Tehran, LiputanIslam. Com—Wamenlu Iran untuk urusan politik,  Seyed Abbas Araqchi, mengatakan kegagalan Eropa untuk memenuhi komitmen mereka berdasarkan perjanjian nuklir Iran 2015 telah membuat Iran tidak punya pilihan selain berhenti menghormati kewajibannya.

Kurang dari dua minggu sebelum batas waktu 60 hari yang ditentukan oleh Iran untuk menyeimbangkan kesepakatan nuklir sesuai dengan Pasal 36 dalam perjanjian JCPOA, Wamenlu Inggris untuk Urusan Timur Tengah, Andrew Murrison, mengunjungi Teheran pada Minggu kemarin (24/6), dan mengadakan pertemuan dengan Araqchi.

Baca: Eropa Harus Ambil Resiko demi Selamatkan JCPOA

Dalam pertemuan tersebut, Murrison menegaskan kembali komitmen Inggris terhadap perjanjian nuklir JCPOA dan mengatakan, “Inggris bertekad merealisasikan alternatif perdagangan INSTEX secepat mungkin. ” Selain itu,  dia juga meminta komitmen penuh Iran untuk JCPOA.

Merespon hal itu, Wamenlu Iran menyoroti penundaan dan kegagalan negara-negara Eropa untuk menghormati komitmen mereka di bawah JCPOA, dengan mengatakan, “Sayangnya, tidak ada keseimbangan antara kewajiban dan hak kami di bawah JCPOA; oleh karena itu, tidak ada lagi alasan bagi Iran untuk terus menghormati JCPOA. ”

“Kami yakin bahwa kurangnya komitmen Eropa terhadap upaya JCPOA bukan karena ketidakmampuan, tetapi kurangnya tekad. Eropa tidak siap berkorban untuk melestarikan JCPOA. Perusahaan-perusahaan Eropa tidak berani menolak perintah Departemen Keuangan AS, yang berarti kurangnya kedaulatan Eropa, bahkan di dalam perbatasannya sendiri, ”tambah Araqchi.

“Keputusan untuk mengurangi komitmen Iran di bawah JCPOA adalah keputusan nasional dan Republik Islam Iran akan terus konsisten dengan keputusan ini sampai tuntutannya dipenuhi,” katanya.

Araqchi juga mengkritik sikap sepihak pemerintah Inggris pada isu-isu regional, termasuk tuduhannya yang tidak berdasar terhadap Iran setelah serangan baru-baru ini terhadap tanker minyak, dengan mengatakan, “Tampaknya keterikatan pemerintah Inggris dengan kesulitan Brexit telah mencegahnya memiliki pemahaman yang benar.

Kedua pejabat juga membahas masalah bilateral, termasuk utang keuangan Inggris ke Iran. Menunjuk hutang pemerintah Inggris kepada negara Iran yang tidak dibayar selama empat puluh tahun, Araqchi menyerukan penyelesaian hutang segera, menekankan bahwa penolakan pemerintah Inggris untuk melakukannya tidak akan dapat diterima dengan pembenaran apapun.

Terhadap para tahanan dengan kewarganegaraan ganda dan posisi  suami Nazanin Zaghari di depan Kedutaan Besar Iran di London, Araqchi mengatakan, “Peradilan Republik Islam Iran tidak akan dipengaruhi oleh tindakan pemerasan seperti itu, dan mereka yang dihukum karena melakukan spionase harus patuh terhadap hukuman tanpa syarat. ”

Diplomat Inggris mengadakan pertemuan pada hari sebelumnya dengan Kepala Dewan Strategis Iran untuk Hubungan Luar Negeri Kamal Kharrazi, yang menekankan bahwa Teheran akan mengambil lebih banyak langkah untuk mengurangi komitmen JCPOA jika pihak lain gagal memenuhi tenggat waktu yang telah ditentukan.(fd/Tasnim)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*