say no to terorismePoso, LiputanIslam.com— Pembunuhan sadis dengan menggorok leher ala kelompok teroris yang lazim terjadi di Irak dan Suriah, kini terjadi di Poso. M Fadli, Warga Desa Bulog Taunca, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Poso, Sulawesi Tengah, tewas digorok sekelompok orang tak dikenal pada Kamis, 18 September 2014.

“Fadli adalah masyarakat biasa. Dia bekerja sebagai sopir truk dan berusia 35 tahun. Dia dibunuh meski motif pastinya sedang kita dalami,” kata Kapolres Poso AKBP Susnadi, seperti dilansir Beritasatu.

Kapolda Sulteng, Brigjen Ari Dono Sukmanto tak membantah jika pembunuhan ini diduga bermotif tuduhan jika korban adalah mata-mata polisi.

“Korban bukan ditembak, tapi disayat lehernya lebar 2 cm dan panjang 25 cm,” katanya.

Seperti diketahui, kelompok sel teroris Santoso yang beroperasi di Poso, Sulawesi Tengah diduga semakin aktif menindak orang-orang sipil, yang mereka duga bekerja sebagai mata-mata untuk polisi.

Polisi telah memintai keterangan tiga saksi. Berdasarkan kesaksian isteri korban, Syahni yang disampaikan oleh orang tuanya, menyebut, para pelaku membawa senjata otomatis laras panjang.

Menurutnya, pada Kamis (18/9) sekitar pukul 21:00 wita para pelaku mengetuk pintu rumah, setelah dibuka, isterinya kaget melihat pria mengenakan topeng.

Mereka langsung menyeret suaminya yang sedang duduk nonton tv keluar rumah. Sebagian mereka menodongkan senjata otomatis laras panjang ke isterinya untuk tetap diam di dalam rumah.

Para pelaku  sempat menganiaya dan memaki korban didepan istrinya sebelum diseret keluar rumah dan akhirnya dibunuh dengan cara digorok lehernya didepan rumahnya.

Kapolres Poso AKBP. Susnadi mengaku, dalam olah TKP, Jumat (19/9/2014) siang Polisi menemukan beberapa bukti baru yang mengarah pada kelompok sipil bersenjata di Poso yang selama ini menjadi DPO Polisi yang bersembunyi di hutan-hutan Poso.

Sebelumnya, empat warga Turki yang diduga terkait dengan ISIS ditangkap di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Sabtu, 13 September 2014.

Keempat warga Turki tersebut itu bernama A Basyit, A Bozoghlan, A Bayram dan A Zubaidan. Keempatnya disinyalir hendak bergabung dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur, kelompok yang dipimpin oleh Santoso. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL