rinaLiputanIslam.com — Bisa dibilang, Presiden Rusia Vladimir Putin adalah “Person of the Year” di tahun 2015. Pengagumnya bukan saja orang Rusia, namun juga dari berbagai belahan dunia. Apalagi, ketika Rusia untuk menerjunkan bala tentaranya untuk memerangi ISIS di Suriah (dan sangat efektif!), Putin semakin digilai. Baru-baru ini, Putin meresmikan sebuah masjid, yang merupakan masjid terbesar di Eropa. Ia juga menghadiahkan Al-Qur’an kuno kepada Pemimpin Revolusi Republik Islam Iran Ayatullah Khamenei.

Bukan hanya Putin yang memiliki pesona memikat. Namun pemerintahan Rusia sendiri mengundang decak kagum. Setidaknya, itulah yang tergambar dari ungkapan hati dari Rina Serova Ivarksd (netizen asal Indonesia) yang menceritakan kehidupannya di Negeri Beruang Merah tersebut. Bisa dibilang, kebijakan pemerintah Rusia dalam melayani rakyatnya adalah defininisi sempurna ‘Negara hadir’.

Menikah, Punya Anak, Dapat Uang!

Di Indonesia, banyak ditemukan gadis maupun bujang yang menunda menikah karena kondisi finansial yang belum memungkinkan. Namun tidak demikian halnya dengan Rusia. Di sana, pasangan suami-istri tidak perlu repot-repot memikirkan biaya anak, karena semua itu ditanggung pemerintah.

“Perawatan selama hamil gratis, melahirkan gratis dan ketika anak pertama lahir dapat uang. Anak kedua dan seterusnya saat berusia 3 tahun dapat bantuan dana sekitar 100 juta rupiah…”

Kesaksian Rina senada dengan keterangan dari Associated Press (AP). Sebelumnya Putin menyatakan bahwa menurunnya pertumbuhan populasi merupakan krisis yang paling akut di Rusia. Dia menginginkan angka kelahiran meningkat.

“Untuk itu, pemerintah Rusia akan menyediakan subsidi tunai kepada pasangan yang memiliki anak lebih dari satu. Selain itu, mereka mendapatkan voucher sebesar 10.000 dollar (dengan kurs sekarang sekitar 140 juta rupiah) untuk biaya pendidikan, atau dana untuk memperbaiki rumah,” tulis ABC News, yang mengutip AP.

Bahkan di Ulyanovsk, salah satu provinsi Rusia, ada satu hari khusus bagi para pasangan. Semua pegawai hari itu diliburkan, agar fokus memberikan perhatian pada keluarga dan pasangan mereka. Program ini disambut sukacita.

“Yah, kami akan melahirkan para patriot. Ini sebagai ucapan terimakasih kami kepada negara dan pemimpin kami,” ucap seorang penduduk Ulyanovsk.

Tahun 2015, hutang Indonesia mencapai lebih dari 3.000 trilyun rupiah. Akibatnya, setiap bayi yang baru lahir telah menanggung beban hutang sebesar 13 juta rupiah. Lantas, bagaimana dengan bayi-bayi Rusia?

“Seluruh anak Rusia kecuali kategori kaya, dapat uang bulanan dari pemerintah hingga usia 7 tahun dan usia 2 tahun ke bawah dapat jatah susu atau makanan balita setiap bulan gratis.”

“Di Rusia orang miskin dapat tempat tinggal dan jatah uang bulanan. Di kelas anakku ada dua anak dari keluarga yang kurang mampu, dan karenanya semua kebutuhan sekolah, seragam, buku, makan siang, dll, dibayar pemerintah,” tulis Rina.

Begitupun dengan orang-orang yang kena PHK. Pemerintah Rusia memberikan gaji minimun (kalau di Indonesia disebuut UMR) selama tiga bulan, dan kebutuhan anak-anaknya menjadi tanggungan pemerintah sampai mereka mendapatkan pekerjaan baru dengan penghasilan diatas gaji minimum.

Jika mengacu pada undang-undang Rusia, anak-anak wajib untuk mengenyam pendidikan sekolah dasar dan menegah, tanpa dipungut biaya.

Untuk biaya pemeliharaan bangunan, keamanan, peralatan belajar mengajar, alat bantu belajar dan buku pelajaran disediakan gratis oleh pemerintah dengan menggunakan anggaran daerah. Jadi orang tua murid hanya perlu membeli buku-buku dan alat tulis. Sementara itu, Rusia juga menghapus kewajiban menggunakan seragam sekolah, sehingga para siswa bisa bersekolah menggunakan pakaian yang biasa mereka gunakan sehari-hari.

Dari manakah sumber dana ini? Menurut Odr.net, salah satu sumber dananya adalah dari pajak. Dana yang berasal dari rakyat, dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Meski demikian, bukan berarti tidak ada protes dari rakyat. Sebanyak 90% para orang tua memprotes karena mereka harus membayar untuk uang buku – yang menurut mereka cukup mahal. Namun kendati masalah ini telah dibahas oleh pemerintah Rusia, namun belum ada perubahan kebijakan.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, sebenarnya rakyat Rusia sangat beruntung. Apa jadinya jika mereka lahir di Indonesia, ketika mendapati bahwa hal-hal di atas tidak ditanggung oleh pemerintah?

Kalaupun biaya buku dan alat tulis dirasa mahal atau memberatkan, bukankah anak-anak mereka telah mendapatkan uang bulanan sejak masih bayi? Bukankah mereka juga memiliki voucher senilai 140 juta rupiah untuk biaya pendidikan. Tidak cukupkah uang sebanyak itu untuk membeli buku dan pena? 😀

Baca juga: Tentang Rusia (2) 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL