita ingin menjadikan pernikahan ini minim sampah,” kata Gus Nara, panggilan Mandhara Brasika. Pria muda ini sudah dikenal sebagai pegiat lingkungan dengan membuat komunitas Griya Luhu, komunitas yang mengampanyekan pengurangan sampah plastik.

Kartu undangan yang digunakan terbuat dari kertas yang dibungkus bambu. Dalam kartu, hadirin diminta tidak memberikan karangan bunga dengan kandungan plastik atau styrofoam. Juga ada catatan jika bambu bisa digunakan kembali untuk wadah dupa atau benda lain. Sementara untuk suvenir, ia memberikan buah karya komunitasnya, sedotan bambu dengan sikat pembersih dan dibungkus kain.

Baca juga: Program STOP untuk Tangani Sampah di Jembrana Bali

Dekorasi dalam dan luar rumah pun dominan dari janur dan bunga yang dirakit sehingga nampak indah. Tenda besi diganti dengan tiang bambu yang lebih sejuk. Karangan bunga untuk ucapan pernikahan pun terbuat dari daun, bunga hidup, dan janur.

Dalam penyajian minuman, mereka menggunakan gelas kaca dengan dispenser berisi minuman hangat dan dingin, air, teh, atau es jeruk. Menggantikan aneka minuman kemasdan softdrink. Sedangkan penyajian makanan, mereka menyiapkan makanan kecil di tiap meja, tanpa pembungkus anorganik. Tamu bisa mengambil prasmanan dengan menggunakan piring keramik yang mereka sediakan. Namun ketika tamu membeludak, keluarga akhirnya mengeluarkan piring dari anyaman lidi (ingke) dengan alas kertas nasi. Inilah sebagian kecil sampah anorganik yang diproduksi pernikahan Nara-Yaya.

Dengan metode minim sampah tersebut, mereka mengingatkan bahwa apa yang mereka lakukan bukanlah hal baru, bahkan sudah biasa dilakukan di masa lalu. Namun sudah ditinggalkan dengan alasan kepraktisan dan kemurahan. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*