LiputanIslam.com-Dalam pernyataan Presiden Jokowi pada Jumat (16/8), terdapat pernyataan bahwa bahwa ukuran pemberantasan korupsi harus diubah dari jumlah kasus dan pelaku yang ditangkap menjadi potensi korupsi yang bisa dicegah dan potensi kerugian negara yang bisa diselamatkan. Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel Capim KPK) Yenti Ganarsih menyetujui pernyataan tersebut.

“Kami sejalan dengan pandangan Presiden bahwa keberhasilan pemberantasan korupsi itu bukan OTT yang banyak. Justru semakin banyak OTT, kita gagal dalam pencegahan korupsinya,” kata Yenti di Jakarta, Sabtu (17/8).

Yenti mengatakan masih maraknya korupsi meski operasi tangkap tangan (OTT) banyak dilakukan menandakan penindakan selama ini belum menimbulkan efek jera. Oleh karena itu, lanjut dia, harus ada peningkatan sistem pemberantasan korupsi.

Baca juga: 2 September, Pansel Serahkan 10 Nama Capim KPK ke Presiden

“Jadi, harusnya orang tidak korupsi bukan karena takut ditangkap, tapi karena sistem yang tidak memungkinkan atau meminimalisir potensi korupsi itu. Di situlah pencegahannya,” kata Yenti.

Lebih jauh Yenti mengatakan, tantangan KPK ke depan salah satunya adalah tentang profesionalisme yang terkait dengan kemampuan teknis penegakan hukum itu sendiri. Misalnya, bagaimana agar tidak terjadi lagi penundaan penyidikan yang terlalu lama seperti penanganan kasus korupsi Garuda dan Pelindo II. (Ay/Antara)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*