presiden turki erdoganLiputanIslam.com — Sepertinya Presiden Turki benar-benar mengharapkan agar sekutu Barat-nya memenuhi janji. Tapi ada pertanyaan, memangnya siapa Erdogan? Seorang politisi yang cerdas? Seorang pria tua yang setiap saat bisa dibuang? Atau seorang pemain poker kelas dua yang duduk di meja para pengkhianat? —Costantino Ceoldo.

Baca: Thierry Meyssan: Perang Suriah Akan Terus Berlanjut, Kecuali…

Pertanyaan menusuk di atas sepertinya relevan untuk mengawali tulisan ini. Setidaknya untuk saat ini, ketika Turki berang karena perjanjiannya dengan Uni Eropa yang berkaitan dengan krisis pengungsi Suriah ternyata tidak berjalan dengan lancar.

Mari kita melongok kembali ke belakang.

Membanjirnya pengungsi Suriah ke Eropa merupakan masalah pelik (dan mungkin sebelumnya tidak diprediksi akan seserius ini) oleh negara-negara Eropa yang mendukung pemberontakan di Suriah. Ibarat bermain api, mereka akhirnya terbakar. Tetapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.

Lalu Uni Eropa pun mencoba merayu Turki – mengingat posisi negara ini yang menjadi pintu keluar-masuk Suriah. Akhirnya, Uni Eropa dan Turki menyepakati perjanjian, yang bertujuan mengekang arus masuk pengungsi ke Eropa, yang merupakan krisis pengungsi terbesar wilayah itu sejak Perang Dunia Kedua. Berikut ini butir-butir kesepakatan antara Turki dengan Uni Eropa:

  1. Semua migran tak berdokumen resmi yang menyeberang dari Turki ke Yunani mulai 20 Maret akan dikirim kembali ke Turki. Setiap migran yang datang akan ditinjau secara menyeluruh oleh aparat Yunani.
  2. Untuk setiap migran asal Suriah yang dikembalikan ke Turki, migran Suriah yang telah berada di Turki akan dikirim ke Uni Eropa. Prioritas akan diberikan bagi mereka yang belum mencoba masuk Uni Eropa secara ilegal dan jumlahnya dibatasi hingga 72.000 orang.
  3. Warga Turki akan diberikan visa Schengen yang berlaku di semua negara anggota Uni Eropa mulai Juni mendatang.
  4. Uni Eropa akan mempercepat dana bantuan sebesar 3 miliar euro (Rp44,2 triliun) ke Turki untuk menolong para migran.
  5. Baik Uni Eropa maupun Turki sepakat menyegarkan kembali permintaan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa. Perundingan akan dimulai pada Juli mendatang.

Melihat bagaimana kalapnya Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu kepada Uni Eropa, bisa disimpulkan bahwa kesepakatan ini berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan Turki.

“Kesepakatan yang kami lakukan dengan Uni Eropa sangat jelas. Kami menginginkan tragedi kemanusiaan ini berakhir, Uni Eropa memberlakukan bebas visa bagi warga Turki, dan pertimbangan kembali bagi Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa. Namun jika Uni Eropa tidak menepati janji, maka kami akan membatalkan semua perjanjian,” ucapnya, seperti dilansir RT (19/4/2016).

Rasa skeptis Turki tercermin pada awal bulan ini ketika Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa “saat ini adalah kondisi tepat untuk memperingatkan Uni Eropa, atau kalau tidak, maka perjanjian tersebut akan gagal”. Pernyataannya ini menyiratkan bahwa Erdogan sendiri tidak memiliki kepercayaan yang cukup terhadap Uni Eropa, meskipun hal ini menjadi sangat anomali, karena meskipun menyadari bahwa Turki mungkin dianggap tak lebih dari sekedar “anak bawang”, namun Erdogan dan pejabat tinggi Turki lainnya sangat berambisi menjadi bagian dari Uni Eropa.

Pertimbangan Uni Eropa

Turki berpenduduk 70 juta orang lebih. Gagasan memberikan visa yang bisa digunakan di seluruh negara Uni Eropa bisa dibilang terlalu nekad, atau mendekati gila. Bagaimana tidak, Turki memiliki rekam jejak dalam mendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah (tidak kurang bukti dan saksi mengenai hal ini). Turki juga menjadi pintu keluar masuk bagi teroris. Bagaimana jika di antara warga Turki tersebut adalah anggota, atau simpatisan teroris? Terlepas dari siapa dalang di balik serangan teror di Eropa, namun yang banyak disorot: pelaku dari serangan tersebut adalah kelompok-kelompok teroris ISIS.

Harian Jerman Die Welt menerbitkan laporan, bahwa para pejabat Uni Eropa mudah saja untuk menerbitkan klausul yang secara otomatis menangguhkan perjanjian bebas visa atas berbagai pertimbangan, misalnya tentang pelanggaran hak asasi manusia. Pemerintah Erdogan dituduh telah menempatkan pengungsi Suriah di zona perang yang membahayakan, melakukan penganiayaan kepada etnis Kurdi di Turki, juga membungkam pers dan oposisi. Alasan-alasan itu bisa dijadikan dalih untuk mengingkari perjanjian yang telah dibuat.

Sementara itu, kesepakatan repatriasi tampaknya telah menguntungkan Uni Eropa. Frontex (lembaga Uni Eropa di perbatasan) menyebutkan bahwa pengungsi yang melakukan perjalanan dari Turki ke Eropa pada bulan Maret hanya 26.640 orang saja, setengah dari jumlah pengungsi yang masuk ke Eropa pada bulan Februari. Yang tidak memenuhi syarat langsung dideportasi.

Kita belum tahu, bagaimana permainan ini akan berakhir. Erdogan masih berambisi, seperti biasa. Tetapi, Anda sudah terlalu sering ditipu, Pak Tua. Mungkin di masa mendatang, sebaiknya Anda lebih bijak dan berhati-hati ketika menyepakati perjanjian dengan Uni Eropa atau siapapun yang Anda anggap sebagai sekutu. Ingatlah, keledai pun tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL