Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memprediksi, bahwa pada musim kemarau tahun ini, wilayah Indonesia yang mengalami kekeringan dan karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) meluas. Sekitar 48 juta orang di 28 provinsi berpotensi mengalami dampak kekeringan.

BNPB mendata, ada tujuh provinsi, 95 kabupaten/kota, 695 kecamatan dan 2.347 desa mengalami bencana kekeringan hingga bulan Juli. Sedangkan untuk Kahutla, Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sepanjang 2019, hingga Senin (29/7/19), karhutla di Riau, 27.683 hektar, Kalimantan Barat 2.273 hektar, Sumatera Selatan (236 hektar), Kalimantan Selatan (52 hektar), dan Kalimantan Tengah (27 hektar).

Akibat karhutla yang makin meluas, sejumlah daerah di Riau dan Kalimantan pun mengalami kabut asap. Di Pekanbaru Riau, kabut asap terlihat jelas dan jarak pandang turun menjadi empat kilometer dari jarak normal 8-10 kilometer. Sedangkan daerah Kalimantan Barat, kabut asap tipis juga mulai terasa. Pada Senin (29/7/19), penerbangan pesawat ke Bandara Supadio, Kubu Raya, pada pagi hari sempat tertunda sekitar 30 menit karena kabut asap. Di Kota Pontianak, kabut asap mulai terasa. Udara yang terhirup mulai bercampur asap dan mata sedikit pedas.

Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Selasa (30/7/19) pagi mengatakan, jarak pandang di Pekanbaru, memburuk karena campuran asap dari kebakaran hutan gambut. Kalau normal, jarak pandang 8-10 kilometer, maka pukul 7.00 terpantau empat kilometer. Jarak pandang menurun juga terjadi di Kota Rengat, Dumai dan Pelalawan, mencapai lima kilometer.

Baca juga: Polusi Udara Jakarta Terburuk di Asia Tenggara

“Dari hasil pantauan kami, memang hotspot (titik api-red) sudah cukup banyak. Jadi, sudah terpantau asap di Pekanbaru. Hasil pengamatan kami, jarak pandang pukul 8.000 sudah lima kilometer,” kata Yasir, analis BMKG Pekanbaru.

Data Satelit Terra Aqua per Selasa pagi (30/7/19) yang dianalisis BMKG Pekanbaru, titik panas di Sumatera 138 dengan konfidensi lebih 50%. Data ini meningkat tajam dari Senin sore 106 titik.

Riau, kembali terbanyak titik api yakni, 60 diikuti Jambi 30 dan Bangka Belitung 16 serta Sumatera Selatan dan Lampung delapan. Sedangkan Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ada enam, Kepulauan Riau tiga dan Bengkulu satu titik. Pelalawan, Riau, masih paling banyak terpantau ada 30 titik. Indragiri Hilir, 15, Rokan Hilir ada delapan, Indragiri Hulu dan Bengkalis, masing-masing dua titik. Sedangkan Kampar, Siak dan Kuansing, terpantau satu titik api.

Data titik api selama satu pekan terakhir dari Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari), ada 151 titik panas terpantau di Riau sejak 22 Juli-28 Juli. Konfidensi titik api lebih 70%– kemungkinan besar ada kebakaran–57 titik, di Pelalawan paling banyak 39 dan Siak ada lima.

Sedangkan data rekapitulasi indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sejak 22 Juli mengungkapkan, pada Sabtu (27/7/19), kualitas udara tak sehat di stasiun pemantau Petapahan (Kampar), Libo dan Bangko (Rokan Hilir) dan Duri Camp (Bengkalis).

Sejak 1 Juli, sudah ada enam provinsi yakni, Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Jambi dan tiga kabupaten—Dumai, Sambas, Siak— menetapkan status siaga darurat karhutla.

Penetapan status siaga darurat ditindaklanjuti dengan pengaktifan Satgas Penanganan Bencana (PB) akibat asap karhutla di Sumsel, Riau, dan Kalbar.

Presiden Joko Widodo pun telah berupaya untuk menelepon sejumlah pejabat pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah karhutla yang mulai marak terjadi di sejumlah daerah.

Berdasarkan data KLHK, sepanjang 2019, hingga Senin (29/7/19), karhutla di Riau, 27.683 hektar. Luas lahan terbakar di Kalimantan Barat 2.273 hektar, Sumatera Selatan (236 hektar), Kalimantan Selatan (52 hektar), dan Kalimantan Tengah (27 hektar).

Berdasarkan pengamatan BMKG, dalam 10 hari terakhir ada tiga provinsi mempunyai titik panas terbanyak, yakni NTT 274, Kalimantan Tengah (265), dan Riau (157). Pada Minggu (28/7/19), titik panas terbanyak ada di Kalimantan Tengah (69), Kalimantan Selatan (22) dan NTT (14).

Berdasarkan data BNPB dari satelit modis LAPAN pukul 16.00 (31/7/19), terdapat 126 titik tingkat kepercayaan tinggi lebih 80%. Titik panas ini di Kalimantan Barat (59), Riau (17), Kalteng (13), Jambi (12), Kalimantan Selatan (4), NTB (2), NTT (8), Aceh (5), Lampung (3), Jatim (3), Maluku, Sumsel, Jabar, Kep. Riau, dan Sulsel, masing-masing satu titik.

Harus ada kerjasama dari seluruh stakeholder mulai dari pemerintah pusat, pemda, TNI, Polri, masyarakat, pemuka agama dan lain-lain untuk mencegah dan mengatasi karhutla dan kabut asap setiap tahunnya. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*