Sumber: Mongabay

LiputanIslam.com — Laporan Khusus IPCC (The Intergovernmental Panel on Climate Change – Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim) tentang Laut, Kriosfer dalam Perubahan Iklim menyoroti dampak Pemanasan Global terhadap ekosistem laut, pesisir, kutub dan gunung, dan bahkan komunitas manusia.

Laporan setebal 1.300 halaman tersebut telah dirilis pada tanggal 25 September 2019 di Monaco. Laporan tersebut adalah hasil dari 104 ilmuwan dari 36 negara dan 6.981 artikel penelitian yang disigi.

Menurut laporan tersebut, terdapat beberapa dampak perubahan iklim dan khususnya pemanasan global, yaitu sebagai berikut:

Pertama, pemanasan global mengancam kawasan beku di Planet Bumi seperti kriosfer dan permafrost.

Kriosfer adalah zona di planet Bumi yang membeku, misalnya lapisan es di Greenland dan Antartika, gunung es yang berada di lautan, gletser es di pegunungan (Puncak Jayawijaya), salju, es di danau dan lautan di kutub, serta daratan membeku di wilayah Artik yang dikenal sebagai permafrost.

Adanya pemanasan global membuat kriosfer semakin menyusut. Lapisan salju berkurang, gletser dan lapisan es mencair dan permafrost juga berkurang. Bumi akan kehilangan lebih dari setengah perfarmost pada akhir abad 21. Permafrost mampu menyimpan karbon yang berada di atmosfer hampir dua kali lebih banyak.

Kemudian dengan pemanasan global, gletser pun meleleh. Jika emisi tetap berlanjut seperti kondisi saat ini, maka lebih dari 80% gletser kecil akan menghilang pada akhir abad 21. Akan berdampak bagi penduduk bumi yang bergantung kepada gletser untuk air, pertanian, dan energi.

Kedua, akibat pemanasan global, muka air laut akan naik secara signifikan. Saat ini muka air laut sudah bertambah dua kali lipat lebih cepat, dan terus meningkat secara pesat. Dan diprediksi mencapai tinggi antara 60 dan 110 cm pada tahun 2100 mendatang. Sehingga Badai ekstrim akan sering terjadi setiap tahun pada pertengahan abad 21.

Ketiga, ekosistem laut akan punah karena laut sudah menyerap lebih dari 90% kelebihan panas. Laut harus menyerap panas antara lima sampai tujuh kali lebih besar pada tahun 2100 ketimbang 50 tahun belakangan jika manusia tidak segera menyelesaikan problem iklim.

Dampaknya, laut semakin asam akibat terus menerus harus menyerap kelebihan karbon dioksida dan pasokan oksigen serta nutrien bagi kehidupan ekosistem laut berkurang. Beberapa spesies mungkin harus berpindah ke zona laut yang baru, namun yang lain mungkin tidak bisa beradaptasi dan akhirnya bisa punah.

Penduduk bumi juga harus beradaptasi dengan berbagai masalah yang muncul, terutama yang bergantung kepada makanan laut. Terumbu karang, ekosistem yang menyokong kehidupan bagi ribuan spesies, pada akhirnya akan terancam punah setidaknya pada akhir 21.

Keempat, pemanasan global pun akan mengancam masa depan manusia. Masyarakat di seluruh dunia akan mengalami hilangnya sumber daya air, mengalami banjir dan tanah longsor, menghadapi perubahan dalam pasokan makanan, dan menyaksikan degradasi ekosistem laut, infrastruktur, rekreasi dan budaya.

Ada sekitar 45 juta penduduk Indonesia yang rentan karena tinggal di pesisir dengan ketinggian dibawah 10 meter karena air laut naik sehingga akan menenggelamkan tempat tinggal mereka (subsiden tanah)

Saat ini setidaknya ada 132 kabupaten/kota di 21 provinsi di Indonesia yang terindikasi mengalami subsiden, terutama di wilayah pesisir.

Menurut Kepala Sub Direktorat Perubahan Iklim Badan Pembangunan dan Perencanaan Nasional (BAPPENAS) Sudhiani Pratiwi, kawasan terparah yang terdampak perubahan iklim diprediksi terjadi di sekitar pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan kawasan Selatan Maluku. Di kedua kawasan tersebut, gelombang air laut akan mengalami kenaikan hingga mencapai empat meter. Kondisi itu, dipastikan akan menyulitkan para nelayan yang harus mencari ikan menggunakan perahu tradisional.

Indonesia sendiri telah kehilangan sekitar 29 ribu hektar akibat kenaikan permukaan air laut di kawasan utara Jawa dan kawasan lainnya.

Baca juga: Aksi Jeda untuk Iklim: Upaya Penyelamatan Bumi

Lalu apa yang harus kita lakukan?

Kita dan pemimpin negara kita harus bisa mengatasi krisis iklim dan kerusakan ekologi abad ini.

Dibutuhkan transformasi radikal di seluruh lapisan masyarakat untuk mengatasi krisis iklim. Inisiatif Blue Carbon untuk terus memeningkatkan literasi dan kebijakan mempercepat tindakan nyata, termasuk mengintegrasikan kegiatan pengelolaan pesisir ke dalam kontribusi negara (NDC).

Perlindungan ekosistem pesisir, seperti mangrove dan padang lamun dapat berkontribusi pada penyerapan karbon berkelanjutan. Sebaliknya, kerusakan ekosistem tersebut berkontribusi terhadap emisi karbon. Pengelolaan pesisir berkelanjutan memainkan peran penting untuk adaptasi berbasis ekosistem, misalnya melalui konservasi terumbu karang, mangrove dan padang lamun.

Adaptasi berbasis ekosistem merupakan solusi yang belum dimanfaatkan dalam tindakan langsung melawan perubahan iklim, meskipun terbukti memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat dan keanekaragaman hayati. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*