meyssanLiputanIslam.com –Perang berlangsung selama lima tahun di Suriah, jutaan penduduk setempat telah menjadi pengungsi. Sungguh menyayat hati, mengingat dulu, Suriah adalah “rumah” bagi para pengungsi, baik pengungsi Palestina dan Irak.

Bulan ini, sekitar 10.000 pasukan Suriah diterjunkan untuk merebut kembali kota Aleppo, yang saat ini dikuasai oleh kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Setelah berhasil membebaskan Palmyra, semangat pasukan Suriah dan sekutunya semakin berkobar. Pergerakan militer bukan lagi bersifat defensif, melainkan ofensif.

Mungkinkah perang Suriah akan segera berakhir? Bagaimana cara menghentikannya? Berikut ini adalah wawancara Costantino Ceoldo-Pravda dengan jurnalis, penulis, dan analisis ternama Thierry Meyssan, yang diterjemahkan dari Voltairenet.org (11/4/2016)

Costantino Ceoldo – Pravda: Mr. Meyssan, mungkin Anda mengingatkan pembaca bagaimana krisis Suriah dimulai, dan mengapa?

Thierry Meyssan: Ada dua cerita yang bertolak belakang untuk menjelaskan peristiwa di Suriah. Menurut anggota NATO, demonstrasi di Daraa, pada tahun 2011 merupakan jiwa dari Arab Springs yang menyeber ke negara Suriah. Tapi versi lain juga harus dipertimbangkan.

Versi kedua, Kongres (Amerika Serikat) memilih untuk memerangi Suriah pada tahun 2003 (Syria Accountability Act). Colin Powell mencoba untuk melakukan demokratisasi ala AS pada tahun 2004 (Tunis summit of the Arab League), AS dan Israel membunuh mantan perdana Menteri Lebanon Rafic Hariri pada tahun 2005 dan menuduh Presiden Lahoud dan Presiden Assad yang melakukan kejahatan tersebut (UN Mehlis Commission, Special Tribunal for Lebanon). Israel menyerang Hizbullah pada tahun 2006 dan berharap bisa meneruskannya ke Suriah. CIA mengorganisir sayap oposisi Suriah dan Ikhwanul Muslimin pada tahun 2007 (The salvation Front).

Begitu pula dengan demonstrasi di Daraa, yang dilakukan dengan cara-cara yang sama. Selanjutnya mereka juga bergerak ke Ukraina. Berbicara tentang demonstrasi di Daraa ini, Al-Jazeera bersaksi bahwa seorang anak laki-laki disiksa oleh pihak kepolisian. Tetapi tuduhan ini tidak pernah dibuktikan. Benar-benar tidak pernah.

erdoganPravda: Negara monarkhi petrodolar Teluk dan Yordania terlibat dalam tragedi di Suriah, tetapi Turki adalah aktor utama. Apa yang dijanjikan kepada Presiden Erdogan sehingga ia melakukan petualangan yang tragis ini?

Thierry Meyssan: Presiden Erdogan selama satu dekade adalah seorang pemimpin yang moderat. Tapi pada tahun 2011, sebuah perjanjian rahasia ditandatangani dengan Perancis. Menurut dokumen ini, Turki terlibat dalam perang melawan Libya dan juga dalam perang berikutnya melawan Suriah. Perancis berjanji untuk menyelesaikan permasalahan “Kurdish Question” dengan menciptakan satu negara baru bagi mereka di luar wilayah Turki.

Perhatikan bahwa ide untuk menciptakan negara baru bagi orang-orang Kurdi Irak, Kurdi Suriah, Kurdi Turki (mereka harus diusir dari negara Turki), kemudian diadopsi oleh AS. Menurut “peta baru” yang diterbitkan pada September 2013 oleh New York Times, dua negara lagi harus diciptakan di Irak dan Suriah: Kurdistan dan Sunnistan. Sunnistan kemudian melahirkan ISIS. Ide mengusir Kurdi Turki adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Namun menurut Presiden Erdogan, Turki sejati bukanlah orang Kurdi dan Kristen.

Pravda: Sepertinya Presiden Turki benar-benar mengharapkan agar sekutu Barat-nya memenuhi janji. Tapi ada pertanyaan, memangnya siapa Erdogan? Seorang politisi yang cerdas? Seorang pria tua yang setiap saat bisa dibuang? Atau seorang pemain poker kelas dua yang duduk di meja para pengkhianat?

Thierry Meyssan: Pada awalnya, Erdogan adalah seorang gangster di jalan-jalan Istanbul. Kemudian ia masuk di Milli Gorus, sebuah kelompok ekstremis kecil yang ingin mengembalikan Turki kekhalifahan. Pada tahun 1999, ia ditangkap dan dipenjara karena menyerukan kudeta seperti Hitler pada tahun 1923. Kemudian, ia mengatakan ia mundur dari Milli Gorus dan menjadi seorang demokrat. Ia mendirikan AKP dan, dengan bantuan dari AS, ia berhasil terpilih sebagai Perdana Menteri.

Setelah meletusnya Arab Springs, yang berarti awal dari operasi CIA untuk menghancurkan pemerintahan Arab sekuler (Suriah-red), ia memutuskan untuk mengendalikan pemerintahannya sendiri. Erdogan sekarang adalah seorang diktator mode lama: membangun istana raksasa, menutup media oposisi, menghancurkan bangunan-bangunan milik oposisi, dan memulai kembali perang saudara terhadap Kurdi. Menurutnya, 5.000 orang Kurdi telah ditumbas dalam beberapa bulan terakhir.

Bilal ISISPravda: Apakah perang di Suriah juga merupakan “bisnis keluarga” untuk keluarga Erdogan?

Thierry Meyssan: Sejak awal perang di Suriah, dinas rahasia Turki (MIT) telah melakukan penjarahan di utara Suriah. Mereka mencuri semua mesin di Aleppo, yang merupakan paru-paru industri negara Suriah. Saya mencatat, setelah deklarasi kekhalifahan oleh ISIS, Bilal Erdogan yang merupakan putera Erdogan, adalah sosok yang mengatur lalu lintas minyak jarahan ISIS. Fakta ini telah disajikan oleh intelejen Rusia kepada Dewan Keamanan PBB.

Pravda: Sejauh mana Turki siap untuk konfrontasi dengan Rusia?

Thierry Meyssan: Turki memiliki tentara dalam jumlah yang besar dan mumpuni. Bahkan dari segi jumlah, menduduki peringkat kedua di dalam NATO. Namun militer Turki tidak melakukan konfrontasi/ menentang Rusia, dan tidak mendukung ide Milli Gorus-nya Presiden Erdogan.

Pravda: Bagaimana masa depan Erdogan?

Thierry Meyssan: Sekarang, ada kesepakatan antara Moskow dan Washington untuk menyelamatkan orang-orang Turki dari diktator ini yang melakukan kecurangan dalam pemilu. Itulah sebabnya sekarang AS dan Rusia memberikan senjata kepada Kurdi untuk melawan Erdogan. Di saat yang sama, Moskow sedang mempersiapkan dokumen besar untuk melawan Erdogan secara pribadi, ataupun melawan Turki sebagai sebuah negara. Duta Churkin sudah memberikan dua laporan dari agen rahasia Rusia ke Dewan Keamanan PBB. Yang pertama adalah adanya hubungan antara lembaga-lembaga Turki dengan jihadis. Yang kedua terkait dengan pertanggungjawaban Turki terhadap kelompok Al Qaeda dan ISIS (yang saat ini mendapat dukungan dari Turki-red).

Pravda: Suriah telah bertahan selama lima tahun atas agresi milisi Islamis. Kemudian enam bulan yang lalu ada intervensi dari Moskow. Bagaimana kondisi Tentara Suriah ketika Moskow melakukan intervensi?

Thierry Meyssan: Tentara Suriah (SAA) kelelahan. Karena sanksi, mereka tidak memiliki senjata dan amunisi baru sejak tahun 2005. Tapi jihadis didukung oleh NATO, negara-negara Teluk dan Turki. Mereka menerima senjata terbaik, amunisi setiap hari dan yang paling penting: satelit yang menggambarkan lokasi SAA. Perang ini begitu brutal, SAA banyak mengalami kerugian –yang jauh lebih parah jika dibandingkan dengan perang melawan Israel.

Kehadiran Rusia sebenarnya diputuskan pada tahun 2012, namun tentara Rusia baru benar-benar tiba pada akhir tahun 2015. Selama 3 tahun, Rusia menyiapkan senjata baru yang luar biasa. Sebelum mereka tiba secara resmi, mereka telah memberikan senjata modern ke Suriah. Sekarang SAA kembali menunjukkan kedahsyatannya dan mampu menghadapi jihadis. Selama tahun-tahun terakhir sifatnya hanya defensif, mencoba untuk melindungi warga negara. Sekarang SAA melakukan operasi ofensif, berusaha untuk membebaskan wilayah yang dikontrol teroris.

Pravda: Dan sekarang?

Thierry Meyssan: Perang ini akan berlanjut, kecuali kedatangan jihadis-jihadis baru bisa dihentikan. Anda dapat membunuh mereka, tapi bala bantuan tiba setiap hari melalui Turki.

Pravda: Apa perspektif akhir perang menurut pendapat Anda?

Thierry Meyssan: Saya pikir negosiasi Jenewa tidak akan menghasilkan solusi. Karena “delegasi oposisi” di Jenewa hanya disusun oleh orang yang dipilih oleh pihak asing tanpa adanya dukungan dari dalam negeri Suriah. Mereka berharap bisa menjadi menteri seperti Chalabi. Tapi perang di Suriah sama sekali bukanlah revolusi. Perang Suriah adalah perang melawan dua model masyarakat untuk Timur Tengah. Lebih dari 80 persen dari jihadis adalah orang asing, dan mereka menerima dukungan yang sangat kecil dari jumlah populasi, hanya sekitar 5 persen dari penduduk Suriah.

Ketika AS menciptakan gerakan jihadis pada tahun 1978, mereka tidak pernah berpikir gerakan itu akan menjadi begitu besar dan didukung oleh orang-orang Islam. Yang baru adalah bahwa para pemimpin jihad yang dibiayai oleh negara-negara Teluk, masing-masing memiliki sekitar 3 istri dan 15 anak-anak. Sekarang mereka didukung oleh orang-orang yang menentang kontrol terhadap kesuburan (KB) maupun cara hidup modern. Sangat aneh melihat perang yang terjadi hari ini di Suriah, sebuah negara yang memberikan hak suara dan kesetaraan bagi perempuan di waktu yang bersamaan dengan Rusia, 25 tahun sebelum Eropa Barat melakukannya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL