LiputanIslam.com — Pada Jumat kemarin (20/9/19), ribuan anak-anak, remaja sampai orang tua melakukan aksi jeda untuk iklim di depan Balai Kota Jakarta hingga Taman Aspirasi atau Taman Pandang Istana, Jalan Medan Merdeka Barat.

Mereka berorasi, bernyanyi, berdeklarasi dan menyuarakan aspirasi melalui poster-poster yang mereka bawa masing-masing. Baik dalam Bahasa inggris maupun Indonesia. Itu sebagai bentuk kegelisahan krisis iklim yang makin menghantui generasi muda.

Aksi tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan di 18 kota lain seperti Palangkaraya, Aceh, Samosir, Bengkulu, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Cirebon, Cilegon, dan Garut. Juga, di Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Malang, Bali, Palu dan Kupang. Bahkan berlangsung di 150 negara.

Time melaporkan bahwa terhitung hingga 24 Mei lalu, 1,6 juta siswa di 1.600 kota di 125 negara dari Indonesia hingga Amerika Serikat mengikuti aksi tersebut.

Aksi tersebut diinisiasi oleh aktivis lingkungan remaja asal Swedia, Greta Thunberg, yang ingin menyadarkan pemerintah dan masyarakat tentang kondisi alam yang sudah kritis.

Nama lengkapnya adalah Greta Tintin Eleonora Ernman Thunberg. Pada bulan Agustus 2018, ia menjadi tokoh terkemuka untuk memulai aksi pemogokan sekolah pertama untuk iklim di luar gedung parlemen Swedia. Pada November 2018, ia berbicara di TEDxStockholm, pada Desember tahun yang sama, ia berpidato di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada Januari 2019 ia diundang untuk berbicara dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos.

Pada Senin kemarin (23/9), Greta menghadiri konferensi tingkat tinggi soal iklim di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat.

Ia geram karena masa kecilnya terenggut demi menyuarakan bahaya perubahan iklim, sementara para pejabat dunia hanya bisa mengumbar janji.

“Saya seharusnya tidak di sini. Saya seharusnya di sekolah. Namun, kalian menumpukan harapan kalian ke anak-anak muda. Beraninya kalian,” tuturnya di hadapan para pejabat dunia saat konferensi iklim PBB di New York.

Remaja asal Swedia itu memang rutin bolos sekolah setiap Jumat sejak Agustus 2018. Saat itu, Thunberg izin tak masuk sekolah hanya untuk berdiri di depan gedung parlemen Stockholm sambil memegang spanduk bertuliskan “Tindakan lebih kuat untuk iklim.”

Setiap Jumat ia mengajak teman-temannya untuk melakukan aksi serupa hingga akhirnya demonstrasi itu meluas dan dikenal dengan nama Fridays for Future.

Para demonstran aksi jeda untuk iklim di Indonesia menuntut aksi pemerintah Indonesia beralih ke energi terbarukan, seperti mobil dan sepeda motor bertenaga listrik, hingga pengeras suara pun memanfaatkan energi dari panel surya. Energi terbarukan adalah energi yang ramah lingkungan.

“Ini aksi mendukung pemerintah melakukan gerakan yang bisa menanggulangi krisis iklim. Kami menunjukkan, masyarakat bisa gunakan energi surya, kenapa pemerintah tak bisa?” tutur Satrio Swandiko, Juru Kampanye Greenpeace.

Salah satu demonstran, Dimas Muhammad Almakna, pemuda 24 tahun yang ikut aksi mengatakan, krisis iklim sudah parah hingga penting jadi perhatian anak-anak muda.

“Yang akan hidup 35 dan 50 tahun nanti adalah kita, anak muda. Bukan orangtua yang duduk di kursi pemegang kebijakan. Kita punya hak menuntut masa depan kita. Ini anak muda lakukan untuk menjaga masa depan,” katanya.

Dia mendesak, pemerintah secepat mungkin berupaya untuk transisi energi yang adil dengan membuat peta jalan dan langkah nyata dalam upaya ini.

Baca juga: Demi Atasi Krisis Iklim, Denmark Luncurkan Penggalangan Dana Pertama di Dunia untuk Bangun Hutan

Anak-anak atau generasi muda memang akan menerima dampak paling besar akibat perubahan iklim, yang meningkatkan resiko terhadap kesehatan, kekurangan gizi dan migrasi mereka.

UNICEF memperkirakan bahwa 25 juta anak lainnya akan mengalami kekurangan gizi akibat perubahan iklim, dan 100 juta lainnya akan menderita kekurangan pangan, dimana mereka beserta keluarganya akan mengalami kemungkinan kehabisan pangan. Sementara antara 100 hingga 200 juta anak diperkirakan akan terpaksa mengungsi dari rumah karena perubahan iklim akan membuat mereka lebih menderita dibanding orang dewasa akibat kerentanan mereka terhadap penyakit.

Dalam terpaan gelombang panas yang akan semakin kerap terjadi akibat perubahan iklim itu, bayi dan anak-anak balita akan mengalami kemungkinan kematian lebih besar atau menderita serangan panas karena kesulitan untuk menyesuaikan suhu tubuh mereka. (Ay/Mongabay/CNN)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*