Sumber: Mongabay

Madura, LiputanIslam.com — Di Sumenep Madura, terdapat pondok pesantren yang menanamkan kesadaran peduli lingkungan, antara lain, anti sampah plastik. Kusadaran tersebut ditanamkan dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Namanya adalah Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Sabajarin (Al-Furqon). Salah satu kebijakannya akan kesadaran lingkungan adalah penghuni pondok dilarang memakai kemasan makanan atau minuman. Bahkan, kalau ada yang memakai plastik, meskipun hanya sebuah sedotan, sampah tersebut harus ditaruh di saku dan dibawa pulang ke rumah mereka sendiri ketika liburan.

Ponpes tersebut memang mempunyai aturan ketat dengan sampah plastik mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari.

Kebijakan tersebut berawal dari sang pengasuh pondok yang anti sampah plastik. Namanya adalah Kiai M Faizi. Selain kiai, dia juga dikenal sebagai sastrawan nan sederhana dan satire. Ia pernah menulis buku berjudul Beauty in the Bis.

Dia mempunyai gerakan kampanye ‘bawah tanah’ dari bilik pesantren dengan menanamkan kesadaran kepedulian lingkungan. Kampanye M Faizi, tidak bersifat verbal, lebih ke gerakan. Kampanye bawah tanah di sini, dia menyampaikan secara halus agar mengurangi penggunaan plastik, misal saat kumpulan dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), biasa menyuguhkan makanan dan minuman. Dengan halus, dia bilang ke tuan rumah supaya nanti pakai gelas saat menyuguhkan minuman, bukan minuman kemasan, supaya tak aburombu (membuat sampah).

Baca juga: The Ocean Cleanup Milik Boyan Slat Berhasil Kumpulkan Plastik di Lautan

Baginya, sampah plastik tidak mudah hancur bahkan sampai ratusan tahun sehingga harus dihindari penggunaannya.

Salah satu momen biasa dia sampaikan pada Maulud Nabi (Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW). Dia akan menyarankan, pakai piring, gelas, sendok, dalam menyuguhkan hidangan, tidak menggunakan minuman kemasan, dan makanan dari bahan lokal seperti umbi-umbian, buah-buahan, dan semacamnya. Dengan begitu, katanya, selain mengurangi plastik juga memberdayakan hasil tani masyarakat setempat.

Tak sekadar memerintah, Kiai Faizi juga memberikan teladan kepada masyarakat dan para santri. Dia sendiri nyaris tak menggunakan plastik sama sekali dalam kehidupan sehari-hari demi memberikan contoh kepada para santri dan masyarakat.

Ke manapun dia pergi, seperti menghadiri undangan dan lain-lain, botol minum tak pernah lupa, selalu menemani. Seandainya, lupa bawa botol minum lalu disuguhi air kemasan, dia akan mencari air gelasan sisa orang lain untuk diminum. Kalau tak menemukan, dia memilih tak minum.

“Niat saya, niat tirakat. Itu ghun (saja). Niat mentirakati anak-anak atau santri, orang yang diajari saya,” katanya.

Menurut salah seorang santri ponpes tersebut, sang kiai sangat mengedepankan kepedulian terhadap lingkungan. Baginya, ungkapan, “buanglah sampah pada tempatnya,” tak berlaku. Karena pernyataan itu kurang baik, seakan-akan boleh memproduksi sampah asal membuang pada tempatnya. Padahal, “membuang” di sini tak lebih dari memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Bagi mereka, terbaik dan terpenting, tak bikin sampah. (Ay/Mongabay)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*