Sumber: republika.co.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Pemerintah telah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai rokok mulai awal tahun depan.  Rata-rata kenaikan tarif cukai sebesar 23 persen dan harga jual ecerannya sebesar 35 persen.

“Kenaikan average (rata-rata) 23 persen untuk tarif cukai, dan 35 persen dari harga jualnya yang akan kami tuangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK),” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Meskipun naik, tarif cukai dan harga jual rokok di Indonesia masih lebih murah dibandingkan beberapa negara lain seperti India, Jepang, Singapura Thailand, Filipina, dan Bangladesh.

Baca: BPS Sebut Kenaikan Tarif Cukai Rokok akan Sumbang Inflasi

Di Indonesia, harga sebungkus rokok berada di kisaran Rp 15.000-Rp 28.000. Sedangkan di negara-negara lain harganya bisa sampai ratusan ribu rupiah.

Sri Mulyani mengatakan, pihaknya telah mempertimbangkan seluruh aspek sampai akhirnya menaikkan cukai rokok. Salah satunya adalah peningkatan jumlah perokok muda.

“Aspek yang sekarang sangat menonjol adalah peningkatan dari jumlah perokok muda, perokok perempuan, dan utamanya dari porsi konsumsi masyarakat miskin,” ujarnya, Senin (16/9).

Selain itu, dia mengaku telah mempertimbangkan petani tembakau dan cengkeh serta buruh industri rokok terutama sigaret kretek tangan (SKT).

Kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) terhadap industri SKT lebih rendah dibandingkan industri sigaret kretek mesin (SKM). Sebab, industri SKT lebih banyak menyerap tenaga kerja.

“Beberapa industri yang menyerap tenaga kerja seperti SKT kenaikannya sebetulnya hanya 10 persen. Namun, SKM yang omzetnya bisa lebih dari Rp50 miliar itu kenaikannya lebih tinggi,” jelasnya. (sh/ekonomi.bisnis/cnbcindonesia)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*